Penggunaan tumbler semakin relevan sebagai pilihan praktis bagi masyarakat yang ingin menerapkan gaya hidup ramah lingkungan di tengah aktivitas sehari-hari.
RUNTUT.COM – Membawa tumbler kini menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari, mulai dari pergi ke kampus, bekerja, berolahraga, hingga menghabiskan waktu di kafe. Selain praktis, penggunaan botol minum yang dapat dipakai berulang kali menjadi salah satu cara untuk mengurangi konsumsi plastik sekali pakai.
Kebiasaan tersebut berkaitan dengan kesadaran seseorang terhadap dampak aktivitas sehari-hari bagi lingkungan. Namun, manfaat tumbler tidak cukup dilihat dari kepemilikannya. Penggunaan secara konsisten hingga benar-benar menggantikan botol plastik sekali pakai menjadi faktor penting dalam mengurangi timbulan sampah.
Sementara itu, persoalan sampah plastik masih menjadi tantangan di Indonesia. Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menyampaikan bahwa Indonesia menghasilkan sekitar 10,8 juta ton sampah plastik pada 2023. Dari jumlah tersebut, lebih dari 6 juta ton dilaporkan belum terkelola dengan baik.
Data tersebut menunjukkan pentingnya upaya mengurangi sampah sejak dari sumbernya. Salah satu langkah yang dapat dilakukan ialah membawa tumbler saat beraktivitas agar kebutuhan membeli air minum dalam kemasan plastik dapat dikurangi. Kebiasaan ini relatif mudah diterapkan karena tidak memerlukan perubahan besar dalam rutinitas sehari-hari.
Meski demikian, membeli tumbler baru tidak serta-merta menjadikan seseorang lebih ramah lingkungan. Dampak positifnya bergantung pada seberapa sering botol tersebut digunakan kembali untuk menggantikan wadah sekali pakai. Jika hanya menjadi koleksi atau jarang digunakan, manfaat pengurangan sampahnya tentu tidak optimal.
Membawa tumbler dapat menjadi langkah awal membangun gaya hidup yang lebih peduli terhadap lingkungan. Kebiasaan ini bisa dimulai dengan mengisi ulang air minum sebelum bepergian, membawa botol sendiri saat bekerja atau kuliah, serta memanfaatkan fasilitas pengisian air minum yang tersedia di ruang publik.
Ketersediaan fasilitas isi ulang di kampus, kantor, pusat olahraga, dan tempat umum juga berperan dalam mendukung kebiasaan tersebut. Dengan akses air minum yang mudah, masyarakat memiliki lebih banyak pilihan untuk mengurangi ketergantungan pada air minum dalam kemasan.
Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab