Runtut.com

Amir Hamzah, Raja Penyair Pujangga Baru dan Jejaknya dalam Sastra Indonesia

Mengenal Amir Hamzah, pangeran Melayu dan sastrawan Pujangga Baru. Simak kisah hidup, karya abadi, serta pengabdian sang Pahlawan Nasional untuk Indonesia.

3 menit baca
2
Tokoh sastrawan Indonesia Amir Hamzah
Tokoh sastrawan Indonesia Amir Hamzah — foto: arsipmanusia.com

Runtut.com – Amir Hamzah, merupakan seoarang sastrawan Indonesia yang terkenal sebagai “Raja Penyair Pujangga Baru” lahir di Binjai, Langkat, Sumatra Utara, 28 Februari 1911. Ia terlahir dari kalangan feodal yaitu keluarga bangsawan Melayu dan merupakan cicit Sultan Musa, Sultan Kerajaan Langkat.

Pada tahun 1916, ia mulai belajar di Hollandsch Inlandsche School (HIS, setingkat SD) di Tanjung Pura, kota tempat kelahirannya. Setelah itu ia melanjutkan pendidikan ke MULO (SMP) di Medan tahun 1924 kemudian pindah ke Jakarta. 

Setelah menamatkan pelajarannya di MULO, ia masuk Algemeene Middlebare School (SMA) A1 yaitu jurusan Sastra Timur di Solo.

Ia kembali lagi ke Jakarta untuk mengikuti Rechtooge School (Sekolah Hakim Tinggi) sampai menjadi kandidat Sarjana Muda Hukum. 

Selama belajar di Pulau Jawa ia memasuki dunia pergerakan kemerdekaan dengan aktif di organisasi Indonesia Muda dan bersahabat dengan tokoh-tokoh pergerakan, seperti Mr. Raden Pandji Singgih dan K.R.T Wedyodi.

Di Tahun 1933, bersama Sutan Takdir Alisjahbana dan Armijn Pane, ia mendirikan majalah Pujangga Baru, majalah sastra yang mendobrak kekakuan sastra di zaman itu. 

Ia pernah menyalin Bhagavad Gita dan dimuat bersambung mulai tahun 1933 hingga 1935 di majalah Pujangga Baru.

Selain sastra berbahasa Melayu, ia juga tertarik dengan sastra asing terutama sastra Asia dan juga menerjemahkan karya sastra berbahasa India, Persia, dan Tiongkok yang kemudian berada dalam Setanggi Timur pada tahun 1939. 

Kegemaran Amir Hamzah 

Kegemaran dan kepiawian menulis saja itu berlanjut hingga saat ia melanjutkan studi di Sekolah Tinggi Hukum di Jakarta.

Dalam kumpulan sajak Buah Rindu yang ditulis antara tahun 1928 dan t1935, tapak perubahan lirik pantun dan syair Melayunya menjadi sajak yang lebih modern.

Tahun 1931, ia telah memimpin Kongres Indonesia Muda di Solo. Pergaulannya dengan para tokoh pergerakan nasional itu telah mewarnai dunia kesusasteraannya.

Sebagai sastrawan dan melalui karya-karyanya yang ditulis dalam bahasa Indonesia, Amir telah memberikan sumbangan besar dalam proses perkembangan dan pematangan bahasa Melayu menjadi bahasa nasional Indonesia.

Dalam suratnya kepada Armijn Pane pada bulan November 1932, ia menyebut bahasa Melayu adalah bahasa yang molek.

Bagi Amir, Bahasa Indonesia adalah simbol dari kemelayuan, kepahlawanan dan keislaman. Hal ini tercermin dari syair-syair Amir yang merupakan refleksi dari relijiusitas, dan kecintaannya pada ibu pertiwi serta kegelisahan sebagai seorang pemuda Melayu.

Secara keseluruhan ada sekitar 160 karya Amir yang berhasil dicatat. Di antaranya 50 sajak asli, 77 sajak terjemahan, 18 prosa liris asli, 1 prosa liris terjemahan, 13 prosa asli dan 1 prosa terjemahan.

