JAKARTA - Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa tren pakaian saat ini berubah begitu cepat dengan harga yang sangat murah? Selamat datang di era fast fashion.
Secara harfiah, fast fashion atau "pakaian cepat saji" adalah model bisnis industri tekstil yang mereplikasi tren pakaian dari panggung catwalk atau budaya pop secara kilat, lalu memproduksinya secara massal dengan biaya serendah mungkin. Alih-alih merilis pakaian berdasarkan empat musim tradisional, merek-merek fast fashion global kini bisa mengeluarkan puluhan "mikro-musim" baru dalam satu tahun untuk terus memicu hasrat konsumtif pembeli.
Namun, harga murah yang tertera di label baju tersebut sebenarnya dibayar mahal oleh planet bumi. Industri ini memicu dampak lingkungan dan sosial yang masif, mulai dari gunungan limbah pakaian yang tidak terurai, polusi mikroplastik di lautan, hingga eksploitasi tenaga kerja dengan upah tidak layak di negara-negara berkembang.
Belakangan, sorotan dunia tidak hanya tertuju pada limbah pakaian jadi, melainkan melompat jauh ke hulu: dari mana bahan baku pakaian tersebut berasal?
Ilusi Hijau di Balik Serat Alami
Untuk menekan harga produksi namun tetap menjaga kenyamanan konsumen di iklim tropis, industri fast fashion sangat bergantung pada serat kain yang lembut, sejuk, menyerupai sutra, namun berbiaya murah. Pilihan utama mereka jatuh pada serat kain semi-sintetis seperti Viscose (Viskose), Rayon, dan Modal.
Secara sekilas, bahan-bahan ini terkesan sangat ramah lingkungan karena diberi label sebagai "serat alami". Bahan-bahan ini memang bukan plastik (poliester), melainkan dibuat dari selulosa atau bubur kayu pohon.
Di sinilah letak persoalan utamanya. Industri fast fashion skala global membutuhkan pasokan kayu yang luar biasa masif untuk diubah menjadi pakaian. Akibatnya, rantai pasok global ini langsung menghantam jantung hutan alam di negara-negara tropis, dan salah satu yang paling terdampak adalah Indonesia.








