Runtut.com

Hindia Disebut “Nabi Gen Z”, Ketika Lagu-Lagunya Menjadi Suara Keresahan Anak Muda

Hindia dijuluki Nabi Gen Z karena lagu-lagunya dekat dengan keresahan anak muda. Namun, Baskara Putra mengingatkan agar musisi tak dijadikan patokan mutlak.

3 menit baca
Penampilan Hindia saat konser musik di hadapan ribuan penonton
Penampilan Hindia saat konser musik di hadapan ribuan penonton — Pinterest: Patimah

JAKARTA – Musisi Daniel Baskara Putra, yang dikenal dengan nama panggung Hindia, kerap mendapat julukan “Nabi Gen Z” dari warganet. Julukan tersebut muncul karena karya-karyanya dinilai mampu mewakili kegelisahan anak muda, mulai dari tekanan pekerjaan, pencarian jati diri, hingga perjuangan menerima kehidupan yang tidak selalu berjalan sesuai harapan.

Melalui lagu-lagu seperti “Evaluasi”, “Secukupnya”, dan “Rumah ke Rumah”, Hindia menghadirkan cerita yang dekat dengan pengalaman sehari-hari. Liriknya tidak selalu menawarkan jawaban atas persoalan hidup, tetapi memberi ruang bagi pendengar untuk mengenali perasaan yang terkadang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Julukan “Nabi Gen Z” bukanlah gelar resmi, melainkan sebutan populer yang berkembang di ruang digital. Istilah tersebut menggambarkan bagaimana sebagian pendengar memandang Hindia sebagai musisi yang mampu menyuarakan keresahan generasi muda melalui musik.

Dari “Evaluasi” hingga “Secukupnya”, Lagu tentang Bertahan

Salah satu karya Hindia yang banyak dikaitkan dengan pengalaman anak muda adalah “Evaluasi”. Lagu ini mengangkat perenungan tentang diri sendiri, tekanan yang dihadapi, dan pentingnya melihat kembali perjalanan hidup tanpa sepenuhnya bergantung pada penilaian orang lain.

Sementara itu, “Secukupnya” berbicara tentang menghadapi masa sulit dan menerima bahwa seseorang tidak harus selalu terlihat kuat. Lagu tersebut semakin dikenal luas setelah menjadi bagian dari soundtrack film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini.

Kedua lagu itu memperlihatkan sisi personal dalam karya Hindia. Alih-alih hanya mengangkat kisah romantis, ia turut membicarakan kelelahan, tuntutan kehidupan, dan pergulatan batin yang bisa dialami siapa saja.

Bagi pendengar yang sedang menghadapi tekanan akademik, pekerjaan, atau ketidakpastian masa depan, lagu-lagu tersebut dapat terasa seperti ungkapan atas sesuatu yang selama ini sulit mereka jelaskan. Musik menjadi medium untuk merasa dipahami, bahkan ketika persoalan yang dihadapi belum menemukan penyelesaian.

Sosok Baskara Putra yang memiliki nama panggung "Hindia"
Sosok Baskara Putra yang memiliki nama panggung "Hindia" — Pinterest: jeoruka

Mengapa Hindia Dekat dengan Gen Z?

Kedekatan Hindia dengan generasi muda tidak terlepas dari cara ia mengemas pengalaman personal menjadi cerita yang lebih luas. Persoalan yang diangkat terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti keinginan untuk berhasil, kebutuhan mendapatkan pengakuan, hubungan yang berubah, serta proses berdamai dengan diri sendiri.

Album debutnya, Menari dengan Bayangan, menjadi salah satu karya penting dalam perjalanan solo Hindia. Melalui album tersebut, ia menyampaikan berbagai refleksi mengenai kehidupan, relasi, dan pergulatan pribadi dengan pendekatan lirik yang lugas dan personal.

Kekuatan pendekatan tersebut terletak pada kemampuannya membuat pengalaman individu terasa relevan bagi pendengar lain. Cerita yang berangkat dari sudut pandang pribadi dapat menemukan makna baru ketika didengarkan oleh orang-orang dengan pengalaman berbeda.

Di tengah media sosial yang kerap menampilkan pencapaian dan kehidupan ideal, lagu-lagu Hindia juga memberi ruang bagi sisi kehidupan yang jarang diperlihatkan: kegagalan, kelelahan, keraguan, dan proses panjang untuk kembali bangkit.

Baskara Putra Tak Ingin Karyanya Menjadi Patokan Mutlak

Di balik julukan “Nabi Gen Z”, Baskara Putra ternyata tidak memosisikan musiknya sebagai karya yang secara khusus dibuat untuk generasi tertentu. Dalam wawancara yang diberitakan Inilah.com pada November 2025, ia menjelaskan bahwa kedekatannya dengan teman-teman dari generasi Z membuat pengalaman dan keresahan di sekitarnya turut tercermin dalam lagu-lagunya.

Baskara juga pernah menanggapi julukan “Nabi Gen Z” dan figur panutan yang dilekatkan kepadanya. Dalam pemberitaan Kapan Saja pada Januari 2026, ia disebut merasa tidak nyaman jika pendengar menjadikan dirinya sebagai rujukan mutlak hingga berhenti berpikir kritis.

Sikap tersebut memperlihatkan perbedaan antara karya yang terasa mewakili banyak orang dan sosok yang dianggap selalu memiliki jawaban. Lagu dapat menjadi teman untuk memahami pengalaman hidup, tetapi bukan berarti setiap pandangan penciptanya harus diterima sebagai kebenaran.

Pada akhirnya, julukan “Nabi Gen Z” menggambarkan besarnya kedekatan emosional antara Hindia dan sebagian pendengarnya. Musiknya menjadi ruang untuk menyampaikan kegelisahan yang kerap sulit dibicarakan, sekaligus pengingat bahwa setiap orang memiliki pengalaman dan cara masing-masing dalam menjalani kehidupan.

Hindia mungkin tidak menawarkan jawaban untuk semua persoalan generasi muda. Namun, melalui lagu-lagunya, ia membantu sebagian pendengar menemukan kata-kata untuk perasaan yang sebelumnya hanya tersimpan dalam pikiran.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua