Runtut.com

Prabowo Soroti Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen, Dampak ke Masyarakat Jadi Perdebatan

Prabowo menyebut ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen pada kuartal I 2026. Pengamat menyoroti pemerataan manfaat dan kondisi masyarakat.

2 menit baca
1
Prabowo Soroti Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen, Dampak ke Masyarakat Jadi Perdebatan
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan capaian pertumbuhan ekonomi 5,61 persen dalam pidato kenegaraan Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD RI. — Dok. Sekretariat Presiden

JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 mencapai 5,61 persen sebagai capaian tertinggi dalam 13 tahun terakhir. Pernyataan tersebut disampaikan dalam pidato kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR RI serta Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI di Jakarta, Jumat (14/8/2026).

Di sisi lain, sejumlah pengamat menilai angka pertumbuhan ekonomi perlu dilihat bersama kondisi kesejahteraan masyarakat yang masih menghadapi tekanan.

Prabowo mengatakan pertumbuhan ekonomi pada semester I 2026 juga mencapai 5,45 persen. Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan penguatan ekonomi nasional di tengah berbagai tantangan global.

“Ekonomi kita pada kuartal pertama tahun 2026 tumbuh 5,61 persen dan pada semester pertama tahun 2026 tumbuh 5,45 persen. Ini adalah pertumbuhan kuartal pertama dan pertumbuhan semester pertama tertinggi dalam 13 tahun terakhir,” ujar Prabowo.

Namun, angka pertumbuhan ekonomi tersebut mendapat catatan dari peneliti lembaga riset Celios, Nailul Huda. Ia menilai terdapat perbedaan antara indikator makroekonomi yang disampaikan pemerintah dengan kondisi yang dirasakan sebagian masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Huda, sejumlah indikator ekonomi menunjukkan adanya tekanan, mulai dari perlambatan konsumsi masyarakat, meningkatnya pemutusan hubungan kerja (PHK), hingga tantangan masyarakat dalam mengakses lapangan pekerjaan.

“Semua aspek perekonomian mengalami pelemahan yang cukup signifikan dalam dua tahun terakhir. Mulai dari konsumsi masyarakat yang melambat, PHK yang terus meningkat, hingga kesulitan dalam akses ke pasar kerja,” ujar Huda.

Ia menyebut pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya menggambarkan pemerataan manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat. Kondisi tersebut, menurutnya, tercermin dari penurunan indeks keyakinan konsumen dan menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap kondisi ketenagakerjaan.

“Pemerintah selalu klaim ekonomi tumbuh tinggi, tapi masyarakat kelas bawah tidak merasakannya. Tercermin dari indeks keyakinan konsumen yang menurun dan kepercayaan akan kondisi tenaga kerja juga yang menurun,” katanya.

Huda mempertanyakan hubungan antara tingginya angka pertumbuhan ekonomi dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang kuat seharusnya diikuti dengan meningkatnya kesempatan kerja dan membaiknya daya beli.

“Dengan pertumbuhan ekonomi 5,61 persen, seharusnya masyarakat gampang mendapatkan pekerjaan, PHK tidak akan terjadi, masyarakat sangat yakin untuk terus konsumsi. Tapi ketika yang terjadi sebaliknya, berarti ada anomali dengan data kita,” ujar Huda.

Perdebatan mengenai pertumbuhan ekonomi menunjukkan bahwa capaian makroekonomi perlu dilihat bersama indikator lain, seperti penciptaan lapangan kerja, daya beli, dan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap perekonomian.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
Konvoi Motor Mahasiswa Trisakti Jadi Sorotan, Bantah Tudingan Bayaran 100 Ribu Saat Demonstrasi
Nasional

Konvoi Motor Mahasiswa Trisakti Jadi Sorotan, Bantah Tudingan Bayaran 100 Ribu Saat Demonstrasi

Aksi unjuk rasa mahasiswa Universitas Trisakti pada Kamis (29/10/2026) menyita perhatian publik setelah beredarnya rekaman konvoi massa

Maya Sintasari· 1 hari lalu
PBB Bidang HAM: Indonesia Perlu Mempertimbangkan Kembali Keterlibatannya dalam Dewan Perdamaian
Nasional

PBB Bidang HAM: Indonesia Perlu Mempertimbangkan Kembali Keterlibatannya dalam Dewan Perdamaian

Apabila tujuan bergabungnya Indonesia untuk misi perdamaian, Albanese menyarankan sebaiknya Indonesia bergabung dalam Grup Hague dibanding Dewan Perdamaian.

Andini Putri Lestari· 2 hari lalu
Peringati Sumpah Pemuda, BEM UI dan Komite Sadar Suarakan "5 Perintah Rakyat" di Jakarta
Nasional

Peringati Sumpah Pemuda, BEM UI dan Komite Sadar Suarakan "5 Perintah Rakyat" di Jakarta

BEM UI dan Komite Sadar mengusung 5 Perintah Rakyat dalam aksi Sumpah Pemuda di Jakarta, menyoroti isu lingkungan, ekonomi, pendidikan, hukum, dan HAM.

Lusianti Dwi Cahyani· 4 hari lalu
KMP Batumandi Terbakar, 460 Penumpang dan Kru Selamat
Nasional

KMP Batumandi Terbakar, 460 Penumpang dan Kru Selamat

Kapal Motor Penumpang (KMP) Batumandi milik PT ASDP terbakar saat hendak bersandar di Dermaga VI Pelabuhan Merak, Banten. 460 jiwa dengan selamat.

Lusianti Dwi Cahyani· 1 minggu lalu
Kebakaran di Gunung Sumbing Kian Meluas, Pemadaman Api Terkendala Medan Terjal
Nasional

Kebakaran di Gunung Sumbing Kian Meluas, Pemadaman Api Terkendala Medan Terjal

Kebakaran di Gunung Sumbing makin meluas. Terjalnya medan di gunung, keterbatasan sumber air, serta sulitnya akses menjadi kendala utama yang dialami petugas.

Nurul Hidayah· 1 minggu lalu
Pemerintah Respons Aksi Greenpeace dan Aspirasi Mahasiswa, Siapkan Stimulus Rp26,34 Triliun untuk Tekan Biaya Hidup
Nasional

Pemerintah Respons Aksi Greenpeace dan Aspirasi Mahasiswa, Siapkan Stimulus Rp26,34 Triliun untuk Tekan Biaya Hidup

Pemerintah merespons kritik Greenpeace soal krisis iklim dan biaya hidup serta lima tuntutan mahasiswa terkait lingkungan, ekonomi, demokrasi, dan pendidikan.

Rachmaddani Rizki Saputra· 1 minggu lalu