Ribuan warga Israel demo menjelang pemilu 27 Oktober 2026, mendesak pertanggungjawaban Netanyahu di tengah laporan CIA soal risiko perpecahan internal.
ISRAEL – Ribuan warga Israel berunjuk rasa di Tel Aviv pada Sabtu (24/10/2026), mendesak pertanggungjawaban pemerintah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu atas kegagalan keamanan sebelum serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Demonstrasi yang berlangsung tiga hari menjelang pemilu tersebut terjadi ketika laporan penilaian intelijen Amerika Serikat (AS) turut menyoroti risiko perpecahan internal Israel akibat tekanan politik, ekonomi, dan perang berkepanjangan.
Menurut laporan Associated Press (AP), demonstrasi itu diselenggarakan October Council, kelompok yang dibentuk keluarga korban dan sandera dalam serangan 7 Oktober 2023.
Massa menuntut pembentukan komisi penyelidikan independen untuk mengusut kegagalan keamanan yang memungkinkan serangan tersebut terjadi. Peristiwa itu menjadi salah satu persoalan utama yang membayangi kepemimpinan Netanyahu menjelang pemungutan suara pada 27 Oktober 2026.
Tuntutan tersebut berkaitan dengan pertanggungjawaban pemerintah atas serangan yang menewaskan sekitar 1.200 orang di Israel dan menyebabkan sekitar 250 orang disandera, menurut catatan awal mengenai serangan Hamas.
Netanyahu menghadapi kritik dari kelompok keluarga korban dan sebagian oposisi yang menilai pemerintah belum memberikan pertanggungjawaban memadai atas kegagalan tersebut.
Di tengah tekanan itu, laporan mengenai penilaian rahasia Badan Intelijen Pusat AS (CIA) turut menjadi sorotan. Dokumen berjudul Fracture From Within atau Retak dari Dalam tersebut disebut disusun pada Agustus 2026 oleh unit Red Cell CIA, yang bertugas menguji asumsi intelijen dan menganalisis kemungkinan risiko strategis.
Laporan itu pertama kali diungkap Drop Site News pada awal Oktober dengan merujuk dua sumber AS yang mengetahui isinya. Menurut laporan tersebut, analis CIA memperingatkan bahwa kombinasi polarisasi politik, tekanan ekonomi, kelelahan militer, dan konflik sosial dapat meningkatkan risiko ketidakstabilan internal Israel.
Namun, dokumen lengkapnya belum dipublikasikan secara terbuka, sementara CIA tidak memberikan konfirmasi kepada media yang meminta tanggapan. Karena itu, peringatan mengenai kemungkinan perang saudara atau keruntuhan institusi negara harus dipahami sebagai penilaian risiko yang dilaporkan media, bukan kepastian bahwa skenario tersebut akan terjadi.
Salah satu sumber ketegangan domestik ialah perdebatan mengenai kewajiban militer bagi komunitas Yahudi ultra-Ortodoks atau Haredi. Pengecualian dinas militer bagi sebagian kelompok tersebut menuai penolakan ketika tentara cadangan Israel berulang kali dimobilisasi untuk menjalankan operasi di berbagai wilayah.
Persoalan lainnya adalah beban ekonomi akibat pengeluaran militer dan dampak perang terhadap kehidupan rumah tangga. Mobilisasi berkepanjangan dapat mengganggu pekerjaan serta kehidupan keluarga personel cadangan, sementara tekanan biaya hidup menambah persoalan yang dihadapi masyarakat.
Ketegangan juga berlangsung di Tepi Barat menjelang pemilu. Pada Minggu (25/10/2026), militer Israel melanjutkan operasi di Hebron setelah serangan bersenjata menewaskan dua tentara Israel.
Operasi tersebut disertai pembatasan pergerakan warga Palestina dan penutupan perlintasan menuju Israel hingga pemilu berlangsung. AP melaporkan ribuan warga Palestina terdampak pengungsian akibat operasi tersebut.
Rangkaian peristiwa ini memperlihatkan sejumlah tantangan yang dihadapi Israel menjelang pemilu, mulai dari tuntutan pertanggungjawaban keamanan hingga konflik sosial dan dampak perang. Hasil pemungutan suara akan menentukan arah kepemimpinan berikutnya, tetapi penyelesaian persoalan tersebut tetap bergantung pada kebijakan pemerintah dan perkembangan politik setelah pemilu.
Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab