PAPUA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi masalah serius dan telah menjadikan Papua sebagai episentrum baru karhutla di Indonesia hingga awal November 2026.
Titik api karhutla Papua pertama kali dilaporkan muncul pada 18 Juli 2026 di sejumlah wilayah Kabupaten Nabire. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut kondisi cuaca panas, angin kencang, serta banyaknya semak dan ilalang kering turut memperparah kebakaran.
Papua Selatan menjadi salah satu wilayah dengan dampak karhutla yang besar. Berdasarkan laporan BNPB, luas area terdampak di provinsi tersebut mencapai 695 hektare dengan 379 titik panas.
Karhutla Meluas di Tanah Papua: Ribuan Hektare Terbakar hingga Operasi Modifikasi Cuaca

Ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) meluas di berbagai wilayah Tanah Papua. Memasuki November 2026, lonjakan titik panas (hotspot) dan luasnya area yang terbakar memicu perhatian serius, mengingat dampak destruktifnya yang mulai mengancam kawasan konservasi, ekosistem lokal, hingga kesehatan dan aktivitas masyarakat.










