Runtut.com

Karhutla Kalimantan Tengah: Krisis Lingkungan dan lunturnya tanggung jawab kepemimpinan

Karhutla di Kalimantan Tengah menjadi ujian tanggung jawab pemerintah. Simak kritik terhadap kebijakan, penegakan hukum, dan respons atas aspirasi masyarakat.

6 menit baca
2
hancurnya kepercayaan publik pada pemerintahan
Ilustrasi simbol tiga jari (three-finger salute) yang dimaknai sebagai simbol perlawanan — pinterest

RUNTUT.COM - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah tidak lagi bisa dipahami hanya sebagai persoalan lingkungan yang datang berulang setiap musim kemarau. Lebih dari itu, kondisi ini menjadi gambaran yang memperlihatkan bagaimana pemerintah menjalankan tanggung jawabnya sebagai pemegang kekuasaan. Ketika kebakaran semakin meluas, udara dipenuhi kabut asap, kesehatan masyarakat terancam, dan kerusakan alam terus terjadi, persoalan yang muncul bukan semata-mata tentang bencana, tetapi juga mengenai keseriusan pemerintah dalam menjalankan kewajibannya melindungi masyarakat.

Kalimantan Tengah memiliki kondisi geografis dan lingkungan yang cukup rentan terhadap kebakaran hutan dan lahan, khususnya karena keberadaan kawasan gambut yang mudah terbakar ketika mengalami kekeringan. Permasalahan ini juga bukan kejadian yang baru pertama kali dihadapi. Pemerintah seharusnya telah memiliki pengalaman dan pembelajaran dari berbagai peristiwa karhutla sebelumnya. Namun, apabila kebakaran masih terus terjadi dengan persoalan yang hampir sama, tentu masyarakat memiliki alasan untuk mempertanyakan apakah kebijakan yang selama ini diterapkan benar-benar memberikan perubahan atau hanya menjadi respons sementara setiap kali bencana muncul.

Hal yang semakin mengundang perhatian adalah munculnya aksi mahasiswa yang turun ke jalan untuk menyampaikan kritik dan tuntutan terkait penanganan karhutla. Sayangnya, respons pemerintah dinilai belum menunjukkan keterbukaan yang diharapkan oleh masyarakat. Padahal, kehadiran mahasiswa dalam aksi demonstrasi bukan hanya untuk menyampaikan ketidakpuasan, melainkan juga sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi daerahnya. Mereka membawa suara masyarakat yang berharap adanya perubahan dan penyelesaian nyata. Dalam kehidupan demokrasi, mahasiswa memiliki peran penting sebagai bagian dari masyarakat sipil yang mengawasi jalannya pemerintahan.

Keadaan tersebut kemudian memunculkan pertanyaan mengenai nilai moral yang dimiliki seorang pemimpin. Bagaimana mungkin kekuasaan dapat dijalankan dengan baik apabila suara masyarakat yang menyampaikan keresahan justru tidak memperoleh perhatian yang semestinya? Jabatan publik seharusnya tidak membuat seorang pemimpin merasa lebih tinggi daripada masyarakat yang dipimpinnya. Kritik bukanlah sesuatu yang harus dianggap sebagai ancaman, melainkan bentuk kepedulian sekaligus pengingat bahwa setiap kebijakan pemerintah memiliki konsekuensi terhadap kehidupan rakyat.

Memang, tidak semua tuntutan yang disampaikan mahasiswa harus diterima begitu saja oleh pemerintah. Akan tetapi, pemerintah tetap memiliki kewajiban untuk mendengarkan, memberikan penjelasan, dan membuka ruang komunikasi yang sehat. Sikap diam atau kurangnya respons terhadap aspirasi masyarakat dapat menimbulkan kesan bahwa pemerintah tidak cukup terbuka terhadap pengawasan publik. Padahal, salah satu bentuk tanggung jawab pemimpin adalah bersedia mempertanggungjawabkan setiap keputusan dan kebijakan yang dijalankan.

