RUNTUT.COM - Pencarian kedamaian yang hakiki sering kali membawa manusia kembali pada memori tentang asal usulnya. Di tangan musisi folk Jason Ranti, keresahan tersebut ia rangkum menjadi kisah getir yang menyentil batin. Lewat single "Pulang ke Rahim Ibunya" yang dirilis pada 2019, musisi yang akrab disapa Jeje ini menyuguhkan refleksi kehidupan modern secara mendalam.
Melalui tokoh fiktif bernama Lisa, lagu ini memotret realitas individu modern yang terjebak dalam kehampaan, keterasingan sosial, dan pencarian spiritual yang membingungkan. Pada akhirnya, ‘rahim ibu’ menjadi simbol keputusasaan sekaligus kerinduan mendalam manusia akan tempat yang paling aman dari penghakiman sosial.
Melalui larik “Lisa berhenti hidup tapi tak juga mati. Ia merasa redup semua mimpinya mati …” lagu ini menjadi potret manusia yang berada pada fase krisis eksistensial. Secara fisik Lisa bernapas, tetapi jiwanya telah diselimuti kehampaan. Lisa menjadi reprensentasi manusoa yang didera kebebasan mutlak tanpa kompas moral sehingga akhirnya kehilangan makna hidup.
Alih-alih menemukan jawaban saat mencoba beribadah, Lisa justru menjumpai paradoks bahwa “Ia pergi ke Tuhan, ia tak kenal Tuhan.” Larik ini menggambarkan adanya jarak yang lebar antara keinginan spiritual dengan keterasingan jiwa akibat hati yang tidak lagi bersih.
Puncak krisis eksistensial ini bermuara pada klausa yang diulang-ulang, yakni “Ia buat rencana pulang ke rahim ibunya.”




