Runtut.com

Menakar Ulang Militerisme Sipil: Mengapa Pendekatan Keamanan Tidak Akan Menyelesaikan Masalah Ekonomi?

Penempatan aparat berseragam di jabatan sipil tuai kritik tajam dalam demo 12 Juni. Ancaman kemunduran demokrasi atau sekadar respons panik birokrasi?

2 menit baca
4
Menakar Ulang Militerisme Sipil: Mengapa Pendekatan Keamanan Tidak Akan Menyelesaikan Masalah Ekonomi?
Setelah sempat diadang polisi di dekat jembatan Semanggi, mahasiswa terus bergerak menuju Bundaran HI Jakarta. — BBC.com/Firdaus

Di luar isu-isu ekonomi yang mendominasi, ada satu keresahan laten yang akhirnya meledak ke permukaan dalam aksi massa 12 Juni 2026: bayang-bayang kembalinya militerisme dalam administrasi sipil. Ketegangan tanpa senjata api namun penuh dengan barikade beton, pengalihan rute paksa, hingga pemadaman akses CCTV saat massa mencoba menembus Bundaran HI kemarin adalah representasi visual dari bagaimana negara merespons kritik hari ini.

Tuntutan mahasiswa sangat spesifik: hentikan normalisasi penempatan figur-figur berlatar belakang militer atau keamanan pada jabatan-jabatan strategis pemerintahan sipil. Bagi generasi yang tumbuh pasca-Reformasi, tren ini adalah alarm tanda bahaya bagi kesehatan demokrasi kita.

Mitos "Disiplin" Menyelesaikan Masalah Birokrasi

Narasi yang sering dibangun oleh penguasa untuk menjustifikasi kebijakan ini adalah kebutuhan akan "kedisiplinan" dan "eksekusi cepat" di tengah lambannya birokrasi sipil. Seolah-olah, dengan menempatkan seseorang yang terbiasa dengan garis komando, karut-marut tata kelola seperti lambatnya perizinan atau distribusi bantuan akan selesai seketika.

Namun, logika ini sangat cacat. Birokrasi sipil dan pelayanan publik didesain untuk berjalan di atas prinsip transparansi, partisipasi publik, dan akuntabilitas hukum. Pendekatan komando yang kaku (top-down) akan mematikan ruang dialektika. Saat sebuah kebijakan yang merugikan publik—seperti pemotongan subsidi—dijalankan, masyarakat butuh penjelasan rasional dan ruang debat, bukan sekadar instruksi yang harus dipatuhi tanpa reserve.

Respons Panik Terhadap Krisis Legitimasi

Masuknya pendekatan keamanan ke ranah sipil sering kali berkorelasi lurus dengan kegagalan negara dalam mengelola urusan ekonomi dan kesejahteraan. Ketika kebijakan publik mulai kehilangan legitimasi rasionalnya karena didera isu korupsi dan inefisiensi, pemerintah cenderung menggunakan instrumen keamanan sebagai tameng.

Penggunaan barikade untuk mencegah suara rakyat mencapai pusat kekuasaan, atau penunjukan pejabat berseragam untuk memimpin lembaga-lembaga yang bersentuhan langsung dengan hajat hidup orang banyak, adalah bentuk kepanikan sistemik. Ini adalah upaya untuk mendisiplinkan kegelisahan rakyat, alih-alih mengobati penyebab kegelisahan itu sendiri.

Merawat Garis Batas Reformasi

Aksi mahasiswa kemarin mengingatkan kita semua bahwa garis batas antara otoritas sipil dan keamanan harus dijaga secara ketat. Membiarkan instrumen keamanan mengambil alih porsi penyelesaian masalah politik dan ekonomi sama saja dengan menabung bom waktu. Stabilitas sejati sebuah negara tidak pernah lahir dari moncong senjata atau tebalnya barikade polisi, melainkan dari keadilan sosial dan kebebasan sipil yang dihormati penuh oleh negara.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
Situasi Timur Tengah Memanas, Kemenhaj Imbau Jemaah Umrah Tingkatkan KewaspadaanBreaking
Nasional

Situasi Timur Tengah Memanas, Kemenhaj Imbau Jemaah Umrah Tingkatkan Kewaspadaan

Kemenhaj mencatat 37 jemaah umrah Indonesia melintasi Riyadh hingga 11 Oktober 2026 dan mengimbau jemaah meningkatkan kewaspadaan di tengah situasi Timur Tengah

Rachmaddani Rizki Saputra· 2 jam lalu
Bertabur Bintang, Laga Legenda MU vs Arsenal di GBK Justru Sepi Penonton
Nasional

Bertabur Bintang, Laga Legenda MU vs Arsenal di GBK Justru Sepi Penonton

Pertandingan legenda Manchester United vs Arsenal di GBK berlangsung dengan tribun yang terlihat lengang. Padatnya event Jakarta menjadi sorotan.

Ferdian Trikusuma· 3 jam lalu
Hari Museum Indonesia: Momentum Merawat Sejarah
Nasional

Hari Museum Indonesia: Momentum Merawat Sejarah

Bukan sekadar tempat benda bersejarah, museum menyimpan cerita perjalanan bangsa. Simak makna Hari Museum Indonesia 12 Oktober bagi generasi muda!

Nurul Hidayah· 10 jam lalu
Sebanyak 1.673 Penerbangan Terdampak Karhutla, Kemenhub Catat Ratusan Pembatalan Breaking
Nasional

Sebanyak 1.673 Penerbangan Terdampak Karhutla, Kemenhub Catat Ratusan Pembatalan

Buntut kabut karhutla, Kemenhub catat 1.673 penerbangan domestik terdampak. Citilink Indonesia catat penerbangan terdampak paling banyak.

Nurul Hidayah· 21 jam lalu
Curva Boys dan LA Mania Bentangkan Koreografi untuk Choirul Huda, Kenang Sang Legenda Persela
Nasional

Curva Boys dan LA Mania Bentangkan Koreografi untuk Choirul Huda, Kenang Sang Legenda Persela

Curva Boys dan LA Mania bentangkan koreografi dan bendera untuk mengenang Choirul Huda, legenda Persela Lamongan, dalam laga melawan Deltras FC di Surajaya.

Ferdian Trikusuma· 1 hari lalu
Persela Gagal Geser Pemuncak Klasemen, Deltras FC Paksa Hasil Imbang 1-1
Nasional

Persela Gagal Geser Pemuncak Klasemen, Deltras FC Paksa Hasil Imbang 1-1

Persela Lamongan gagal merebut puncak klasemen usai ditahan imbang Deltras FC 1-1 di Stadion Surajaya dalam lanjutan Pegadaian Championship 2026/2027.

Ferdian Trikusuma· 1 hari lalu