Karya-karyanya tercatat dalam kumpulan sajak Buah Rindu, Nyanyi Sunyi, Setanggi Timur dan terjemah Baghawat Gita.

Karya-Karya Amir Hamzah 

salah satu karya Amir Hamzah
salah satu karya Amir Hamzah — foto: Tempo.co

Dalam dunia kesusastraan Amir Hamzah adalah seorang sastrawan yang sangat penting. Dari tangannya telah lahir puisi-puisi yang indah dan menarik. Dia berhasil menciptakan puisi-puisi dengan rangkaian kata yang khas Melayu.

Bukunya yang sudah terbit adalah Nyanyi Sunyi (1937), Buah Rindu (1941), Sastra Melayu Lama dengan Tokoh-Tokohnya (1941), dan Esai dan Prosa (1982).

Terjemahannya: Bhagawad Gita (dimuat dalam Poedjangga Baroe, 1933—1934), dan Setanggi Timur (terjemahan puisi Jepang, Arab, Inia, Persia, dll., 1939).

Berbagai karangan Amir Hamzah yang tersebar dihimpun oleh H.B. Jassin dalam Amir Hamzah Raja Penyair Pujangga Baru (1963).

Sejumlah puisi Amir Hamzah terdapat dalam antologi Pujangga Baru: Prosa dan Puisi (1963, ed. H.B. Jassin).

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
Tak Perlu Pusing Biaya, Purnomo Polisi Baik Pastikan Pemuda Ini Sekolah Lagi Sampai Lulus SMA
Tokoh

Tak Perlu Pusing Biaya, Purnomo Polisi Baik Pastikan Pemuda Ini Sekolah Lagi Sampai Lulus SMA

Aksi inspiratif Purnomo Polisi Baik beri beasiswa penuh hingga lulus SMA dan modal usaha untuk Reno, pemuda penjual umbi kukus yang putus sekolah.

Ferdian Trikusuma· 3 hari lalu
Mengenal Chairil Anwar, Sang Penyair Angkatan ’45
Tokoh

Mengenal Chairil Anwar, Sang Penyair Angkatan ’45

Nama Chairil Anwar sudah tidak asing dalam dunia sastra Indonesia. Kenali lebih dekat sosok, perjalanan hidup, dan karya sang penyair Angkatan ’45.

Lusianti Dwi Cahyani· 4 hari lalu
Biografi Abdullah Idrus, Sastrawan Angkatan ’45 dan Karya-Karyanya
Tokoh

Biografi Abdullah Idrus, Sastrawan Angkatan ’45 dan Karya-Karyanya

bdullah Idrus menjadi salah satu nama penting dalam sastra Indonesia. Simak perjalanan hidup, karya, dan kiprahnya sebagai sastrawan Angkatan ’45.

Lusianti Dwi Cahyani· 4 hari lalu
Johnny Salim: Ketika Baju Bekas Menjadi Harapan
Tokoh

Johnny Salim: Ketika Baju Bekas Menjadi Harapan

Kisah Johnny Salim membangun gerakan sosial yang mengubah baju bekas menjadi donasi untuk membantu anak-anak pasien kanker dan keluarga kurang mampu.

Mila Nabilah· 30 Juni 2026
Kisah Inspiratif Perempuan 23 Tahun yang Berani Bangun Kemandirian Lewat Jalan Wirausaha
Tokoh

Kisah Inspiratif Perempuan 23 Tahun yang Berani Bangun Kemandirian Lewat Jalan Wirausaha

Mengenal Meli Maria, pengusaha muda 23 tahun di balik Seblak Prasmanan Teh Meli. Simak kisah inspiratifnya mematahkan keraguan dan membangun kemandirian.

Tegar Herlambang· 26 Juni 2026
Misi Besar dr Agustiawan Membumikan Literasi Pencegahan Medis dan Menepis Hoaks Digital
Tokoh

Misi Besar dr Agustiawan Membumikan Literasi Pencegahan Medis dan Menepis Hoaks Digital

Menghadapi gempuran misinformasi kesehatan di media sosial, dr. Agustiawan menyuarakan pentingnya kolaborasi dan paradigma preventif di masyarakat.

Tegar Herlambang· 17 Juni 2026