Di Indonesia, membicarakan NU dan Muhammadiyah sering kali lebih cepat masuk ke perbedaan daripada persamaan. Orang lebih mudah mengingat soal qunut atau tidak qunut, tahlilan atau tidak, hisab atau rukyat, amaliyah tradisional atau pembaruan.
Padahal, jika dibaca dengan lebih jernih, NU dan Muhammadiyah bukan dua kubu yang saling meniadakan. Keduanya adalah dua jalan dakwah yang tumbuh dari kebutuhan zaman yang berbeda, tetapi bertemu dalam satu rumah besar: Islam Indonesia dan kebangsaan.
Muhammadiyah lahir lebih dahulu. Laman resmi Muhammadiyah mencatat Persyarikatan Muhammadiyah berdiri pada 8 Dzulhijjah 1330 H atau 18 November 1912 di Kauman, Yogyakarta. Gerakan ini didirikan KH Ahmad Dahlan dan berakar dari ikhtiar pembaruan pendidikan Islam, termasuk keberadaan Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah yang ia dirikan pada awal 1912.
Nahdlatul Ulama lahir kemudian. NU Online mencatat NU berdiri pada 16 Rajab 1344 H atau 31 Januari 1926. Organisasi ini dipimpin KH Hasyim Asy’ari sebagai Rais Akbar pada masa awal pendiriannya, setelah para kiai merasa perlu membentuk organisasi yang lebih sistematis untuk merespons perkembangan zaman.
Dua tanggal itu penting, tetapi yang lebih penting adalah konteksnya. Muhammadiyah dan NU sama-sama lahir bukan dari ruang kosong. Keduanya lahir dari kegelisahan para ulama terhadap umat, pendidikan, penjajahan, modernitas, dan masa depan Islam di Nusantara.
Muhammadiyah sejak awal dikenal sebagai gerakan tajdid atau pembaruan. KH Ahmad Dahlan tidak hanya berdakwah lewat pengajian, tetapi juga membangun pendidikan, menggerakkan amal sosial, dan memperkenalkan cara baru dalam mengelola umat.
Dari sini, Muhammadiyah tumbuh sebagai gerakan Islam yang sangat kuat dalam pendidikan, kesehatan, filantropi, dan pelayanan sosial. Sekolah, universitas, rumah sakit, panti asuhan, lembaga zakat, dan berbagai amal usaha menjadi bagian dari wajah dakwah Muhammadiyah.
Muhammadiyah.or.id menyebut Muhammadiyah sebagai gerakan Islam modernis terbesar dan tertua di Indonesia yang masih eksis hingga hari ini, dengan kiprah kemanusiaan yang meluas hingga ke berbagai negara dalam rangka perdamaian global dan keadilan sosial.
Di titik ini, dakwah Muhammadiyah tidak hanya berdiri di mimbar. Ia masuk ke ruang kelas, klinik, rumah sakit, panti, kampus, dan pelayanan sosial. Muhammadiyah menunjukkan bahwa Islam tidak cukup hanya dibela dalam wacana, tetapi harus diwujudkan dalam amal yang terukur.
NU lahir dari rahim pesantren dan jaringan ulama tradisional. Ia tumbuh di tengah masyarakat yang hidup dengan tradisi keagamaan lokal, kitab kuning, sanad keilmuan, kiai, santri, majelis, dan amaliyah yang mengakar.
NU Online mencatat proses kelahiran NU berkaitan dengan koordinasi para kiai, termasuk konteks Komite Hijaz dan kebutuhan membangun organisasi ulama yang lebih terstruktur. NU kemudian menjadi wadah besar bagi para kiai dan umat Islam tradisional untuk merawat ajaran Ahlussunnah wal Jamaah, pesantren, serta khazanah keilmuan Islam yang bersanad.
Jika Muhammadiyah kuat dalam amal usaha modern, NU kuat dalam jaringan sosial-kultural. Pesantren, masjid kampung, majelis taklim, tradisi keagamaan, dan relasi kiai-santri menjadi kekuatan yang membuat NU sangat dekat dengan akar masyarakat.
Di banyak desa, NU bukan hanya organisasi. Ia menjadi cara umat menjalani agama: tahlilan, istighotsah, maulid, ziarah, bahtsul masail, ngaji kitab, dan penghormatan pada sanad keilmuan.
NU menjaga Islam yang bertumbuh bersama kebudayaan masyarakat. Ia tidak melihat tradisi semata-mata sebagai beban masa lalu, tetapi sebagai ruang dakwah yang bisa dirawat selama tidak bertentangan dengan prinsip agama.
NU dan Muhammadiyah memang berbeda. Perbedaan itu nyata, historis, dan tidak perlu disangkal.
Muhammadiyah lebih dikenal dengan semangat pembaruan, purifikasi, rasionalisasi praktik keagamaan, dan penguatan amal usaha modern. NU lebih dikenal dengan tradisi pesantren, amaliyah keagamaan, sanad ulama, dan pendekatan kultural.
Namun perbedaan tidak sama dengan permusuhan.
Wakil Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa pernah menyebut hubungan NU dan Muhammadiyah sebagai hubungan saudara. Dalam NU Online, ia menyebut Muhammadiyah sebagai “saudara tua”, karena Muhammadiyah berdiri lebih dahulu pada 1912, sedangkan NU lahir sekitar 14 tahun kemudian.
Ungkapan itu sederhana, tetapi penting. Saudara bisa berbeda watak. Saudara bisa berbeda kebiasaan. Saudara bisa berbeda cara berbicara. Tetapi saudara tidak seharusnya saling menghancurkan.
Di tingkat akar rumput, perbedaan NU dan Muhammadiyah kadang masih dipakai untuk saling menyindir. Padahal umat hari ini menghadapi tantangan yang jauh lebih besar daripada perbedaan qunut, tahlil, atau metode penentuan awal bulan.
Kemiskinan, pendidikan rendah, krisis keluarga, kekerasan seksual, dakwah digital yang dangkal, politik identitas, hoaks keagamaan, kesenjangan ekonomi, dan rusaknya akhlak publik adalah pekerjaan rumah yang tidak bisa diselesaikan oleh satu ormas saja.
NU dan Muhammadiyah bukan hanya organisasi keagamaan. Keduanya adalah pilar masyarakat sipil Islam Indonesia.
Suara Muhammadiyah menulis bahwa Muhammadiyah dan NU tidak hanya merupakan jam’iyah dakwah dan pendidikan, tetapi juga Islamic-based civil society yang menjadi kekuatan penghubung dan penengah antara negara dan masyarakat. Keduanya berperan penting dalam membangun budaya politik damai dan demokratis.
Ini poin besar yang sering dilupakan.
Di negara sebesar Indonesia, ormas Islam tidak hanya mengurus pengajian. Mereka ikut menjaga masyarakat tetap terorganisasi, terdidik, dan punya ruang partisipasi. NU dan Muhammadiyah hadir di sekolah, pesantren, rumah sakit, masjid, kampus, lembaga zakat, organisasi pemuda, perempuan, hingga respons bencana.
Mereka menjadi bantalan sosial ketika negara tidak selalu hadir secara cepat. Ketika ada bencana, kader Muhammadiyah dan NU turun. Ketika ada masalah pendidikan, keduanya punya lembaga. Ketika umat butuh bimbingan agama, keduanya memiliki ulama dan jaringan.








