"Sejarah tidak hanya menceritakan masa lalu, tetapi juga membentuk cara kita memandang masa kini."
Tidak banyak daerah di Indonesia yang mengalami paradoks sebesar Bojonegoro. Di satu sisi, kabupaten yang berada di sepanjang aliran Bengawan Solo ini pernah dikenal sebagai salah satu wilayah termiskin di Pulau Jawa. Kekeringan, banjir, gagal panen, hingga wabah penyakit menjadikan Bojonegoro sebagai contoh klasik daerah yang terjebak dalam kemiskinan struktural selama masa kolonial. Bahkan, sejumlah catatan kolonial menggambarkan masyarakatnya sebagai kelompok yang individualistis, sulit membangun organisasi yang bertahan lama, dan kurang memiliki semangat kolektif untuk berkembang.
Di sisi lain, Bojonegoro hari ini justru menjadi salah satu daerah dengan pendapatan terbesar di Jawa Timur berkat sektor minyak dan gas bumi. Jalan-jalan desa semakin baik, investasi mulai tumbuh, ribuan pelaku usaha baru bermunculan, dan industri lokal berhasil menembus pasar nasional. Kabupaten yang dahulu dicap sebagai "wilayah kemiskinan endemik" kini menjadi salah satu pusat produksi energi nasional.
Kontras inilah yang melahirkan sebuah pertanyaan penting bahwa benarkah masyarakat Bojonegoro sulit berkembang karena karakter budayanya, ataukah kita sedang mewarisi cara pandang kolonial yang terus direproduksi tanpa pernah diuji kembali?
Pertanyaan tersebut kembali mengemuka ketika sebuah unggahan media sejarah lokal mengutip pandangan seorang penulis Belanda bernama Willis, yang menyebut masyarakat Bojonegoro memiliki kecenderungan individualistis, sulit membangun organisasi yang bertahan lama, dan lebih mengutamakan kepentingan pribadi dibanding kepentingan bersama. Dalam narasi tersebut, karakter masyarakat seolah menjadi salah satu penyebab mengapa Bojonegoro tertinggal selama bertahun-tahun.
Sekilas, pendapat itu tampak masuk akal. Selama lebih dari satu abad, Bojonegoro memang identik dengan kemiskinan. Namun, persoalannya bukan terletak pada benar atau salahnya pendapat Willis. Persoalannya adalah apakah sebuah karakter sosial dapat dijadikan penjelasan utama atas kemiskinan yang berlangsung selama puluhan bahkan ratusan tahun? Pertanyaan ini penting karena sejarah pembangunan modern menunjukkan bahwa kemiskinan hampir selalu lahir dari interaksi yang kompleks antara faktor geografis, kebijakan negara, struktur ekonomi, kualitas institusi, dan kemampuan masyarakat beradaptasi. Menyederhanakan persoalan tersebut menjadi semata-mata hanya persoalan budaya justru berisiko mengabaikan akar masalah yang sebenarnya.









