Di luar isu-isu ekonomi yang mendominasi, ada satu keresahan laten yang akhirnya meledak ke permukaan dalam aksi massa 12 Juni 2026: bayang-bayang kembalinya militerisme dalam administrasi sipil. Ketegangan tanpa senjata api namun penuh dengan barikade beton, pengalihan rute paksa, hingga pemadaman akses CCTV saat massa mencoba menembus Bundaran HI kemarin adalah representasi visual dari bagaimana negara merespons kritik hari ini.
Tuntutan mahasiswa sangat spesifik: hentikan normalisasi penempatan figur-figur berlatar belakang militer atau keamanan pada jabatan-jabatan strategis pemerintahan sipil. Bagi generasi yang tumbuh pasca-Reformasi, tren ini adalah alarm tanda bahaya bagi kesehatan demokrasi kita.
Mitos "Disiplin" Menyelesaikan Masalah Birokrasi
Narasi yang sering dibangun oleh penguasa untuk menjustifikasi kebijakan ini adalah kebutuhan akan "kedisiplinan" dan "eksekusi cepat" di tengah lambannya birokrasi sipil. Seolah-olah, dengan menempatkan seseorang yang terbiasa dengan garis komando, karut-marut tata kelola seperti lambatnya perizinan atau distribusi bantuan akan selesai seketika.
Namun, logika ini sangat cacat. Birokrasi sipil dan pelayanan publik didesain untuk berjalan di atas prinsip transparansi, partisipasi publik, dan akuntabilitas hukum. Pendekatan komando yang kaku (top-down) akan mematikan ruang dialektika. Saat sebuah kebijakan yang merugikan publik—seperti pemotongan subsidi—dijalankan, masyarakat butuh penjelasan rasional dan ruang debat, bukan sekadar instruksi yang harus dipatuhi tanpa reserve.









