Dalam kajian ilmu sejarah, sikap semacam ini dikenal sebagai pembacaan historiografi yang kritis. Arsip kolonial memang merupakan sumber sejarah yang sangat penting, tetapi arsip bukanlah cermin yang sepenuhnya objektif. Sebagian besar arsip Hindia Belanda ditulis oleh pejabat administrasi kolonial untuk kepentingan pemerintahan. Dengan demikian, arsip lebih banyak menggambarkan bagaimana pemerintah kolonial melihat masyarakat pribumi daripada bagaimana masyarakat memahami dirinya sendiri. Karena itu, membaca arsip tidak berarti menerima seluruh isinya sebagai kebenaran mutlak.
Narasi mengenai "kemiskinan endemik" Bojonegoro sendiri banyak dipopulerkan melalui karya sejarawan Belanda C.L.M. Penders dalam Bojonegoro, 1900–1942: A Story of Endemic Poverty in North-East Java. Berdasarkan laporan-laporan pemerintah kolonial, Penders menunjukkan bahwa Bojonegoro mengalami kombinasi persoalan ekologis dan ekonomi yang sangat berat. Banjir Bengawan Solo menghancurkan sawah ketika musim hujan, sementara musim kemarau yang panjang menyebabkan kekeringan berkepanjangan. Sebagian besar lahan pertanian masih bergantung pada air hujan sehingga produktivitasnya rendah. Wabah malaria, minimnya infrastruktur, serta lemahnya sistem irigasi semakin memperburuk keadaan.
Dengan kondisi seperti itu, tidak mengherankan apabila pemerintah kolonial berkali-kali menjadikan Bojonegoro sebagai contoh wilayah yang membutuhkan perhatian khusus. Namun, menariknya, bahkan dalam karya Penders sendiri, penyebab kemiskinan lebih banyak dijelaskan melalui faktor lingkungan, kebijakan kolonial, dan struktur ekonomi daripada karakter masyarakat. Artinya, narasi bahwa masyarakat Bojonegoro miskin karena sifat individualistis sebenarnya bukanlah kesimpulan utama yang lahir dari penelitian sejarah tersebut.
Di sinilah penelitian sejarah mutakhir memberikan perspektif yang lebih segar. Dalam artikelnya yang terbit pada 2024 berjudul Shared Poverty as a Myth, Arif Akhyat menunjukkan bahwa istilah "kemiskinan endemik" cenderung menyederhanakan realitas sosial Bojonegoro. Penelitian tersebut menemukan bahwa masyarakat pedesaan Bojonegoro tidak pasif menghadapi kemiskinan. Mereka melakukan migrasi musiman, mendiversifikasi mata pencaharian, membangun jaringan ekonomi lokal, serta mengembangkan berbagai strategi bertahan hidup. Dengan kata lain, masyarakat Bojonegoro bukanlah korban yang menyerah pada keadaan, melainkan kelompok yang terus beradaptasi terhadap tekanan lingkungan dan ekonomi.
Temuan tersebut mengubah cara kita membaca sejarah. Kemiskinan bukan lagi dipahami sebagai konsekuensi dari karakter masyarakat, melainkan sebagai hasil interaksi panjang antara kondisi geografis, kebijakan kolonial, dan terbatasnya akses terhadap sumber daya ekonomi. Perspektif ini juga sejalan dengan pemikiran ekonom Douglass North yang menekankan bahwa kualitas institusi lebih menentukan perkembangan ekonomi dibanding karakter budaya semata. Sementara Daron Acemoglu dan James Robinson menjelaskan bahwa daerah kaya sumber daya sekalipun dapat tetap tertinggal apabila institusinya tidak mampu menciptakan kesempatan yang inklusif bagi masyarakat.
Apabila teori-teori tersebut digunakan untuk membaca Bojonegoro, maka fokus analisis bergeser. Pertanyaannya bukan lagi mengapa masyarakat Bojonegoro dianggap sulit berkembang, melainkan bagaimana sejarah kolonial membentuk struktur ekonomi yang membatasi kesempatan masyarakat selama bertahun-tahun.
Yang menarik, realitas Bojonegoro masa kini justru memperlihatkan gambaran yang berbeda dari stigma tersebut. Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi nonmigas Bojonegoro mencapai sekitar 5,15 persen, jauh lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi keseluruhan yang dipengaruhi fluktuasi produksi migas. Jumlah pelaku UMKM juga terus meningkat hingga mencapai lebih dari 91 ribu unit usaha pada tahun 2024. Angka ini menunjukkan bahwa denyut ekonomi masyarakat tidak lagi bertumpu pada pertanian tradisional maupun sektor migas semata, tetapi mulai berkembang melalui perdagangan, jasa, industri pengolahan, dan kewirausahaan lokal.
Fenomena ini sulit dijelaskan apabila kita tetap berpegang pada anggapan bahwa masyarakat Bojonegoro tidak memiliki etos kewirausahaan. Sebaliknya, data tersebut menunjukkan bahwa ketika kesempatan ekonomi terbuka, masyarakat mampu beradaptasi dan membangun aktivitas ekonomi baru. Salah satu contoh menarik adalah lahir dan berkembangnya Realfood, perusahaan minuman kesehatan berbasis bird's nest yang berasal dari Bojonegoro dan berhasil menembus pasar nasional. Kehadiran perusahaan seperti Realfood membuktikan bahwa inovasi industri tidak selalu lahir dari kota-kota metropolitan. Ia juga menunjukkan bahwa daerah yang dahulu dikenal sebagai simbol kemiskinan kolonial kini mampu melahirkan perusahaan dengan daya saing tinggi.
Menguji Karakter Masyarakat Bojonegoro: Antara Stigma Kolonial, Modal Sosial, dan Bukti Empiris
Salah satu bagian yang paling menarik sekaligus paling problematis dari narasi mengenai Bojonegoro adalah anggapan bahwa masyarakatnya memiliki karakter yang menjadi penghambat kemajuan. Dalam beberapa catatan kolonial, termasuk pandangan Willis yang kembali diangkat oleh berbagai tulisan sejarah populer, masyarakat Bojonegoro digambarkan sebagai kelompok yang cenderung individualistis, sulit membangun organisasi yang bertahan lama, dan kurang memiliki semangat kolektif. Gambaran ini kemudian berkembang menjadi semacam penjelasan sederhana mengapa Bojonegoro selama bertahun-tahun identik dengan kemiskinan.
Namun, apakah karakter suatu masyarakat benar-benar dapat dijadikan variabel utama untuk menjelaskan pembangunan ekonomi?
Dalam ilmu sosial modern, jawaban atas pertanyaan tersebut cenderung berhati-hati. Karakter budaya memang memengaruhi perilaku ekonomi, tetapi hampir tidak pernah menjadi faktor tunggal. Para ekonom kelembagaan seperti Douglass North maupun Daron Acemoglu dan James Robinson justru menunjukkan bahwa kualitas institusi, kepastian hukum, akses terhadap pendidikan, distribusi sumber daya, dan kesempatan ekonomi jauh lebih menentukan dibanding sekadar sifat budaya masyarakat.
Artinya, apabila sebuah wilayah mengalami kemiskinan selama puluhan tahun, penyebabnya lebih mungkin merupakan hasil interaksi berbagai faktor daripada akibat karakter masyarakat semata.
Perspektif inilah yang penting ketika membaca ulang sejarah Bojonegoro. Jika kita menelusuri kehidupan sosial masyarakat Bojonegoro, justru ditemukan berbagai bentuk modal sosial yang bertahan hingga sekarang. Dalam kehidupan pedesaan masih dikenal tradisi sambatan, yaitu budaya saling membantu ketika membangun rumah, mengolah sawah, atau mengadakan hajatan. Ada pula tradisi jagongan, ruang berkumpul masyarakat untuk berdiskusi mengenai persoalan sehari-hari maupun urusan desa. Tradisi sedekah bumi, nyadran, pengajian rutin, hingga musyawarah desa juga memperlihatkan bahwa masyarakat Bojonegoro memiliki ruang-ruang kolektif yang cukup kuat.
Fenomena tersebut bertolak belakang dengan gambaran bahwa masyarakat Bojonegoro sepenuhnya individualistis. Justru berbagai tradisi lokal menunjukkan bahwa kerja sama sosial telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pedesaan.
Dalam teori Social Capital, Robert Putnam menjelaskan bahwa pembangunan tidak hanya ditentukan oleh modal finansial dan sumber daya alam, tetapi juga oleh tingkat kepercayaan (trust), jaringan sosial (network), dan norma kerja sama (norms of reciprocity) yang berkembang dalam masyarakat. Daerah yang memiliki modal sosial tinggi cenderung lebih mudah membangun kerja sama ekonomi, mengembangkan usaha, dan menyelesaikan berbagai persoalan publik secara bersama-sama.
Jika teori tersebut diterapkan pada Bojonegoro, maka keberadaan tradisi gotong royong, organisasi keagamaan, kelompok tani, koperasi, hingga komunitas UMKM justru menunjukkan bahwa masyarakat Bojonegoro memiliki fondasi sosial yang tidak lemah. Persoalannya bukan terletak pada ada atau tidaknya modal sosial, melainkan bagaimana modal tersebut dapat dikonversi menjadi produktivitas ekonomi melalui dukungan institusi dan kebijakan yang tepat.
Hal ini sekaligus menjadi pengingat bahwa budaya bukanlah sesuatu yang statis. Masyarakat berubah mengikuti perubahan zaman. Karakter yang diamati seorang penulis kolonial pada awal abad ke-20 tidak serta-merta dapat digunakan untuk menggambarkan masyarakat Bojonegoro abad ke-21. Menggeneralisasi karakter sebuah masyarakat berdasarkan satu periode sejarah sama problematisnya dengan menyimpulkan bahwa seluruh masyarakat Indonesia hari ini masih memiliki karakter yang sama seperti pada masa kolonial.
Lebih jauh lagi, sejarah Bojonegoro justru memperlihatkan kemampuan masyarakat untuk terus beradaptasi terhadap perubahan. Ketika pertanian mengalami tekanan akibat banjir dan kekeringan, sebagian masyarakat memilih melakukan migrasi musiman ke daerah lain. Sebagian lainnya mengembangkan perdagangan kecil, menjadi perajin, atau bekerja di sektor nonpertanian. Strategi-strategi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat tidak pasif menghadapi keadaan. Mereka terus mencari cara untuk bertahan.
Temuan tersebut sejalan dengan penelitian Arif Akhyat (2024) yang menunjukkan bahwa masyarakat Bojonegoro memiliki berbagai strategi adaptasi terhadap kemiskinan. Karena itu, istilah endemic poverty lebih tepat dipahami sebagai kondisi struktural yang diwariskan oleh lingkungan dan kebijakan kolonial daripada sebagai konsekuensi dari karakter masyarakat.
Apabila benar masyarakat Bojonegoro memiliki karakter yang menghambat kemajuan ekonomi, maka asumsi tersebut seharusnya masih dapat dibuktikan melalui kondisi ekonomi saat ini. Akan tetapi, data justru menunjukkan arah yang berbeda.
Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Bojonegoro mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Data Dinas Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Mikro mencatat bahwa pada tahun 2024 terdapat sekitar 91.728 UMKM, meningkat dari sekitar 78 ribu unit usaha pada tahun 2020. Pertumbuhan tersebut memperlihatkan bahwa semakin banyak masyarakat yang memilih menjadi pelaku usaha dibanding hanya bergantung pada sektor pertanian tradisional.
Fenomena ini penting dicermati. Kewirausahaan pada dasarnya membutuhkan keberanian mengambil risiko, kemampuan membangun jaringan, membaca peluang pasar, dan berinovasi. Jika masyarakat Bojonegoro benar-benar tidak memiliki etos kewirausahaan sebagaimana sering distereotipkan, maka sulit menjelaskan mengapa jumlah pelaku usaha justru meningkat secara konsisten dalam beberapa tahun terakhir.
Transformasi tersebut juga terlihat pada struktur ekonomi daerah. Meskipun Bojonegoro dikenal sebagai salah satu daerah penghasil minyak terbesar di Indonesia, pertumbuhan ekonomi nonmigas justru menunjukkan performa yang cukup baik. Pada tahun 2024, ekonomi nonmigas Bojonegoro tumbuh sekitar 5,15 persen, jauh lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi keseluruhan yang dipengaruhi fluktuasi produksi minyak.
Data tersebut mengirimkan pesan penting. Aktivitas ekonomi masyarakat tidak lagi hanya bergantung pada migas. Sektor perdagangan, jasa, industri pengolahan, konstruksi, transportasi, dan berbagai usaha lokal mulai memainkan peran yang semakin besar dalam menopang perekonomian daerah. Perubahan ini tidak mungkin terjadi apabila masyarakat tidak mampu beradaptasi terhadap perubahan ekonomi.
Realfood dan Lahirnya Optimisme Baru
Salah satu contoh yang menarik untuk menggambarkan transformasi tersebut adalah Realfood. Perusahaan minuman kesehatan berbasis bird's nest ini berkembang dari Bojonegoro dan berhasil membangun pasar hingga tingkat nasional. Dalam beberapa tahun terakhir, Realfood bahkan memperluas jangkauan produknya ke pasar internasional melalui berbagai jaringan distribusi dan ekspor.
Kehadiran Realfood memiliki makna yang lebih besar daripada sekadar keberhasilan sebuah perusahaan. Ia menunjukkan bahwa inovasi, riset produk, pengembangan merek, hingga strategi pemasaran modern dapat tumbuh dari daerah yang dahulu dicap sebagai wilayah miskin. Bojonegoro tidak lagi hanya dikenal sebagai daerah penghasil minyak, tetapi juga mulai melahirkan industri berbasis inovasi yang memiliki nilai tambah tinggi.









