Runtut.com

Dari Satu Lelaki yang Gemetar di Gua Hira, Kini 2 Miliar Manusia Bersujud ke Arah yang Sama

Siapa yang akan mempercayaiku, Khadijah?" viral di mana-mana, tapi tahukah kamu kisah shahih di baliknya dan bagaimana Islam berkembang hingga 2 miliar umat?

4 menit baca
Dari Satu Lelaki yang Gemetar di Gua Hira, Kini 2 Miliar Manusia Bersujud ke Arah yang Sama
Di Gua Hira, 610 Masehi, seorang lelaki gemetar pulang ke istrinya membawa beban yang belum pernah dipikul manusia mana pun sebelumnya. — Foto: AFP/ Zain Jaafar

Belakangan ini, sebuah kalimat beredar luas di media sosial, di Reels, TikTok, hingga caption foto pemandangan lautan putih di Arafah. Bunyinya kurang lebih begini:

"Siapa yang akan mempercayaiku, wahai Khadijah?"

Kalimat itu disebut sebagai pertanyaan Rasulullah ﷺ setelah menerima wahyu pertama. Dan ia membuat banyak orang terharu, terutama ketika disandingkan dengan footage jutaan manusia berpakaian ihram yang berdesakan di Tanah Suci. Ada sesuatu yang sangat manusiawi di dalamnya: gambaran seorang nabi yang dalam momen paling besar dalam hidupnya justru diliputi keraguan, bukan keangkuhan.

Tapi perlu diluruskan satu hal, dengan penuh rasa hormat: kalimat itu tidak ditemukan dalam riwayat hadits yang shahih. Tidak ada dalam Shahih Bukhari, Shahih Muslim, maupun kitab sirah yang menjadi rujukan ulama. Ia adalah ungkapan yang lahir dari keharuan generasi zaman sekarang, ekspresi kekaguman yang kemudian beredar seolah-olah kutipan Nabi.

Tapi justru di sinilah yang menarik. Karena perasaan di balik kalimat itu, keraguan, ketakutan, dan pertanyaan tentang siapa yang akan percaya, nyata, dan tercatat shahih dalam sejarah Islam.

Dalam hadits riwayat Aisyah radhiyallahu 'anha yang tersimpan dalam Shahih Bukhari (no. 3), dikisahkan bahwa setelah menerima wahyu pertama di Gua Hira, Rasulullah ﷺ pulang ke rumah dalam keadaan gemetar. Beliau menemui Khadijah dan berkata: "Aku mengkhawatirkan diriku." Bukan sebuah pengumuman kemenangan. Bukan deklarasi kebanggaan. Melainkan kalimat yang sangat manusiawi dari seseorang yang baru saja menanggung beban yang belum pernah dipikul siapa pun sebelumnya.

Khadijah, wanita yang kelak disebut sendiri oleh Rasulullah ﷺ sebagai orang yang "beriman kepadaku ketika semua orang, bahkan anggota keluarga dan sukuku sendiri tidak mempercayaiku" menjawab dengan menenangkan: "Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya. Engkau adalah orang yang menyambung silaturahim, membantu orang lain, memuliakan tamu, dan menolong mereka yang tertimpa musibah."

Tidak ada pertanyaan "siapa yang akan mempercayaiku?" dalam riwayat yang shahih. Tapi rasa takut itu ada. Kekhawatiran itu nyata. Dan Khadijah, dengan kecerdasan dan kekuatan hatinya, menjadi orang pertama yang percaya sebelum siapa pun.

Lalu, 14 abad berlalu.

Musim haji 1447 H / 2026 M baru saja dimulai. Berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik Arab Saudi (General Authority for Statistics), total jamaah haji tahun ini mencapai 1.707.301 orang dari 165 negara, naik 2,04 persen dibanding tahun sebelumnya, meski tahun ini pelaksanaannya dibayangi konflik di kawasan Timur Tengah yang sempat mengganggu jalur penerbangan dan melonjakkan biaya perjalanan. Bahwa di tengah semua itu jamaah tetap datang, bahkan lebih banyak dari sebelumnya adalah sesuatu yang sulit dijelaskan hanya dengan logika kerumunan biasa.

Indonesia sendiri memberangkatkan 221.000 jamaah tahun ini, dengan kuota terbesar tetap dipegang Jawa Timur sebanyak 42.409 jamaah. Dan itu pun belum cukup. Daftar tunggu haji di banyak daerah masih mengular hingga puluhan tahun.

Sementara itu, data dari Pew Research Center yang dirilis Mei 2025 mencatat bahwa dari 2010 hingga 2020, Islam adalah agama dengan pertumbuhan paling cepat di antara semua agama besar dunia. Proporsi umat Islam dalam populasi global naik dari 23,9 persen menjadi 25,6 persen, dengan total jumlah yang kini menyentuh sekitar 2 miliar jiwa. Studi itu menganalisis lebih dari 2.700 sumber data dari 201 negara dan wilayah. Dan Pew memproyeksikan tren ini akan terus berlanjut dalam beberapa dekade ke depan.

