Garuda Indonesia Gandeng EIGER Terapkan Upcycling, Ubah Life Vest dan Seat Cover Pesawat Menjadi Collectible Items
Garuda Indonesia menggandeng EIGER mengolah 90 kilogram material life vest dan seat cover pesawat menjadi pouch collectible items melalui konsep upcycling.
Produk Upcylcing Garuda Indonesia dan Eiger Adventure — Instagram.com/garudauntukindonesia
RUNTUT.COM – Perlengkapan pesawat yang sudah tidak digunakan ternyata masih bisa punya kehidupan kedua. Garuda Indonesia menggandeng merek perlengkapan aktivitas luar ruang EIGER Adventure untuk mengolah rompi pelampung (life vest) dan pelapis kursi pesawat (seat cover) menjadi produk baru yang fungsional sekaligus bernilai koleksi.
Melalui kolaborasi ini, material yang sebelumnya menjadi bagian dari fasilitas penerbangan diubah menjadi berbagai varian pouch untuk menyimpan perlengkapan perjalanan maupun barang sehari-hari. Produk tersebut mengusung konsep upcycling, yakni memberikan fungsi dan nilai tambah baru pada material yang sudah tidak digunakan.
Kolaborasi ini menjadi salah satu cara Garuda Indonesia menjalankan prinsip green airline. Upaya keberlanjutan tidak hanya berkaitan dengan operasional penerbangan, tetapi juga bagaimana perusahaan memanfaatkan kembali sumber daya yang sudah menyelesaikan masa pakainya.
Direktur Utama Garuda Indonesia, Thomas Oentoro, menyampaikan bahwa kerja sama dengan EIGER merupakan bagian dari upaya perusahaan mengembangkan pengelolaan material yang lebih bertanggung jawab. Kolaborasi dengan merek lokal juga membuka ruang bagi inovasi produk yang menggabungkan aspek keberlanjutan dan kreativitas.
90 Kilogram Material Pesawat Diolah Menjadi Produk Baru
Dalam proyek ini, Garuda Indonesia menyediakan sekitar 60 kilogram material life vest dan 30 kilogram seat cover untuk diolah kembali. Material tersebut dikembangkan menjadi beberapa varian pouch, termasuk produk yang memanfaatkan pelapis kursi berwarna hitam dan cokelat.
Alih-alih membuang material setelah tidak lagi digunakan dalam operasional, Garuda dan EIGER mencoba memperpanjang masa gunanya melalui produk yang bisa digunakan kembali dalam aktivitas sehari-hari.
Karakter asli material tetap menjadi bagian dari daya tarik koleksi tersebut. Karena berasal dari perlengkapan pesawat, produk yang dihasilkan memiliki tampilan dan cerita tersendiri dibandingkan pouch yang dibuat menggunakan bahan baru.
Bagi pencinta dunia penerbangan, hal ini memberikan nilai tambah tersendiri. Produk tersebut bukan hanya aksesori untuk membawa barang, tetapi juga menghadirkan bagian dari perjalanan operasional Garuda Indonesia dalam bentuk yang berbeda.
Pembagian produk upcycling Garuda Indonesia dan Eiger Adventure di showcase flight GA118 Jakarta-Kualanamu — Instagram.com/garudauntukindonesia
Diperkenalkan Melalui Penerbangan Jakarta–Kualanamu
Produk hasil kolaborasi Garuda Indonesia dan EIGER diperkenalkan melalui penerbangan showcase GA118 dengan rute Jakarta–Kualanamu pada 6 Oktober 2026. Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 200 produk koleksi disiapkan untuk memperkenalkan hasil pemanfaatan kembali material pesawat kepada pelanggan.
Inisiatif ini juga menjadi bagian dari keikutsertaan Garuda Indonesia dalam The Aviation Challenge (TAC) 2026. Ajang yang diselenggarakan SkyTeam dengan dukungan International Air Transport Association (IATA) tersebut mendorong maskapai untuk mengembangkan inovasi dan praktik yang lebih berkelanjutan di industri penerbangan.
Melalui proyek ini, Garuda menunjukkan bahwa inovasi lingkungan tidak selalu harus dimulai dari teknologi baru. Material yang sudah tersedia pun dapat dimanfaatkan kembali selama memiliki potensi untuk diolah menjadi produk yang berguna.
Upcycling dan Peluang Ekonomi Sirkular
Konsep upcycling yang digunakan dalam kolaborasi ini berbeda dari sekadar membuang atau mendaur ulang material menjadi bahan mentah. Pendekatan tersebut berfokus pada pemanfaatan material yang tersedia untuk menciptakan produk baru dengan fungsi dan nilai tambah.
Bagi perusahaan penerbangan, pendekatan ini membuka peluang untuk memikirkan kembali pengelolaan perlengkapan yang telah habis masa pakainya. Sementara bagi industri kreatif, material tersebut dapat menjadi bahan untuk mengembangkan produk dengan karakter yang tidak mudah ditemukan pada produk konvensional.
Meski demikian, keberlanjutan sebuah inisiatif juga bergantung pada konsistensi pelaksanaannya. Ketersediaan material, kualitas produk, serta peluang pemanfaatan dalam skala yang lebih luas menjadi sejumlah aspek yang dapat menentukan dampaknya dalam jangka panjang.
Kolaborasi Garuda Indonesia dan EIGER memperlihatkan bagaimana perlengkapan yang pernah menemani perjalanan udara dapat memiliki fungsi baru setelah masa operasionalnya berakhir. Dari rompi pelampung hingga pelapis kursi, material yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah kini memperoleh kesempatan untuk digunakan kembali.