Seorang pemimpin seharusnya tidak hanya berusaha mempertahankan citra dan kewibawaannya di hadapan masyarakat. Hal yang jauh lebih penting adalah memiliki keberanian untuk mengakui kekurangan, menerima masukan, dan memperbaiki kebijakan yang terbukti belum efektif. Ketika kritik mahasiswa justru dipandang sebagai gangguan, pemerintah berisiko kehilangan kesempatan untuk mengetahui persoalan yang sebenarnya terjadi di lapangan. Kekuasaan yang tidak disertai keterbukaan terhadap kritik pada akhirnya dapat menjauhkan pemerintah dari masyarakatnya sendiri.

Penegakan Hukum dan Pengawasan Lingkungan

Selain persoalan kepemimpinan, penegakan hukum juga menjadi bagian penting yang tidak boleh diabaikan dalam penanganan karhutla. Hukum harus diterapkan secara adil tanpa membedakan latar belakang maupun kekuatan ekonomi seseorang. Jangan sampai masyarakat kecil mendapatkan tindakan tegas, sementara pihak yang memiliki pengaruh besar justru tidak tersentuh oleh proses hukum ketika terbukti melakukan pelanggaran. Apabila ditemukan perusahaan atau individu yang terbukti bertanggung jawab atas kebakaran, pemerintah dan aparat penegak hukum harus memastikan bahwa proses penanganannya berjalan sesuai peraturan yang berlaku.

Pemerintah daerah juga perlu memperhatikan lemahnya pengawasan terhadap aktivitas pembukaan lahan dan pengelolaan kawasan yang memiliki risiko kebakaran tinggi. Pencegahan karhutla tidak cukup hanya dengan mengingatkan masyarakat agar tidak membakar lahan. Diperlukan pengawasan yang lebih serius, pemeriksaan kepatuhan terhadap aturan lingkungan, evaluasi perizinan, serta koordinasi yang kuat antara pemerintah daerah dan seluruh lembaga terkait. Jika perhatian hanya diberikan ketika api sudah muncul, maka penanganan karhutla akan terus terjebak dalam pola yang sama tanpa menyelesaikan penyebab utamanya.

Hal yang patut dipertanyakan adalah apakah langkah-langkah yang selama ini dilakukan pemerintah benar-benar memberikan penyelesaian, atau hanya memperlihatkan aktivitas penanganan di hadapan masyarakat. Pembentukan posko, pelaksanaan rapat koordinasi, pengerahan petugas, dan pemantauan titik panas memang dibutuhkan. Namun, semua kegiatan tersebut tidak dapat dijadikan satu-satunya ukuran keberhasilan. Pemerintah perlu membuktikan bahwa berbagai kebijakan tersebut mampu menurunkan risiko kebakaran, memperkuat pencegahan, dan mengurangi dampak yang harus ditanggung masyarakat.

Dampak Karhutla dan Hak Masyarakat atas Perlindungan

Dampak karhutla sendiri tidak hanya dirasakan melalui kerusakan hutan, tetapi juga menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat. Kabut asap dapat menyebabkan gangguan kesehatan, menghambat kegiatan belajar mengajar, mengganggu pekerjaan, serta menurunkan aktivitas perekonomian. Kelompok rentan seperti anak-anak dan lanjut usia memiliki risiko lebih besar ketika kualitas udara memburuk. Oleh karena itu, pemerintah tidak cukup hanya menyampaikan bahwa proses penanganan sedang berlangsung. Masyarakat membutuhkan tindakan nyata berupa pelayanan kesehatan, informasi kualitas udara yang mudah diakses, perlindungan terhadap kelompok rentan, serta langkah cepat untuk mengendalikan kebakaran.

