Runtut.com

Banjir Jadi Langganan Tiap Musim Hujan, Apa Solusi untuk Kota Besar?

Saat hujan deras turun, kota kembali diuji. Di tengah pembangunan, kemampuan menampung dan mengalirkan air jadi persoalan penting.

6 menit baca
Kemacetan yang terjadi akibat hujan yang membuat jalan menjadi banjir di kota Jakarta.
Kemacetan yang terjadi akibat hujan yang membuat jalan menjadi banjir di kota Jakarta. — Instagram - @fiq0510

Memperkuat Kesiapsiagaan dan Sistem Peringatan Dini

Selain mengurangi risiko melalui pembangunan dan perbaikan lingkungan, kesiapsiagaan menghadapi banjir juga perlu diperkuat. Informasi cuaca dan peringatan dini dapat membantu pemerintah maupun masyarakat mengambil langkah antisipasi sebelum kondisi memburuk.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menetapkan delapan langkah kesiapsiagaan untuk menghadapi musim hujan 2026/2027 melalui Surat Edaran Kepala BNPB Nomor 4 Tahun 2026. Langkah tersebut mencakup pemetaan wilayah rawan bencana, penyiapan personel dan logistik, pemantauan informasi cuaca, penguatan sistem peringatan dini, serta edukasi kepada masyarakat.

Kesiapan tersebut juga perlu didukung dengan jalur evakuasi, lokasi pengungsian, dan mekanisme penyampaian informasi yang mudah dijangkau warga. Masyarakat yang tinggal di wilayah rawan banjir perlu mengetahui langkah yang harus dilakukan ketika peringatan dini dikeluarkan.

Dengan adanya koordinasi antara pemerintah daerah, BPBD, petugas lapangan, dan masyarakat, proses penanganan diharapkan dapat berlangsung lebih cepat ketika banjir terjadi.

Penanganan Banjir Perlu Dilakukan Secara Terpadu

Banjir di kawasan perkotaan merupakan persoalan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan membangun tanggul atau memperbesar saluran drainase. Pengelolaan air membutuhkan kombinasi antara infrastruktur pengendali banjir, ruang resapan, perawatan sungai, solusi berbasis alam, serta keterlibatan masyarakat.

Pembangunan yang tidak memperhatikan kemampuan lingkungan dalam menampung dan mengalirkan air dapat memperbesar risiko genangan. Karena itu, perencanaan tata kota perlu berjalan seiring dengan pengelolaan lingkungan dan kesiapan menghadapi bencana.

Pada akhirnya, upaya mengurangi risiko banjir bukan hanya tentang seberapa banyak infrastruktur yang dibangun, tetapi juga bagaimana seluruh fasilitas tersebut dirawat, lingkungan dijaga, dan masyarakat dilibatkan. Dengan pendekatan yang terpadu, kota dapat menjadi lebih siap menghadapi musim hujan.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua