Pertanyaan yang banyak muncul dari fenomena Marapthon Reza Arap adalah: mengapa konten yang dipersepsikan menampilkan kondisi mabuk atau konsumsi alkohol masih bisa dianggap aman di platform?
Jawabannya tidak sederhana.
Dalam regulasi platform digital, tidak semua konten alkohol otomatis dilarang. Yang biasanya menjadi perhatian adalah konteks, usia penonton, promosi produk, dorongan konsumsi berlebihan, bahaya fisik, serta apakah konten itu melanggar kebijakan komunitas atau kelayakan iklan.
YouTube menyatakan live content harus mematuhi Community Guidelines. Artinya, siaran langsung tidak punya pengecualian khusus hanya karena terjadi secara real time. YouTube juga memiliki kebijakan tentang barang dan layanan yang diatur. Konten yang dimaksudkan untuk menjual barang atau layanan tertentu yang diatur tidak diperbolehkan, meskipun ada pengecualian untuk konteks edukatif, dokumenter, ilmiah, artistik, atau kepentingan publik.
Selain itu, pedoman konten berbahaya YouTube berlaku untuk video, deskripsi, komentar, live stream, dan produk YouTube lainnya. Kebijakan itu melarang tindakan berbahaya, tantangan ekstrem, atau konten yang menimbulkan risiko cedera serius.
Dari sini, dapat dipahami mengapa konten konsumsi alkohol bisa berada di wilayah abu-abu. Ia mungkin tidak melanggar jika hanya tampil sebagai bagian dari aktivitas orang dewasa. Tetapi ia bisa bermasalah jika mendorong konsumsi berlebihan, menampilkan tindakan berbahaya, menargetkan anak di bawah umur, atau dikaitkan dengan promosi alkohol.
Karena itu, istilah “aman” perlu dibaca hati-hati.
Aman dari takedown bukan berarti bebas kritik. Aman secara teknis bukan berarti sehat secara sosial. Aman menurut algoritma belum tentu aman bagi penonton muda.
Dalam konteks Indonesia, persoalan ini semakin penting karena live streaming kreator besar tidak selalu hanya dikonsumsi orang dewasa. Potongan konten bisa menyebar ke TikTok, Instagram, X, atau YouTube Shorts, lalu keluar dari konteks awalnya.
Di sinilah tanggung jawab kreator menjadi lebih besar daripada sekadar mematuhi syarat minimum platform.
Kreator dapat mengambil langkah pencegahan: memberi batas usia, menghindari glorifikasi mabuk, tidak menjadikan konsumsi alkohol sebagai tantangan, tidak mendorong penonton meniru, dan memberi konteks bahwa perilaku tertentu bukan contoh untuk diikuti.
Bagi platform, kasus seperti Marapthon menunjukkan perlunya pengawasan yang lebih sensitif terhadap live streaming panjang. Moderasi konten live tidak mudah, tetapi bukan berarti mustahil. Sistem pelaporan, age restriction, demonetisasi, dan peninjauan manual tetap perlu bekerja.
Pada akhirnya, regulasi digital bukan hanya soal boleh atau dilarang. Ia juga soal tanggung jawab: bagaimana ruang hiburan tetap kreatif tanpa mengabaikan perlindungan penonton.








