JAKARTA — Bulan Dzulhijjah menjadi salah satu momentum penting bagi umat Islam. Selain menjadi bulan pelaksanaan ibadah haji, Dzulhijjah juga dikenal sebagai waktu yang penuh keutamaan, terutama pada sepuluh hari pertamanya.
Pada hari-hari ini, umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah dan amal saleh. Bagi yang sedang menunaikan haji, Dzulhijjah menjadi puncak perjalanan spiritual di Tanah Suci. Sementara bagi umat Islam yang tidak berhaji, bulan ini tetap menjadi kesempatan besar untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dikutip dari NU Online, sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah memiliki keutamaan besar. Dalam salah satu artikel khutbah NU Online Lampung, dijelaskan bahwa hari Arafah atau hari kesembilan Dzulhijjah termasuk hari yang sangat utama, dan umat Islam dianjurkan memperbanyak kebaikan serta berpuasa pada hari tersebut.
1. Memperbanyak Puasa Sunnah
Salah satu amalan yang banyak dianjurkan pada awal Dzulhijjah adalah puasa sunnah. Umat Islam dapat berpuasa pada tanggal 1 sampai 9 Dzulhijjah, terutama pada hari Tarwiyah dan Arafah.
Dikutip dari NU Online, puasa pada sembilan hari pertama Dzulhijjah memiliki keutamaan tersendiri. Pahala ibadah pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah disebut memiliki keutamaan besar dibanding waktu lainnya.
Puasa Arafah menjadi salah satu yang paling dikenal. Bagi umat Islam yang tidak sedang berhaji, puasa Arafah dianjurkan karena memiliki keutamaan besar. Namun, bagi jemaah haji yang sedang wukuf di Arafah, pelaksanaan puasa perlu mempertimbangkan kondisi fisik agar tidak mengganggu ibadah utama.
2. Memperbanyak Zikir dan Doa
Selain puasa, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak zikir, doa, tahlil, tahmid, tasbih, dan takbir. Amalan ini dapat dilakukan kapan saja, baik setelah sholat, saat beraktivitas, maupun ketika memiliki waktu luang.
Zikir pada hari-hari utama ini menjadi bentuk pengingat bahwa Dzulhijjah bukan hanya tentang perayaan Idul Adha, tetapi juga tentang memperbanyak kedekatan kepada Allah SWT.