Dua miliar. Dari satu orang yang pulang ke rumah dalam keadaan gemetar, meminta diselimuti, dan berkata: "Aku mengkhawatirkan diriku."

Itulah kenapa kalimat viral itu meski bukan hadits tetap mengandung kebenaran yang menggerakkan. Bukan karena redaksinya akurat secara historis, tapi karena ia menangkap sesuatu yang esensial: bahwa permulaan agama ini bukan dari kekuatan dan keperkasaan, melainkan dari kerendahan hati seorang manusia yang dipilih Allah, dan dari keberanian seorang perempuan yang pertama kali mempercayainya.

Setiap kali kita melihat foto lautan putih di Arafah, setiap kali kita mendengar suara takbir menggelegar dari Masjidil Haram, ada baiknya kita kembali ke malam di Gua Hira itu. Bukan untuk mereka-reka kalimat yang tidak tercatat, tapi untuk merasakan berat amanah yang pada mulanya hanya dipikul oleh dua orang: satu lelaki yang gemetar, dan satu perempuan yang percaya.

Dan dari dua orang itu, lahirlah 1,7 juta manusia yang tahun ini saja rela menempuh ribuan kilometer menembus gangguan penerbangan, biaya yang melonjak, dan panas 45 derajat di Mina demi berdiri di tanah yang sama, menjawab seruan yang sama.

Labbaikallahumma labbaik.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
Mengenal WJNC, Karnaval Malam yang Membawa Kisah Wayang ke Jalanan Jogja
Sosial Budaya

Mengenal WJNC, Karnaval Malam yang Membawa Kisah Wayang ke Jalanan Jogja

Wayang Jogja Night Carnival menjadi agenda budaya tahunan Yogyakarta yang memadukan cerita pewayangan, seni pertunjukan, dan kreativitas warga.

Nurul Hidayah· 1 minggu lalu
Stupa Induk Candi Borobudur Dipugar, Akses Naik Dibatasi Sementara
Sosial Budaya

Stupa Induk Candi Borobudur Dipugar, Akses Naik Dibatasi Sementara

Stupa induk Candi Borobudur tengah dipugar hingga akhir Oktober 2026. Simak aturan alur kunjungan terbaru dan batasan lantai bagi wisatawan reguler di sini.

Nurul Hidayah· 2 minggu lalu
KKN Kelompok 17 dan Program PKM Resmi Selesai, Tutup Rangkaian Pengabdian di Desa Gempol Sari
Sosial Budaya

KKN Kelompok 17 dan Program PKM Resmi Selesai, Tutup Rangkaian Pengabdian di Desa Gempol Sari

Artikel ini membahas berakhirnya kegiatan KKN dan Program Pemberdayaan Masyarakat (PKM) Kelompok 17 di Desa Gempol Sari, Kecamatan Sepatan Timur, pada

Naira Khairani Aryadi· 2 minggu lalu
RE COMIC Season 6 Buka Kesempatan bagi Komika Umum, Simak Syarat Pendaftaran dan Jadwalnya
Sosial Budaya

RE COMIC Season 6 Buka Kesempatan bagi Komika Umum, Simak Syarat Pendaftaran dan Jadwalnya

Standupindo Cilegon membuka kesempatan bagi komika baru dengan total hadiah mencapai jutaan rupiah.

Rachmaddani Rizki Saputra· 10 September 2026
Seniman Bersatu Gelar Aksi di Balai Kota DKI: Suarakan TRITURA FPS-TIM, Tolak Komersialisasi Taman Ismail Marzuki oleh Jakpro
Sosial Budaya

Seniman Bersatu Gelar Aksi di Balai Kota DKI: Suarakan TRITURA FPS-TIM, Tolak Komersialisasi Taman Ismail Marzuki oleh Jakpro

Seniman FPS-TIM menggelar aksi di Balai Kota dan DPRD DKI menolak komersialisasi TIM oleh Jakpro, menyerukan pemulihan marwah dan fungsi kebudayaan.

Mila Nabilah· 12 Agustus 2026
Paduan Suara SMAN 15 Surabaya Cetak Prestasi 2 Medali Emas di Ajang Internasional
Sosial Budaya

Paduan Suara SMAN 15 Surabaya Cetak Prestasi 2 Medali Emas di Ajang Internasional

Paduan Suara SMAN 15 Surabaya meraih 2 medali emas di ajang internasional. Prestasi Libels Voice mengharumkan nama Indonesia di Taiwan.

Betriani · 5 Agustus 2026