Di tengah langit yang diselimuti asap, lantunan Ibu Pertiwi dari para siswi Palangka Raya menghadirkan kisah tentang duka, ironi, dan harapan bagi lingkungan.
KALIMANTAN TENGAH – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, membuat siswa PAUD, SD, dan SMP kembali menjalani pembelajaran jarak jauh (PJJ) hingga 28 Oktober 2026. Di tengah kualitas udara yang masih berbahaya, video sejumlah siswi SMAK St. Aloysius Palangka Raya melantunkan lagu Ibu Pertiwi di bawah langit menguning turut menarik perhatian publik di media sosial.
Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya memperpanjang pelaksanaan PJJ pada Senin (26/10/2026). Kebijakan tersebut ditujukan untuk melindungi kesehatan dan keselamatan peserta didik dari paparan kabut asap yang belum mereda.
Perpanjangan pembelajaran dari rumah menunjukkan bahwa dampak karhutla telah mengganggu kegiatan pendidikan, selain memengaruhi kondisi lingkungan dan aktivitas masyarakat.
Sementara itu, video yang diunggah akun TikTok @romanus_17 pada Sabtu (24/10/2026) memperlihatkan langit Palangka Raya yang tampak kekuningan akibat kepungan asap. Dalam keterangan unggahannya, kabut asap disebut telah berlangsung selama tiga bulan.
Durasi tersebut menggambarkan panjangnya persoalan yang dihadapi warga, meskipun keterangan dalam unggahan media sosial itu belum dapat diperlakukan sebagai verifikasi resmi mengenai lamanya paparan asap di seluruh wilayah kota.
Di tengah kondisi tersebut, sejumlah siswi SMAK St. Aloysius melantunkan lagu Ibu Pertiwi. Lagu yang dikenal sebagai ungkapan kesedihan atas keadaan tanah air itu diperdengarkan sebagai bentuk keprihatinan terhadap kondisi lingkungan.
Perpaduan suara para siswi dan pemandangan langit yang menguning menghadirkan gambaran tentang dampak karhutla yang dirasakan masyarakat setempat.
Unggahan tersebut juga memuat ajakan untuk merawat bumi sebagai tempat tinggal bersama dan menjaga harapan agar keadaan kembali membaik. Respons publik terhadap video itu memperlihatkan bagaimana media sosial dapat menjadi ruang untuk menyampaikan keresahan mengenai persoalan lingkungan melalui ekspresi seni.
Namun, kabut asap bukan sekadar persoalan pemandangan yang berubah. Paparan asap kebakaran dapat mengganggu kesehatan, terutama sistem pernapasan. Risiko tersebut menjadi perhatian penting bagi anak-anak karena mereka masih berada dalam masa pertumbuhan.
Ketika kualitas udara memburuk, pembatasan aktivitas di luar ruangan dan penyesuaian kegiatan belajar dapat menjadi langkah perlindungan, sesuai dengan arahan otoritas setempat.
Perpanjangan PJJ juga memperlihatkan konsekuensi lain dari karhutla. Perubahan metode pembelajaran dapat memengaruhi rutinitas siswa, guru, dan keluarga. Karena itu, penanganan kebakaran dan pemulihan kualitas udara menjadi penting agar kegiatan pendidikan dapat kembali berlangsung secara normal.
Lantunan Ibu Pertiwi dalam video tersebut pada akhirnya menjadi pengingat tentang hubungan antara kondisi lingkungan dan kehidupan sehari-hari. Pemulihan tidak cukup ditandai dengan langit yang kembali cerah, tetapi juga perlu memastikan udara aman dihirup dan masyarakat dapat kembali beraktivitas tanpa ancaman kabut asap.
Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab