Kondisi karhutla Jambi membaik dengan nihilnya hotspot berkepercayaan tinggi, tetapi pemadaman dan pencegahan kebakaran masih terus dilakukan.
JAMBI - Kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi menunjukkan perkembangan positif. Meski titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi tidak lagi terdeteksi dalam pemantauan terbaru, upaya pemadaman dan pencegahan masih terus dilakukan untuk memastikan api benar-benar terkendali.
Kementerian Kehutanan (Kemenhut) melaporkan kondisi karhutla Jambi membaik dibandingkan tiga minggu sebelumnya. Berdasarkan pemantauan Sistem Pemantauan Karhutla melalui sistem SiPongi, tidak ditemukan hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi pada saat pemantauan.
Meski demikian, pengecekan langsung di lapangan masih menemukan indikasi kebakaran di dua lokasi yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyampaikan perkembangan tersebut setelah mengikuti rapat koordinasi bersama Gubernur Jambi Al Haris dan jajaran terkait di Gedung VVIP Bandara Sultan Thaha Jambi pada Selasa (27/10/2026).
Pembasahan dan Patroli Terus Diperkuat
Kemenhut memanfaatkan prakiraan hujan hingga 2 November 2026 untuk mengoptimalkan pembasahan dan pendinginan lahan. Langkah ini dilakukan untuk membantu memadamkan sisa bara, terutama di wilayah rawan kebakaran.
Setelah periode tersebut, patroli gabungan akan diperkuat guna mencegah munculnya titik api baru, khususnya di kawasan rawan karhutla dan lahan gambut.
Pemerintah pusat dan daerah juga melibatkan TNI, Polri, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Manggala Agni, serta masyarakat dalam penanganan kebakaran.
Luas Lahan Terbakar Masih Jadi Perhatian
Meski kondisi hotspot membaik, data kebakaran di lapangan menunjukkan penanganan karhutla masih menjadi perhatian. Berdasarkan data Satgas Karhutla Provinsi Jambi, luas kumulatif lahan terbakar sejak 1 Januari hingga 27 Oktober 2026 mencapai 5.167,84 hektare.
Laporan pada Rabu (28/10/2026) itu juga menyebutkan adanya penambahan tujuh lokasi kebakaran di Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa tidak terdeteksinya hotspot berkepercayaan tinggi bukan berarti seluruh kebakaran telah padam. Hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit, sehingga kondisi aktual tetap perlu dipastikan melalui pemeriksaan langsung di lapangan.
Karena itu, pembasahan, pendinginan, dan patroli tetap diperlukan untuk memastikan kebakaran terkendali serta mencegah api kembali muncul.
Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab