Runtut.com

Generasi yang Dihutangi Sistemnya Sendiri

Outstanding pinjol Indonesia tembus Rp101 triliun, 86,6% peminjamnya Gen Z dan milenial. Ini bukan soal gaya hidup boros. Ini soal upah yang tidak pernah cukup.

5 menit baca
19
Generasi yang Dihutangi Sistemnya Sendiri
Laporan LPEM FEB UI (2024): 19,3 juta pekerja Indonesia terpaksa mengambil pekerjaan tambahan karena satu gaji tidak lagi cukup menutupi biaya hidup. — Foto: Kompas.com/ Ruby Rachmadina

Pada suatu hari di 2025, seorang perempuan bernama Indie, 28 tahun, pekerja di sektor kesehatan, duduk di depan ponselnya dan mendapati bahwa ia bisa mencairkan pinjaman Rp16 juta dalam waktu kurang dari satu menit. Penghasilannya waktu itu sekitar Rp12 juta per bulan. Ia mengambilnya. "Saya awalnya tidak berniat menarik sebanyak itu," katanya kepada The Straits Times. "Tapi ketika tahu bisa, saya pikir kenapa tidak?"

Pertanyaan itu, "kenapa tidak?", adalah inti dari seluruh persoalan ini.

Bukan karena Indie tidak cerdas. Bukan karena ia tidak tahu risiko. Tapi karena sistemnya memang dirancang untuk membuat pertanyaan itu terasa masuk akal, bahkan di saat yang seharusnya menjadi momen jeda.

Per Maret 2026, outstanding pinjaman online Indonesia telah menembus Rp101,03 triliun, naik 25,75 persen dibanding tahun sebelumnya, berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan. Sebesar Rp37,87 triliun dari angka itu adalah utang kelompok usia 19-34 tahun, dengan jumlah rekening penerima mencapai 14 juta entitas. Survei APJII tahun 2025 mencatat bahwa 86,6 persen peminjam online di Indonesia adalah generasi milenial dan Gen Z. Mereka bukan hanya pengguna terbesar. Mereka juga tercatat sebagai penyumbang gagal bayar terbesar, dengan porsi kredit macet di atas 90 hari (TWP90) dari kelompok usia 19-34 tahun mencapai 48,65 persen per Maret 2026.

Respons mudah terhadap data ini adalah menyebut generasi ini konsumtif, tidak disiplin, dan tidak melek keuangan. Itu kesimpulan yang nyaman, karena ia memindahkan semua tanggung jawab ke individu dan membebaskan kita dari pertanyaan yang lebih tidak nyaman: mengapa begitu banyak anak muda membutuhkan utang untuk bertahan hidup?

Jawaban pertama ada di data yang lebih dingin. Indonesia Millennial and Gen Z Report 2025 yang disusun IDN Research Institute dengan 1.500 responden menemukan bahwa lebih dari 66 persen Gen Z dan milenial menyatakan biaya hidup yang terus meningkat adalah tantangan finansial utama mereka. Inflasi pangan selama empat tahun terakhir tumbuh 5,6 persen, sementara pertumbuhan upah minimum hanya 4,9 persen, menurut data Bank Indonesia. Upah rata-rata pekerja muda di sektor formal berkisar antara Rp2,2 juta hingga Rp3,4 juta, sementara upah minimum di 32 dari 38 provinsi masih berada di bawah standar Kebutuhan Hidup Layak (KHL), termasuk di Jakarta, menurut laporan Labor Market Brief LPEM FEB UI (Agustus 2024).

Kondisi ini melahirkan apa yang oleh peneliti ekonomi disebut sebagai compressed middle class trap, yaitu ketika pendapatan nominal naik sangat lambat sementara pengeluaran dasar melonjak cepat, sehingga ruang untuk menabung nyaris habis. Laporan yang sama dari LPEM FEB UI mencatat sekitar 19,3 juta pekerja Indonesia terpaksa mengambil pekerjaan tambahan karena satu gaji tidak lagi cukup. Banyak pekerja muda di kota besar kini menghabiskan lebih dari 60 persen penghasilan mereka hanya untuk biaya hidup dasar dan sewa tempat tinggal. Kepemilikan rumah, yang dalam generasi sebelumnya dianggap pencapaian wajar di usia 30-an, kini hanya dimiliki oleh 29 persen orang Indonesia usia 25-34 tahun, menurut laporan IDN Research Institute 2026.

Di sinilah pinjol dan paylater masuk dengan sempurna, bukan sebagai produk kemewahan, melainkan sebagai tambal sulam.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
Dari BI-Rate ke Cicilan, Perjalanan Panjang Bunga Acuan
Ekonomi

Dari BI-Rate ke Cicilan, Perjalanan Panjang Bunga Acuan

Mengapa BI-Rate naik atau turun tak langsung mengubah cicilan dan bunga deposito? Ini perjalanan suku bunga acuan hingga ke dompet, lengkap dengan simulasi.

Tegar Herlambang· 1 minggu lalu
Kenapa Harga Cabai Gampang Meroket? Ini Ilmu Ekonominya
Ekonomi

Kenapa Harga Cabai Gampang Meroket? Ini Ilmu Ekonominya

Harga cabai bisa jatuh di bawah Rp10 ribu lalu meroket puluhan ribu. Ini penjelasan ekonominya, dari permintaan yang inelastis sampai rantai distribusi.

Tegar Herlambang· 1 minggu lalu
BI Tahan Bunga 5,75 Persen, Rupiah Belum Lepas dari Tekanan
Ekonomi

BI Tahan Bunga 5,75 Persen, Rupiah Belum Lepas dari Tekanan

Bank Indonesia menahan BI-Rate 5,75 persen untuk ketiga kalinya. Rupiah masih bergerak di sekitar Rp17.900 per dolar AS di tengah harga minyak tinggi.

Tegar Herlambang· 1 minggu lalu
Inflasi September 3,28 Persen, Cabai dan Emas Jadi Pemicu
Ekonomi

Inflasi September 3,28 Persen, Cabai dan Emas Jadi Pemicu

BPS mencatat inflasi September 2026 sebesar 3,28 persen secara tahunan. Cabai rawit, daging ayam, dan emas perhiasan jadi pendorong utamanya.

Tegar Herlambang· 2 minggu lalu
APBN 2027 Disahkan, Pemerintah Tetapkan Defisit 2,4 Persen untuk Jaga Pertumbuhan Ekonomi
Ekonomi

APBN 2027 Disahkan, Pemerintah Tetapkan Defisit 2,4 Persen untuk Jaga Pertumbuhan Ekonomi

Pemerintah menyiapkan delapan fokus pembangunan dalam APBN 2027, mulai dari pangan, energi, pendidikan, hingga penguatan ekonomi masyarakat.

Rachmaddani Rizki Saputra· 2 minggu lalu
Pertumbuhan Ekonomi RI Capai 5,29 Persen di Triwulan II-2026, PDB Tembus Rp6.552,1 Triliun
Ekonomi

Pertumbuhan Ekonomi RI Capai 5,29 Persen di Triwulan II-2026, PDB Tembus Rp6.552,1 Triliun

Ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen pada triwulan II-2026. BPS menyebut konsumsi pemerintah menjadi salah satu pendorong utama.

Rachmaddani Rizki Saputra· 6 Agustus 2026