Mengarungi sunyi dan remah cemas yang tumpah pada keheningan jam 1 pagi. Kumpulan puisi 'Mengeja Negeri Waktu Dini Hari' karya Nurul Hidayah.
Puisi yang Kutulis saat Kita Masih WNI di Jam Satu Pagi
/pukul satu pagi/
selimut mengajakku berdamai,
bantal merayuku tuk berkunjung ke negeri tanpa berita buruk
tapi layar kecil ini;
masih menyimpan harapan
barangkali bangun tidur nanti
aku tak perlu malu mengaku WNI
/pukul dua pagi/
mungkin kabar baik tengah diadili di meja-meja rapat
atau mungkin ia sedang mampir ke warteg?
menghitung berapa harga paru
sebab mereka tak mampu membayar alat pemadam
/pukul tiga pagi/
aku menyegarkan layar
entah sekali dua kali
atau berapa ratus kali
makin tahu, makin tahi
prestasi itu-itu lagi:
korupsi, inflasi, dan si si lainnya
/pukul empat pagi/
terus kunanti
walau mata makin sayu
dan pipi kian sendu.
'kan kubuktikan pada angin
'kan kutunjukkan pada antek-antek asing
dan kupamerkan pada sepasang bantal tidur
bahwa masih ada alasan
agar aku tak perlu malu mengaku WNI
/dan pukul lima pagi/
mataku masih melek
meratapi akal sehat yang makin pendek
astaga!
bibirku merutuk
tutur segala sumpah terkutuk.
barangkali sedari awal memang bantal itu lebih waras dariku
bisiknya,
"tidurlah, berita baik sudah raib di sini,
hangus bersama jutaan hektare yang terbakar."
Magelang, 2026
Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab