Runtut.com

Banjir Jadi Langganan Tiap Musim Hujan, Apa Solusi untuk Kota Besar?

Saat hujan deras turun, kota kembali diuji. Di tengah pembangunan, kemampuan menampung dan mengalirkan air jadi persoalan penting.

6 menit baca
Kemacetan yang terjadi akibat hujan yang membuat jalan menjadi banjir di kota Jakarta.
Kemacetan yang terjadi akibat hujan yang membuat jalan menjadi banjir di kota Jakarta. — Instagram - @fiq0510

RUNTUT.COM - Memasuki musim hujan, ancaman banjir kembali membayangi sejumlah kawasan perkotaan. Hujan dengan intensitas tinggi, saluran air yang tidak memadai, hingga berkurangnya daerah resapan membuat genangan kerap muncul di tengah padatnya aktivitas masyarakat.

Persoalan banjir di kota besar bukan hanya berkaitan dengan tingginya curah hujan. Perubahan tata guna lahan, penyempitan sungai, penurunan permukaan tanah, hingga buruknya pengelolaan drainase turut memengaruhi kemampuan kota dalam menampung dan mengalirkan air.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia mulai memasuki musim hujan pada November hingga Desember 2026. Sementara itu, puncak musim hujan diperkirakan berlangsung pada Desember 2026 hingga Februari 2027. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa penanganan banjir perlu dipersiapkan, terutama di kawasan perkotaan dengan tingkat kepadatan penduduk dan pembangunan yang tinggi.

Lantas, apa saja langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko banjir di kota besar?

Memperkuat Infrastruktur Pengendali Banjir

Salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko banjir adalah memperkuat infrastruktur pengendali air. Fasilitas seperti bendungan, waduk, embung, kolam retensi, tanggul, dan pompa memiliki fungsi berbeda dalam mengatur aliran serta menampung kelebihan air.

Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum mencatat sejumlah infrastruktur tampungan air yang tersebar di berbagai daerah. Infrastruktur tersebut meliputi 107 danau, 215 bendungan, 3.464 embung, 332 situ, dan 10 kolam retensi. Pemerintah juga mengupayakan optimalisasi tanggul pantai, pompa pengendali banjir, hingga terowongan pengendali banjir.

Setiap fasilitas memiliki fungsi tersendiri. Bendungan dan waduk dapat menampung serta mengatur volume air, sedangkan embung dan kolam retensi membantu menahan limpasan air hujan untuk sementara waktu. Sementara itu, pompa digunakan untuk memindahkan air dari kawasan yang lebih rendah, terutama ketika aliran secara gravitasi tidak berjalan optimal.

Keberadaan infrastruktur tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah. Pembangunan fasilitas baru juga perlu diikuti dengan pemeliharaan dan pengoperasian yang tepat agar kapasitas pengendalian air dapat berfungsi secara maksimal.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua