Runtut.com

Rentetan Kebakaran Landa Hutan Wonogiri, Aparat Ingatkan Warga Waspadai

Kebakaran melanda hutan dan lahan di Wonogiri pada 21–23 Agustus 2026. Gunung Gandul hingga Jatiroto terbakar.

5 menit baca
1
Tim gabungan melakukan pemadaman.
Tim gabungan melakukan pemadaman. — Foto: Polres Wonogiri

WONOGIRI - Kebakaran hutan dan lahan kembali melanda sejumlah kawasan di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, dalam beberapa hari terakhir. Titik kebakaran dilaporkan muncul di kawasan Gunung Gandul, Gunung Pegat, hingga lahan Perhutani di Kecamatan Jatiroto.

Rentetan kejadian tersebut berlangsung di tengah kondisi cuaca panas dan kering yang membuat vegetasi mudah terbakar. Aparat kepolisian, TNI, pemadam kebakaran, Perhutani, relawan, dan warga dikerahkan untuk memadamkan api sekaligus mencegah kebakaran meluas.

Salah satu kebakaran terjadi di kawasan Gunung Gandul, Kelurahan Giripurwo, Kecamatan Wonogiri, pada Jumat (21/8/2026) malam. Polisi menerima laporan adanya titik api sekitar pukul 18.45 WIB. Petugas Polsek Wonogiri Kota bersama Perhutani kemudian mendatangi lokasi dan menemukan api membakar tumpukan daun kering.

Kapolsek Wonogiri Kota IPTU Pradana Dwi Atmaja mengatakan api berhasil dipadamkan sehingga tidak merembet ke kawasan hutan di sekitarnya. Namun, asal api saat itu belum dapat dipastikan.

Ia mengimbau masyarakat tidak membakar sampah maupun meninggalkan sumber api secara sembarangan, terutama di sekitar kawasan hutan yang dipenuhi daun dan ranting kering.

“Kalau melihat asap atau titik api di sekitar hutan, segera informasikan kepada petugas agar bisa cepat ditangani dan tidak sampai meluas,” ujar Pradana.

Gunung Gandul Kembali Terbakar

Kebakaran di Gunung Gandul kemudian dilaporkan kembali membesar. Laporan pada Sabtu (22/8) menyebut sekitar 3,2 hektare lahan terdampak kebakaran.

Regu pemadam dari Kodim 0728/Wonogiri bersama Polsek, BPBD, SAR dan masyarakat dikerahkan untuk menangani api. Petugas menyasar titik-titik yang masih terbakar sekaligus melakukan penyisiran guna memastikan tidak ada bara yang berpotensi memicu kebakaran kembali.

Dandim 0728/Wonogiri Letkol Inf Rodricho Ivan Pattihahuan, melalui Danramil 01/Wonogiri Kapten Inf Suraji, menyatakan kondisi kawasan Gunung Gandul perlu mendapatkan perhatian, khususnya ketika cuaca panas dan kering.

Menurutnya, lahan terbuka yang dipenuhi vegetasi kering memiliki potensi mudah terbakar apabila tidak diantisipasi.

“Kodim 0728/Wonogiri akan terus membantu masyarakat dalam menghadapi berbagai kejadian bencana maupun kebakaran. Sinergi dengan seluruh instansi terkait juga terus diperkuat untuk menjaga keamanan dan keselamatan masyarakat di wilayah Wonogiri,” ujar Suraji.

Laporan lain menyebut kebakaran di Gunung Gandul terjadi dua kali dalam sehari dan luas lahan yang terbakar mencapai sekitar empat hektare. Proses pemadaman disebut menghadapi tantangan karena kondisi medan yang terjal.

Gunung Pegat Juga Terbakar

Pada periode yang sama, kebakaran juga dilaporkan terjadi di Gunung Pegat, Kecamatan Nguntoronadi.

Kawasan yang terbakar berada di Petak 41 RPH Gebang, BKPH Wonogiri, KPH Surakarta, secara administratif masuk Desa Bumiharjo. Lokasinya berada di tepian jalan antarkabupaten yang menghubungkan Wonogiri dengan Pacitan.

Menurut laporan SuaraBaru, kebakaran di lokasi tersebut merupakan kejadian kedua. Kondisi kawasan yang dipenuhi daun kering, rerumputan dan tanaman perdu yang mengering membuat wilayah tersebut rawan terbakar.

Kebakaran di Gunung Gandul sendiri tidak menimbulkan korban jiwa. Aparat bersama Perhutani dan petugas pemadam kebakaran melakukan penanganan agar api tidak meluas.

Empat Hektare Lahan Perhutani Terbakar di Jatiroto

Kebakaran kembali dilaporkan pada Minggu (23/8/2026) di kawasan lahan milik Perhutani di Dusun Sawit, Desa Pesido, Kecamatan Jatiroto.

Polsek Jatiroto menerima informasi adanya titik api dan langsung mengirim personel untuk melakukan pengecekan. Ketika tiba di lokasi sekitar pukul 10.00 WIB, petugas masih menemukan sejumlah titik api kecil. Pemadaman dan pendinginan kemudian dilakukan bersama Koramil Jatiroto, relawan, warga, serta petugas pemadam kebakaran.

Hasil pengecekan menunjukkan kebakaran berdampak pada sekitar empat hektare lahan Perhutani.

Berbeda dengan kebakaran Gunung Gandul yang penyebabnya belum diketahui, polisi memperoleh keterangan saksi bahwa kebakaran di Jatiroto diduga bermula dari aktivitas pembakaran sampah.

Api yang semula diperkirakan telah padam diduga kembali menyala akibat cuaca panas dan hembusan angin kencang, kemudian merambat ke lahan.

Polisi: Api Bisa Kembali Membesar

Kepala Seksi Humas Polres Wonogiri AKP Anom Prabowo, mewakili Kapolres Wonogiri AKBP Haris Munandar Hasyim, mengatakan respons cepat diperlukan untuk mencegah api meluas.

Menurut Anom, jajaran kepolisian tidak hanya melakukan pengecekan lokasi, tetapi juga berkoordinasi dengan instansi terkait dan membantu proses pemadaman.

“Cuaca panas dan angin kencang dapat membuat api dengan cepat kembali membesar dan merambat,” kata Anom.

Ia meminta masyarakat tidak sembarangan membakar sampah atau meninggalkan api dalam kondisi yang belum benar-benar padam.

Masyarakat juga diminta segera melaporkan setiap titik api agar dapat ditangani sedini mungkin.

Setelah proses pemadaman dan pendinginan selesai, kondisi kawasan Jatiroto dilaporkan aman dan kondusif. Polres Wonogiri menyatakan jajaran Polsek akan terus meningkatkan patroli serta pemantauan wilayah, terutama terhadap potensi kebakaran lahan di tengah kondisi cuaca panas.

Musim Kemarau Tingkatkan Risiko Kebakaran

Rentetan kebakaran tersebut memperlihatkan meningkatnya risiko kebakaran vegetasi di Wonogiri selama periode kering. Daun, ranting, rerumputan dan semak yang mengering menjadi bahan bakar yang mudah terbakar, sementara angin dapat membuat api dengan cepat menjalar.

Pemerintah Kabupaten Wonogiri sebelumnya juga telah mengingatkan mengenai kondisi musim kemarau 2026. Prediksi Stasiun Klimatologi Jawa Tengah menyebut musim kemarau 2026 di Jawa Tengah berpotensi berlangsung lebih panjang, sehingga masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kekeringan dan cuaca ekstrem.

Dalam situasi seperti ini, aktivitas membakar sampah atau material kering di sekitar kawasan hutan dapat berubah menjadi sumber kebakaran apabila api tidak benar-benar dipadamkan.

Belum Ada Kesimpulan Umum Soal Penyebab

Dari sejumlah kejadian terbaru, tidak semua kebakaran memiliki penyebab yang telah dipastikan.

