JAKARTA — Memasuki fase penting musim haji, jemaah diimbau untuk lebih berhati-hati menjaga kondisi tubuh. Rangkaian puncak ibadah haji seperti wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, bermalam di Mina, hingga melontar jumrah membutuhkan stamina yang kuat dan kondisi fisik yang stabil.
Imbauan untuk membatasi aktivitas fisik menjelang puncak haji menjadi penting karena jemaah akan menghadapi rangkaian ibadah yang padat. Selain faktor kepadatan, cuaca panas di Arab Saudi juga menjadi tantangan tersendiri bagi jemaah Indonesia.
Dikutip dari Kementerian Agama, jemaah haji diimbau mengurangi aktivitas di luar tenda atau hotel, memperbanyak istirahat, menjaga kebersihan, dan memperbanyak konsumsi air putih menjelang fase Armuzna. Armuzna merujuk pada rangkaian ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina, yang menjadi inti dari pelaksanaan haji.
Kondisi tubuh yang menurun dapat mengganggu kekhusyukan ibadah. Karena itu, jemaah disarankan tidak memaksakan diri melakukan aktivitas tambahan yang menguras tenaga, termasuk memperbanyak perjalanan di luar kebutuhan utama ibadah.
Jangan Tunggu Haus untuk Minum
Salah satu hal yang sering dianggap sepele adalah minum air putih. Dalam cuaca panas, tubuh bisa kehilangan cairan lebih cepat. Jemaah sebaiknya tidak menunggu haus untuk minum, karena rasa haus bisa muncul setelah tubuh mulai kekurangan cairan.
Dikutip dari NU Online Jawa Timur, jemaah haji disarankan tidak memaksakan diri langsung beraktivitas berat setelah perjalanan panjang. Tubuh perlu waktu untuk beradaptasi agar ibadah dapat dijalankan dengan lebih tenang dan optimal.
Selain minum air putih secara berkala, jemaah juga perlu memperhatikan tanda-tanda tubuh mulai lelah, seperti pusing, lemas, mual, sulit fokus, atau keringat berlebihan. Jika gejala tersebut muncul, sebaiknya segera beristirahat dan menghubungi petugas kesehatan.