Transparansi anggaran juga perlu menjadi perhatian dalam mengevaluasi kinerja pemerintah. Masyarakat berhak mengetahui bagaimana dana penanggulangan karhutla digunakan, sejauh mana fasilitas pemadaman tersedia, bagaimana kesiapan petugas di lapangan, dan apakah program pencegahan benar-benar dilaksanakan. Penggunaan anggaran publik harus dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka. Sebab, keberadaan anggaran dan program pemerintah seharusnya menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat, bukan sekadar tercatat dalam dokumen administrasi.

Pada dasarnya, keberhasilan kepemimpinan tidak dapat dinilai hanya berdasarkan tingginya jabatan atau banyaknya kebijakan yang diumumkan. Seorang pemimpin justru diuji ketika masyarakat sedang menghadapi kesulitan dan ketika kritik mulai disampaikan. Dalam keadaan seperti itu, dibutuhkan sikap bertanggung jawab, keberanian mengambil keputusan, serta kesediaan untuk melakukan evaluasi. Menjaga nama baik pemerintahan tidak seharusnya menjadi alasan untuk menghindari persoalan atau menutup ruang kritik dari masyarakat.

Apabila mahasiswa yang menyampaikan aspirasi saja tidak mendapatkan tanggapan yang jelas, tentu muncul pertanyaan mengenai sejauh mana pemerintah memberikan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan pendapat. Sampai kapan masyarakat harus menghadapi persoalan yang terus berulang tanpa melihat perubahan yang berarti? Apakah pemerintah baru akan benar-benar memberikan perhatian ketika kerusakan lingkungan semakin luas dan semakin banyak masyarakat yang menjadi korban? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat tidak hanya menginginkan pernyataan pemerintah, tetapi juga menuntut adanya pertanggungjawaban yang dapat dibuktikan melalui tindakan.

Menurut saya, karhutla di Kalimantan Tengah seharusnya menjadi bahan evaluasi besar terhadap kualitas kebijakan sekaligus integritas para pemimpinnya. Pemerintah perlu menunjukkan bahwa setiap kritik yang muncul memiliki arti dan dapat menjadi dasar untuk memperbaiki kinerja. Mahasiswa dan masyarakat harus diberikan kesempatan untuk menyampaikan pendapat tanpa merasa diabaikan. Ruang dialog yang terbuka diperlukan agar perbedaan pandangan tidak berakhir menjadi konflik, tetapi dapat menghasilkan solusi yang benar-benar dibutuhkan daerah.

Pada akhirnya, kekuasaan merupakan tanggung jawab yang harus dijalankan dengan kesadaran moral, bukan sekadar kewenangan untuk mengatur. Jabatan publik adalah amanah yang menuntut kejujuran, kepedulian, dan keberanian untuk mempertanggungjawabkan setiap keputusan. Ketika seorang pemimpin tidak lagi peka terhadap penderitaan masyarakat dan enggan menerima kritik, maka kepercayaan publik terhadap pemerintah akan semakin dipertaruhkan. Kepemimpinan seharusnya tidak hanya berbicara tentang kewenangan, tetapi juga tentang keberpihakan terhadap kepentingan masyarakat.

Kalimantan Tengah membutuhkan pemerintah yang tidak hanya hadir melalui pernyataan dan kegiatan seremonial, tetapi mampu menunjukkan hasil nyata dalam menyelesaikan persoalan karhutla. Dibutuhkan pemimpin yang terbuka terhadap kritik, berani mengevaluasi kebijakan, tegas dalam penegakan hukum, dan tidak membiarkan masyarakat berjuang sendiri menghadapi dampak bencana. Sebab, yang dibutuhkan masyarakat bukan sekadar janji bahwa keadaan akan membaik, melainkan bukti bahwa pemerintah benar-benar menjalankan tanggung jawabnya.

Jangan sampai kekuasaan justru membuat seorang pemimpin lupa kepada siapa tanggung jawab itu diberikan. Sebab, seorang pemimpin tidak dinilai dari seberapa kuat ia mempertahankan jabatannya, tetapi dari seberapa besar keberanian dan kepeduliannya dalam melindungi masyarakat yang telah memberikan kepercayaan kepadanya.

