Peserta membuat anyaman dari bambu untuk meningkatkan nilai ekonomis — Ghania Chairunnissa Kusumastuti Lubis
JAKARTA — Pernahkah kamu membayangkan bagaimana rasanya berinteraksi langsung dengan seseorang dari Kazakhstan, China, atau Pakistan? Mengenal budaya mereka, mendengar cerita tentang kehidupan di negara asalnya, hingga menemukan hal-hal yang ternyata memiliki kemiripan dengan kehidupan di Indonesia?
Pengalaman seperti ini mungkin terdengar seperti sesuatu yang hanya bisa didapatkan melalui perjalanan ke luar negeri. Namun, bagaimana jika kamu bisa merasakannya langsung di Jakarta?
Melalui Global Village Summer Peak 2026, AIESEC in UIN Jakarta menghadirkan pengalaman lintas budaya yang memungkinkan pengunjung mengenal berbagai negara tanpa harus meninggalkan Indonesia.
Diselenggarakan pada 15 Agustus 2026 di Gedung Kesenian Bulungan, Blok M, Jakarta, acara ini mempertemukan pengunjung dengan exchange participants dari berbagai negara yang tengah menjalani program volunteering bersama AIESEC in UIN Jakarta.
Mengusung tema “Open Horizons: Global Exposure for Future Entrepreneurs”, Global Village Summer Peak 2026 menjadi ruang bagi peserta internasional untuk memperkenalkan budaya, tradisi, dan keunikan negara asal mereka kepada generasi muda Indonesia.
Melalui interaksi langsung, pengunjung tidak hanya berkesempatan mengenal budaya dari berbagai belahan dunia, tetapi juga memahami pengalaman exchange sebagai kesempatan untuk memperluas perspektif dan membangun relasi lintas budaya.
Exchange participant asal Pakistan menyanyikan lagu khas negaranya dalam penampilan budaya di Global Village. — Dok. Ghania Chairunnissa Kusumastuti Lubis
Peserta internasional yang mengikuti program volunteering bersama AIESEC in UIN Jakarta berasal dari Pakistan, Kazakhstan, Polandia, dan China. Acara ini juga melibatkan mahasiswa internasional Universitas Islam Negeri Jakarta asal Thailand.
Mereka membuat booth dari negara-negara peserta internasional yang ada dan menghadirkan berbagai ciri khas dan budaya negara, mulai dari makanan, tradisi, hingga kebiasaan masyarakatnya.
Salah satu pengunjung, Fakhri Akmal Zain, mahasiswa Sastra Inggris UIN Jakarta angkatan 2025, mengaku terkesan dengan booth Pakistan karena makanan yang dicobanya terasa akrab dengan kuliner Indonesia.
Pengalaman serupa dirasakan Clarabelle, siswi SMA Negeri 66 Jakarta, yang tertarik pada pertunjukan budaya selama acara. Ia menyebut penampilan tarian tradisional Kazakhstan, nyanyian dari Pakistan dan Polandia, serta hadroh yang dibawakan mahasiswa internasional asal Thailand sebagai bagian yang berkesan.
Menurutnya, pertunjukan tersebut menunjukkan bahwa negara-negara dengan latar belakang berbeda tetap dapat memiliki persamaan budaya. Sementara itu, Lutfia Marta Rahayu, mahasiswa Universitas Pamulang, mengatakan bahwa Global Village memperluas pemahamannya mengenai exchange.
Peserta Global Village mengikuti workshop menganyam bersama exchange participants untuk meningkatkan nilai jual produk. — Dok. Ghania Chairunnissa Kusumastuti Lubis
“Sebelumnya, aku menganggap pertukaran pelajar lebih berfokus pada kesempatan belajar di luar negeri. Namun, setelah mengikuti acara ini, aku jadi memahami bahwa exchange juga merupakan kesempatan untuk mengenal budaya baru, memperluas relasi, melatih kemandirian, dan mengembangkan kemampuan beradaptasi,” ujarnya.
Ia juga mengaku mulai mempertimbangkan kesempatan mengikuti exchange pada masa mendatang.
Putri Halimah, Supervisor Global Village sekaligus Ketua Divisi Engagement with AIESEC, menjelaskan bahwa acara ini bertujuan memperkenalkan lintas budaya dan membangun jejaring antarbudaya di kalangan anak muda.
Menurutnya, interaksi tersebut penting untuk membantu peserta memahami kehidupan dan pengalaman masyarakat dari negara lain. Ia berharap Global Village dapat menjadi langkah awal bagi pemuda untuk terus mengenal budaya lain dan mengeksplorasi kesempatan mengikuti program internasional, termasuk Global Volunteer.
Melalui seminar, pertunjukan, dan booth budaya, Global Village Summer Peak 2026 mempertemukan pengunjung dengan keberagaman dalam bentuk yang dekat dengan keseharian mereka.
Tentang Penulis
SF
Salma Fayza Fadhila
English Literature Student at UIN Jakarta
Artikel ini merupakan tulisan kontribusi. Isi dan pendapat sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mencerminkan sikap redaksi Runtut.com.