"Pada saat kita berbuat baik, walaupun rezeki belum datang, musibah sudah pergi. Pada saat kita berbuat jahat, walaupun musibah belum datang, rezeki sudah pergi. Hidup ini adalah pilihan."
— Johnny Salim
Delapan anak itu duduk berdampingan di sebuah ruangan sederhana pada Sabtu, 27 Juni 2026. Sebagian mengenakan masker, sebagian lainnya memakai penutup kepala sebagai dampak pengobatan kanker yang mereka jalani. Satu per satu mereka dipanggil ke depan untuk menerima amplop putih berisi bantuan.
Nominalnya mungkin tidak besar bagi sebagian orang, tetapi bagi keluarga yang harus berjuang menghadapi biaya pengobatan, setiap rupiah memiliki arti yang sangat besar.
Hari itu, Johnny Salim Community (JSC) bersama guru dan murid Sekolah Sinar Dharma Jembatan 5 menyerahkan donasi sebesar Rp8.000.000 kepada delapan anak pasien kanker. Masing-masing menerima bantuan sebesar Rp1.000.000.
Yang membuat penyerahan bantuan ini menjadi istimewa bukan hanya jumlahnya, melainkan asal-usul dana tersebut.
Seluruh donasi berasal dari hasil penjualan pakaian bekas yang dikumpulkan oleh siswa SD, SMP, dan SMA Sinar Dharma. Pakaian yang sebelumnya hanya tersimpan di lemari, tidak lagi dipakai, atau dianggap tidak memiliki nilai, berubah menjadi bantuan nyata bagi anak-anak yang sedang berjuang melawan kanker.
Bagi Johnny Salim, di situlah makna sesungguhnya dari sebuah kebaikan. Barang yang tampak sederhana dapat menjadi harapan ketika dipindahkan ke tangan yang tepat.
Dari Limbah Menjadi Kehidupan
Persoalan limbah tekstil kini menjadi perhatian dunia. Menurut United Nations Environment Programme (UNEP), dunia menghasilkan sekitar 92 juta ton limbah tekstil setiap tahun, atau setara dengan satu truk sampah penuh pakaian yang dibuang atau dibakar setiap detik.
Di sisi lain, masih banyak keluarga yang kesulitan membiayai pengobatan anggota keluarganya. Tidak sedikit pasien kanker yang harus menunda terapi karena keterbatasan biaya, sementara keluarga mereka berusaha memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Johnny Salim melihat dua kenyataan itu hidup berdampingan.
Di satu sisi, pakaian layak pakai berakhir menjadi sampah. Di sisi lain, ada keluarga yang membutuhkan uluran tangan.
"Kalau barang yang tidak kita pakai masih bisa membantu orang lain, mengapa harus dibuang?" ujarnya.
Pertanyaan sederhana itulah yang kemudian melahirkan gerakan pengumpulan pakaian bekas yang dijual kembali, dan hasilnya disalurkan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.
Perjalanan yang Mengubah Cara Pandang
Johnny Salim bukan lahir dari kehidupan yang serba berkecukupan.
Sebelum aktif dalam kegiatan sosial, ia pernah bekerja sebagai kernet bus. Ia juga menekuni berbagai usaha, mulai dari jual beli sepeda motor, penjualan elektronik dan perhiasan secara tunai maupun kredit, hingga menjadi pemasok produk makanan beku ke pasar-pasar tradisional.
Seperti banyak orang, pada masa mudanya ia mengejar keberhasilan dalam pekerjaan dan kehidupan ekonomi.
Namun perjalanan hidup membawanya pada pengalaman yang mengubah cara pandangnya.
Pada 1989, Johnny didiagnosis menderita tumor di kepala dan harus menjalani operasi. Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada 1996, ia kembali menghadapi ujian ketika mengalami kecelakaan lalu lintas yang nyaris merenggut nyawanya.
Dua peristiwa tersebut menjadi titik balik dalam hidupnya.
Ia mulai memaknai bahwa keberhasilan seseorang bukan hanya diukur dari apa yang dimiliki, tetapi juga dari manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain.
"Saya percaya pada hukum tabur tuai. Setiap kita melakukan kebaikan, selain menolong orang lain, kita juga sedang menolong diri sendiri. Mudah-mudahan hidup menjadi lebih baik dan dijauhkan dari berbagai musibah," katanya.
Johnny menyadari bahwa keyakinan tersebut adalah nilai hidup yang ia pegang secara pribadi. Baginya, setiap orang bebas memiliki pandangan masing-masing, tetapi ia memilih menjadikan kebaikan sebagai arah hidupnya.
Menyaksikan Banyak Wajah Kehidupan
Selama bertahun-tahun mendampingi masyarakat, Johnny menyaksikan bahwa kesulitan hidup tidak mengenal batas status sosial.
Ia melihat keluarga yang semula hidup berkecukupan tiba-tiba kehilangan penghasilan akibat pemutusan hubungan kerja, usaha yang gagal, atau penyakit yang datang tanpa diduga. Dalam waktu singkat, tabungan yang dikumpulkan bertahun-tahun dapat habis untuk biaya pengobatan.
Pengalaman itu membuatnya memahami bahwa setiap orang dapat berada pada posisi membutuhkan pertolongan.