Tentang Penulis
  • DA
    Della Abiyah Meilanie Purinalmas

    Della Abiyah merupakan mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan, Universitas Muhammadiyah Malang. Saya memiliki ketertarikan pada dunia politik, isu pemerintahan, dan lingkungan, serta senang mengamati berbagai fenomena sosial dan perkembangan isu aktual. Bagi saya, menulis opini menjadi salah satu cara untuk menyampaikan pandangan kritis terhadap berbagai persoalan yang terjadi di masyarakat. Di sisi lain, saya juga memiliki ketertarikan pada dunia lifestyle, khususnya fashion dan makeup, sebagai bentuk ekspresi diri dan kreativitas.

Artikel ini merupakan tulisan kontribusi. Isi dan pendapat sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mencerminkan sikap redaksi Runtut.com.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
Banjir Bandang Terjang Gayo Lues, 130 Keluarga Terdampak
Bencana Alam dan Krisis

Banjir Bandang Terjang Gayo Lues, 130 Keluarga Terdampak

Banjir bandang menerjang Gayo Lues, Aceh, setelah tanggul sungai jebol. Sebanyak 130 keluarga terdampak akibat luapan air.

Muhammad Rafi Ashidiq· 2 hari lalu
Kondisi Karhutla Jambi Membaik, Titik Panas Berkepercayaan Tinggi Tak Lagi Terdeteksi
Bencana Alam dan Krisis

Kondisi Karhutla Jambi Membaik, Titik Panas Berkepercayaan Tinggi Tak Lagi Terdeteksi

Kondisi karhutla Jambi membaik dengan nihilnya hotspot berkepercayaan tinggi, tetapi pemadaman dan pencegahan kebakaran masih terus dilakukan.

Muhammad Rafi Ashidiq· 5 hari lalu
Malaysia Tawarkan Pesawat Amfibi dan Helikopter untuk Bantu Atasi Karhutla Indonesia
Bencana Alam dan Krisis

Malaysia Tawarkan Pesawat Amfibi dan Helikopter untuk Bantu Atasi Karhutla Indonesia

Malaysia menawarkan pesawat amfibi, helikopter, dan 44 personel untuk membantu penanganan karhutla di Indonesia. BNPB masih mengkaji kebutuhan operasi.

Muhammad Rafi Ashidiq· 5 hari lalu
Karhutla Ciremai Padam, Habitat Satwa Endemik Terancam
Bencana Alam dan Krisis

Karhutla Ciremai Padam, Habitat Satwa Endemik Terancam

Karhutla Gunung Ciremai telah padam, tetapi habitat satwa endemik terancam. Bayi surili Jawa berhasil diselamatkan dan kembali ke induknya.

Muhammad Rafi Ashidiq· 5 hari lalu
Ketika Ibu Pertiwi Dinyanyikan di Tengah Kabut Asap Palangka Raya
Bencana Alam dan Krisis

Ketika Ibu Pertiwi Dinyanyikan di Tengah Kabut Asap Palangka Raya

Di tengah langit yang diselimuti asap, lantunan Ibu Pertiwi dari para siswi Palangka Raya menghadirkan kisah tentang duka, ironi, dan harapan bagi lingkungan.

Muhammad Rafi Ashidiq· 5 hari lalu
Hujan Guyur Gunung Arjuno, Kebakaran di Pasuruan Mulai Padam
Bencana Alam dan Krisis

Hujan Guyur Gunung Arjuno, Kebakaran di Pasuruan Mulai Padam

Hujan mengguyur Gunung Arjuno saat karhutla melanda Jawa Timur. Sebagian besar titik api di Pasuruan mulai padam, tetapi pemantauan berlanjut.

Muhammad Rafi Ashidiq· 1 minggu lalu