Runtut.com

Karhutla Ciremai Padam, Habitat Satwa Endemik Terancam

Karhutla Gunung Ciremai telah padam, tetapi habitat satwa endemik terancam. Bayi surili Jawa berhasil diselamatkan dan kembali ke induknya.

3 menit baca
1
potret surili satwa yang berhasil di evakuasi dalam karhutla Gunung Ciremai, Jawa Barat.
potret surili satwa yang berhasil di evakuasi dalam karhutla Gunung Ciremai, Jawa Barat. — Instagram - @gunung_ciremai

JAWA BARAT - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Gunung Ciremai, Jawa Barat, telah berhasil dipadamkan. Namun, kebakaran yang berlangsung sejak Rabu (21/10/2026) itu menyisakan persoalan bagi satwa liar yang bergantung pada hutan sebagai habitatnya.

Salah satu kejadian yang menggambarkan ancaman tersebut adalah penyelamatan seekor bayi surili Jawa yang ditemukan di tengah kebakaran. Primata endemik Pulau Jawa itu ditemukan dalam kondisi lemas di dahan pohon yang terbakar di kawasan Puncak Dulang, Gunung Ciremai, pada Kamis (22/10/2026) malam.

Bayi surili tersebut ditemukan oleh Darsa, anggota Masyarakat Peduli Api (MPA) Padabeunghar Silihwangi Majakuning yang akrab disapa Dodo. Saat membantu memadamkan api sekitar pukul 23.00 WIB, Dodo mendengar suara hewan yang kemudian diketahui berasal dari bayi surili yang terjebak di pohon terbakar.

Dodo memperkirakan bayi surili itu baru berusia sekitar satu minggu karena tali pusarnya masih menempel. Kondisinya lemas setelah terpapar asap kebakaran dan diduga terpisah dari induknya ketika kelompoknya berusaha menyelamatkan diri dari api.

Setelah dievakuasi ke tempat yang lebih aman dan kondisinya membaik, Dodo bersama relawan berusaha mencari induknya. Pada Jumat (23/10/2026) pagi, bayi surili tersebut akhirnya dipertemukan kembali dengan induknya di kawasan yang belum terbakar, sekitar 300 meter dari lokasi penemuan.

Dodo juga menemukan sekitar 15 surili bersama induk bayi tersebut. Kelompok itu diduga berpindah menuju kawasan yang lebih aman untuk menghindari kebakaran.

Api Padam, Habitat Satwa Ikut Terdampak

Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) menyatakan titik api di kawasan tersebut telah berhasil dipadamkan. Meski demikian, dampak kebakaran terhadap ekosistem masih menjadi perhatian, terutama karena area yang terbakar merupakan habitat sejumlah satwa endemik dan dilindungi.

Koordinator Urusan Data Evaluasi Pelaporan dan Kehumasan Balai TNGC, Eska Nata Suryana, menyebut tiga satwa kunci yang menjadi perhatian di kawasan tersebut, yakni surili Jawa, elang Jawa, dan macan tutul Jawa.

Area Bintangot dan Panyusupan yang terdampak kebakaran juga merupakan lokasi pemantauan macan tutul. Satwa liar diperkirakan dapat bergerak menuju bagian hutan yang belum terbakar untuk menyelamatkan diri.

Namun, Balai TNGC belum dapat memastikan jumlah satwa yang terdampak. Kajian lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui sejauh mana kebakaran memengaruhi keberadaan satwa liar di kawasan konservasi tersebut.

Pemulihan Habitat Membutuhkan Waktu

Berakhirnya kebakaran bukan berarti pemulihan ekosistem dapat dilakukan dalam waktu singkat. Balai TNGC menyebut pemulihan kawasan yang terbakar membutuhkan waktu minimal tiga tahun.

Upaya yang disiapkan meliputi penanaman intensif, pemeliharaan sekat bakar, suksesi alam, serta pengayaan tanaman. Pada tahun pertama, pemulihan difokuskan pada penanaman, kemudian dilanjutkan dengan pemeliharaan pada tahun kedua dan ketiga.

Pemulihan vegetasi menjadi penting untuk mengembalikan fungsi hutan sebagai tempat berlindung, mencari makan, dan berkembang biak bagi satwa liar.

Kisah bayi surili yang berhasil kembali ke induknya menjadi salah satu kabar baik di tengah kebakaran Gunung Ciremai. Namun, kondisi tersebut juga memperlihatkan bagaimana kebakaran dapat mengganggu kehidupan satwa yang bergantung pada kelestarian hutan.

Meski titik api telah padam, pemulihan habitat dan pemantauan satwa masih diperlukan untuk menjaga keberlangsungan ekosistem Gunung Ciremai.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
Ketika Ibu Pertiwi Dinyanyikan di Tengah Kabut Asap Palangka Raya
Bencana Alam dan Krisis

Ketika Ibu Pertiwi Dinyanyikan di Tengah Kabut Asap Palangka Raya

Di tengah langit yang diselimuti asap, lantunan Ibu Pertiwi dari para siswi Palangka Raya menghadirkan kisah tentang duka, ironi, dan harapan bagi lingkungan.

Muhammad Rafi Ashidiq· 55 menit lalu
Hujan Guyur Gunung Arjuno, Kebakaran di Pasuruan Mulai Padam
Bencana Alam dan Krisis

Hujan Guyur Gunung Arjuno, Kebakaran di Pasuruan Mulai Padam

Hujan mengguyur Gunung Arjuno saat karhutla melanda Jawa Timur. Sebagian besar titik api di Pasuruan mulai padam, tetapi pemantauan berlanjut.

Muhammad Rafi Ashidiq· 5 hari lalu
Gunung Ciremai Kembali Terbakar, Petugas dan Warga Bergerak ke Lokasi
Bencana Alam dan Krisis

Gunung Ciremai Kembali Terbakar, Petugas dan Warga Bergerak ke Lokasi

Gunung Ciremai kembali terbakar pada Rabu malam. Petugas dan warga bergerak ke lokasi untuk menangani kebakaran di kawasan konservasi Kuningan.

Muhammad Rafi Ashidiq· 5 hari lalu
Karhutla di Gunung Ciremai Belum Padam, Petugas Siaga
Bencana Alam dan Krisis

Karhutla di Gunung Ciremai Belum Padam, Petugas Siaga

Titik api di kawasan TNGC Kuningan masih diupayakan padam oleh tim gabungan. Warga diminta melapor jika menemukan potensi pemicu kebakaran baru.

Lusianti Dwi Cahyani· 5 hari lalu
Karhutla Melanda Gunung Lawu, Ratusan Personel Dikerahkan
Bencana Alam dan Krisis

Karhutla Melanda Gunung Lawu, Ratusan Personel Dikerahkan

Kebakaran di lereng Gunung Lawu menjadi perhatian setelah api melanda kawasan hutan dan memicu pengerahan personel gabungan untuk pemadaman.

Muhammad Rafi Ashidiq· 6 hari lalu
Aksi Damai TRC PPA Kaltim di Kantor Gubernur Desak Penanganan Karhutla dan Perlindungan Kelompok Rentan
Bencana Alam dan Krisis

Aksi Damai TRC PPA Kaltim di Kantor Gubernur Desak Penanganan Karhutla dan Perlindungan Kelompok Rentan

TRC PPA Kaltim menggelar aksi di Kantor Gubernur pada 19 Oktober 2026, mendesak penguatan penanganan karhutla dan perlindungan kesehatan masyarakat rentan.

Mila Nabilah· 6 hari lalu