Runtut.com

Biografi Rosihan Anwar: Tokoh Pers dan Sejarah Indonesia

Simak perjalanan hidup Rosihan Anwar, jurnalis legendaris Indonesia, pendiri Perfini, dan penulis 30 buku sejarah hingga akhir hayatnya.

Rosihan Anwar adalah tokoh pers, sejarawan, dan sastrawan
Rosihan Anwar adalah tokoh pers, sejarawan, dan sastrawan — foto: jernih.co

Runtut.com - Rosihan Anwar lahir dengan nama Rozehan Anwar di Kubang Nan Dua, Sirukam, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, pada 10 Mei 1922. Ia adalah tokoh pers, sejarah, sastrawan, dan budayawan Indonesia.

Awalnya, ia bercita-cita menjadi filolog karena pengaruh selama tinggal di pondokan milik Dr. Tjan. Namun, cita-cita tersebut terhenti akibat pecahnya Perang Dunia II dan pendudukan Jepang yang menyulitkannya melanjutkan pendidikan ke Universitas Leiden.

Sempat mempertimbangkan karier sebagai jaksa, Rosihan akhirnya memilih jalan sebagai wartawan setelah mendapat informasi lowongan di harian Asia Raya dari dr. Abu Hanifah. Ia mulai bekerja sebagai jurnalis sejak April 1943 hingga akhir hayatnya.

Karier Jurnalistik dan Perjuangan

  1. 1943: Memulai karier sebagai reporter di harian Asia Raya.

  2. 1946: Ikut mendirikan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Surakarta bersama Herawati Diah.

  3. 1947–1957: Menjabat sebagai Pemimpin Redaksi majalah Siasat.

  4. 1948–1961: Menjabat sebagai Pemimpin Redaksi surat kabar Pedoman.

  5. Masa Perjuangan: Pernah ditahan oleh pihak Belanda di Bukit Duri, Batavia (Jakarta).

  6. 1961: Surat kabar Pedoman dibredel oleh penguasa.

  7. 1968–1974: Menjabat sebagai Ketua Umum PWI Pusat.

  8. 1973: Menerima anugerah Bintang Mahaputramasa III bersama tokoh pers Jakob Oetama. Kurang dari setahun kemudian, koran Pedoman kembali ditutup oleh pemerintah Orde Baru.

  9. 2007: Menerima penghargaan Lifetime Achievement dari PWI Pusat.

Kiprah di Dunia Perfilman

Pada tahun 1950, Rosihan bersama Usmar Ismail mendirikan Perusahaan Film Nasional (Perfini). Ia turut menjadi figuran dalam film pertama Perfini, Darah dan Doa, serta menjadi produser untuk film Terimalah Laguku.

Sejak akhir tahun 1981, ia aktif mempromosikan film Indonesia ke luar negeri dan menjadi kritikus film hingga akhir hayatnya.

Karya Tulis dan Kesadaran Sejarah

karya Rosihan Anwar
karya Rosihan Anwar — jaklitera

Rosihan Anwar menghasilkan kurang lebih 30 judul buku yang mencakup berbagai bidang:

  1. Agama (4 buku): Dapat Panggilan dari Nabi Ibrahim (1959), Islam dan Anda (1962), Demi Dak’wah (1976), dan Naik di Arafat (1982).

  2. Jurnalistik dan Sastra (10 buku): Ikhwal Jurnalistik (1974), Profil Wartawan Indonesia (1977), Bahasa Jurnalistik Indonesia dan Komposisi (1979), serta Reportase Wartawan Film—Meliput Festival Film Internasional (1999).

  3. Sejarah (16 buku): Sebelum Prahara—Pergolakan Politik Indonesia 1962–1965 (1981), Singa dan Banteng: Sejarah Hubungan Belanda-Indonesia 1945–1950 (1997), dan In Memoriam—Mengenang yang Wafat (2002).

Produktivitasnya menulis buku sejarah menunjukkan bahwa ia memiliki historical sense yang tinggi, yaitu kesadaran akan pengetahuan sejarah yang multidimensi, dinamis, dan terus berkembang.

Wafat

Rosihan Anwar meninggal dunia pada hari Kamis, 14 April 2011 pukul 08.15 WIB di Rumah Sakit Metropolitan Medika Center (MMC), Jakarta, pada usia 89 tahun akibat gangguan jantung. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua