Runtut.com

Papua Jadi Episentrum Baru Karhutla: Ribuan Hektare Terbakar hingga Ancam TN Wasur

Kebakaran hutan dan lahan di Tanah Papua meluas hingga awal November 2026. Dengan area terbakar menembus ribuan hektare di Papua Barat dan Papua Selatan.

3 menit baca
Sejak muncul pertama kali di Nabire pada Juli lalu, titik panas Karhutla terus menyebar hingga ke Papua Pegunungan. Simak
Sejak muncul pertama kali di Nabire pada Juli lalu, titik panas Karhutla terus menyebar hingga ke Papua Pegunungan. Simak rincian wilayah terdampak parah dan tantangan besar petugas di lapangan saat menghadapi ancaman kebakaran hutan tahun ini. — Dok. Istimewa

PAPUA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi masalah serius dan telah menjadikan Papua sebagai episentrum baru karhutla di Indonesia hingga awal November 2026. 

Titik api karhutla Papua pertama kali dilaporkan muncul pada 18 Juli 2026 di sejumlah wilayah Kabupaten Nabire. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut kondisi cuaca panas, angin kencang, serta banyaknya semak dan ilalang kering turut memperparah kebakaran.

Papua Selatan menjadi salah satu wilayah dengan dampak karhutla yang besar. Berdasarkan laporan BNPB, luas area terdampak di provinsi tersebut mencapai 695 hektare dengan 379 titik panas.

Karhutla Meluas di Tanah Papua: Ribuan Hektare Terbakar hingga Operasi Modifikasi Cuaca

Lebih dari 3.000 Hektare Lahan di Papua Terbakar, BPBD Terkendala Alat dan Medan Miring
Lebih dari 3.000 Hektare Lahan di Papua Terbakar, BPBD Terkendala Alat dan Medan Miring — Foto: Betahita

Ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) meluas di berbagai wilayah Tanah Papua. Memasuki November 2026, lonjakan titik panas (hotspot) dan luasnya area yang terbakar memicu perhatian serius, mengingat dampak destruktifnya yang mulai mengancam kawasan konservasi, ekosistem lokal, hingga kesehatan dan aktivitas masyarakat.

1. Kondisi Terkini di Berbagai Wilayah Papua

  • Papua Selatan:
    Menjadi salah satu wilayah terdampak paling parah. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat area yang terbakar di wilayah ini telah mencapai 695 hektare, dengan ratusan hektare di antaranya belum berhasil dipadamkan sepenuhnya. Kobaran api dan tingginya titik panas di Kabupaten Merauke bahkan mulai mengancam kawasan konservasi vital Taman Nasional (TN) Wasur. Untuk meredam laju api, pemerintah telah memusatkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah ini sejak 22 Oktober 2026.

  • Papua Barat & Kabupaten Fakfak:
    Papua Barat mencatatkan akumulasi Karhutla yang sangat masif hingga melampaui 3.000 hektare. Kabupaten Fakfak—terutama di kawasan Bomberai—menjadi titik terparah dengan luas kebakaran menyumbang lebih dari 2.300 hektare.

  • Wilayah Lainnya:
    Sebaran titik api juga terdeteksi di berbagai daerah lain seperti Nabire, Jayapura, hingga area perbukitan di Papua Pegunungan (seperti Wamena dan sekitarnya). Catatan WALHI mengonfirmasi adanya ribuan titik panas yang tersebar di seluruh daratan Papua sepanjang tahun ini.

2. Dampak Multisektoral yang Ditimbulkan

  • Ancaman Kesehatan Masyarakat:
    Kepulan kabut asap tebal memicu peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di tengah warga. Di sejumlah kota seperti Sorong, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) mencatatkan penurunan kualitas udara ke tingkat yang mengkhawatirkan.

  • Gangguan Transportasi dan Logistik:
    Jarak pandang (visibility) yang memburuk akibat kabut asap mulai mengganggu sektor penerbangan lokal. Sejumlah jadwal penerbangan antarwilayah di Papua sempat tertunda hingga mengalami pembatalan demi keselamatan penerbangan.

  • Tantangan Medan dan Keterbatasan Logistik Pemadam:
    Penanganan Karhutla di lapangan menghadapi kendala teknis yang berat. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)—khususnya di wilayah pemekaran baru seperti Papua Pegunungan—mengalami keterbatasan armada dan peralatan operasional, seperti mobil pemadam, motor trail untuk akses medan perbukitan, hingga armada pendukung seperti mobil dapur lapangan.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
Semeru Erupsi Beruntun 5 November, Awan Panas Guguran Meluncur hingga 4,5 Km
Bencana Alam dan Krisis

Semeru Erupsi Beruntun 5 November, Awan Panas Guguran Meluncur hingga 4,5 Km

Gunung Semeru erupsi beruntun pada 5 November 2026. Awan panas guguran meluncur hingga 4,5 kilometer ke arah Besuk Kobokan.

Muhammad Rafi Ashidiq· 1 hari lalu
Hujan Lebat Mengintai Sorong 4 November, BMKG Keluarkan Peringatan Dini
Bencana Alam dan Krisis

Hujan Lebat Mengintai Sorong 4 November, BMKG Keluarkan Peringatan Dini

Hujan lebat mengintai Sorong dan sekitarnya pada 4 November 2026. BMKG memperingatkan potensi petir dan angin kencang di Papua Barat Daya.

Muhammad Rafi Ashidiq· 2 hari lalu
Banjir Bandang Terjang Gayo Lues, 130 Keluarga Terdampak
Bencana Alam dan Krisis

Banjir Bandang Terjang Gayo Lues, 130 Keluarga Terdampak

Banjir bandang menerjang Gayo Lues, Aceh, setelah tanggul sungai jebol. Sebanyak 130 keluarga terdampak akibat luapan air.

Muhammad Rafi Ashidiq· 1 minggu lalu
Kondisi Karhutla Jambi Membaik, Titik Panas Berkepercayaan Tinggi Tak Lagi Terdeteksi
Bencana Alam dan Krisis

Kondisi Karhutla Jambi Membaik, Titik Panas Berkepercayaan Tinggi Tak Lagi Terdeteksi

Kondisi karhutla Jambi membaik dengan nihilnya hotspot berkepercayaan tinggi, tetapi pemadaman dan pencegahan kebakaran masih terus dilakukan.

Muhammad Rafi Ashidiq· 1 minggu lalu
Malaysia Tawarkan Pesawat Amfibi dan Helikopter untuk Bantu Atasi Karhutla Indonesia
Bencana Alam dan Krisis

Malaysia Tawarkan Pesawat Amfibi dan Helikopter untuk Bantu Atasi Karhutla Indonesia

Malaysia menawarkan pesawat amfibi, helikopter, dan 44 personel untuk membantu penanganan karhutla di Indonesia. BNPB masih mengkaji kebutuhan operasi.

Muhammad Rafi Ashidiq· 1 minggu lalu
Karhutla Ciremai Padam, Habitat Satwa Endemik Terancam
Bencana Alam dan Krisis

Karhutla Ciremai Padam, Habitat Satwa Endemik Terancam

Karhutla Gunung Ciremai telah padam, tetapi habitat satwa endemik terancam. Bayi surili Jawa berhasil diselamatkan dan kembali ke induknya.

Muhammad Rafi Ashidiq· 1 minggu lalu