Untuk titik api di Gunung Gandul pada 21 Agustus, kepolisian menyatakan asal api belum diketahui secara pasti. Sementara untuk kebakaran lahan Perhutani di Jatiroto pada 23 Agustus, polisi menyebut adanya dugaan bahwa api berasal dari pembakaran sampah yang kemudian kembali menyala karena kondisi panas dan angin.

Karena itu, rentetan kebakaran tersebut belum dapat disimpulkan sebagai akibat satu sumber atau satu pola penyebab.

Yang telah menjadi perhatian aparat adalah kondisi lahan yang kering, sumber api dari aktivitas manusia, serta cuaca panas dan angin yang dapat mempercepat penjalaran api.

Aparat kini mengandalkan patroli, respons cepat terhadap laporan masyarakat, pemantauan titik rawan, serta koordinasi antara kepolisian, TNI, BPBD, Damkar, Perhutani, relawan dan masyarakat untuk mencegah kebakaran kembali meluas.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
KMP Batumandi Terbakar, 460 Penumpang dan Kru Selamat
Nasional

KMP Batumandi Terbakar, 460 Penumpang dan Kru Selamat

Kapal Motor Penumpang (KMP) Batumandi milik PT ASDP terbakar saat hendak bersandar di Dermaga VI Pelabuhan Merak, Banten. 460 jiwa dengan selamat.

Lusianti Dwi Cahyani· 3 hari lalu
Kebakaran di Gunung Sumbing Kian Meluas, Pemadaman Api Terkendala Medan Terjal
Nasional

Kebakaran di Gunung Sumbing Kian Meluas, Pemadaman Api Terkendala Medan Terjal

Kebakaran di Gunung Sumbing makin meluas. Terjalnya medan di gunung, keterbatasan sumber air, serta sulitnya akses menjadi kendala utama yang dialami petugas.

Nurul Hidayah· 3 hari lalu
Pemerintah Respons Aksi Greenpeace dan Aspirasi Mahasiswa, Siapkan Stimulus Rp26,34 Triliun untuk Tekan Biaya Hidup
Nasional

Pemerintah Respons Aksi Greenpeace dan Aspirasi Mahasiswa, Siapkan Stimulus Rp26,34 Triliun untuk Tekan Biaya Hidup

Pemerintah merespons kritik Greenpeace soal krisis iklim dan biaya hidup serta lima tuntutan mahasiswa terkait lingkungan, ekonomi, demokrasi, dan pendidikan.

Rachmaddani Rizki Saputra· 3 hari lalu
Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, Demo Mahasiswa di Tugu Tani Soroti Isu Karhutla hingga Biaya Pendidikan
Nasional

Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, Demo Mahasiswa di Tugu Tani Soroti Isu Karhutla hingga Biaya Pendidikan

Dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran diwarnai aksi mahasiswa di Jakarta suarakan lima tuntutan terkait lingkungan, ekonomi, dan pendidikan.

Rachmaddani Rizki Saputra· 4 hari lalu
Krisis Iklim dan Biaya Hidup Jadi Pesan Utama Aksi Greenpeace di Bundaran HI
Nasional

Krisis Iklim dan Biaya Hidup Jadi Pesan Utama Aksi Greenpeace di Bundaran HI

Greenpeace Indonesia bentangkan dua spanduk raksasa di Bundaran HI dan mengajak warga mengirim karangan bunga digital untuk menyuarakan krisis iklim.

Rachmaddani Rizki Saputra· 4 hari lalu
Delapan Jam Diperiksa, Enam Aktivis Greenpeace Dibebaskan Usai Aksi di Bundaran HI
Nasional

Delapan Jam Diperiksa, Enam Aktivis Greenpeace Dibebaskan Usai Aksi di Bundaran HI

Panjat Monumen Bundaran HI, Greenpeace bongkar fakta mengejutkan: 41% warga tertekan akibat harga pangan melonjak gara-gara krisis iklim!

Lusianti Dwi Cahyani· 4 hari lalu