ACEH – Ketika sebagian persoalan infrastruktur dan lingkungan di Aceh membutuhkan perhatian yang lebih luas, seorang kreator konten muda memilih tidak hanya datang untuk merekam keadaan. Jerhemy Owen justru turun ke lapangan, bekerja bersama masyarakat, dan memanfaatkan kekuatan media sosial untuk menghubungkan warga dengan jutaan orang yang bersedia membantu.

Dalam beberapa bulan terakhir, nama Jerhemy Owen menjadi perbincangan publik setelah serangkaian aksinya di Aceh. Mulai dari mengangkat kisah warga yang terisolasi akibat putusnya jalan nasional di Kabupaten Bener Meriah, mendukung penggalangan dana publik, hingga terlibat langsung dalam restorasi hutan lindung di Aceh Tamiang dengan menebang ribuan pohon sawit ilegal dan menanam kembali pohon-pohon hutan.

Berbeda dengan banyak kreator yang menjadikan daerah sebagai latar belakang konten, Jerhemy mencoba membangun pendekatan yang lebih partisipatoris. Ia tidak menempatkan masyarakat sebagai objek belas kasihan, melainkan sebagai aktor utama yang mampu menyelesaikan persoalannya ketika mendapat ruang, dukungan, dan perhatian publik.

Mengangkat Suara Warga Enang-Enang

Salah satu peristiwa yang menyita perhatian nasional adalah kondisi Jalan Nasional Enang-Enang di Kabupaten Bener Meriah. Akses tersebut terputus akibat bencana sehingga aktivitas masyarakat terganggu selama berbulan-bulan.

Jembatan darurat yang menjadi penghubung utama rusak. Warga kesulitan membawa hasil pertanian, anak-anak harus menghadapi perjalanan yang berbahaya menuju sekolah, sementara distribusi logistik menjadi semakin mahal.

Alih-alih menunggu penyelesaian yang belum pasti, masyarakat setempat mulai bergotong royong membangun akses sementara. Upaya itu kemudian mendapat perhatian lebih luas setelah kisah mereka disebarluaskan melalui media sosial, termasuk oleh Jerhemy Owen.

Gelombang solidaritas pun bermunculan dari berbagai daerah. Donasi masyarakat terus mengalir hingga terkumpul lebih dari Rp1,08 miliar. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp526 juta digunakan untuk menyelesaikan pembangunan akses, sedangkan sisanya direncanakan untuk mendukung pembangunan infrastruktur publik lainnya di kawasan tersebut.

Gerakan itu memperlihatkan bagaimana media sosial tidak hanya menjadi ruang berbagi cerita, tetapi juga mampu menghubungkan masyarakat yang membutuhkan dengan publik yang ingin berpartisipasi secara nyata.

Berbeda dengan tren konten yang berhenti setelah perhatian publik mereda, Jerhemy memilih tetap berada di lapangan.

Ia mendokumentasikan proses pembangunan, menyampaikan perkembangan penggunaan dana, sekaligus mengajak masyarakat luas memahami bahwa gotong royong masih menjadi modal sosial yang sangat kuat di Indonesia.

Pendekatan seperti ini membuat publik tidak hanya menjadi penonton, melainkan ikut merasa memiliki proses perubahan yang sedang berlangsung.

Menyelamatkan Hutan Aceh Tamiang

Kiprah Jerhemy di Aceh tidak berhenti pada isu infrastruktur. Awal Juli 2026, ia bergabung bersama masyarakat, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah 7, serta Forum Konservasi Leuser dalam aksi pemulihan kawasan hutan lindung di Kecamatan Tenggulun, Kabupaten Aceh Tamiang.

Di kawasan tersebut, sekitar 1.300 pohon sawit ilegal yang telah ditanam di area hutan lindung ditebang. Kawasan yang dipulihkan mencapai kurang lebih 10 hektare.

Menurut Jerhemy, kegiatan tersebut bukan aksi sepihak. Seluruh proses dilakukan bersama masyarakat yang selama ini tinggal di sekitar kawasan hutan dan didukung pemerintah serta organisasi konservasi.

Setelah sawit ilegal dibersihkan, kawasan tersebut dipersiapkan untuk ditanami kembali dengan berbagai jenis pohon hutan agar fungsi ekologisnya dapat pulih. Restorasi itu menjadi bagian dari upaya mengembalikan kawasan resapan air, menjaga habitat satwa liar, sekaligus mencegah kerusakan hutan yang lebih luas.