Pernyataan Presiden Prabowo Subianto bahwa warga desa tidak memakai dolar memunculkan perdebatan penting: apakah pelemahan rupiah hanya berdampak pada orang kota, pelaku impor, atau mereka yang sering ke luar negeri?

Jawabannya: tidak.

Warga desa memang tidak membeli beras, sayur, atau kebutuhan harian dengan dolar. Mereka juga tidak membayar jasa ojek, warung, atau pasar tradisional dengan mata uang asing. Namun dalam ekonomi modern, kurs bisa masuk ke desa melalui jalur yang tidak langsung.

Pertama, lewat harga barang impor. Elektronik, kendaraan, suku cadang, alat pertanian, pakaian tertentu, dan obat-obatan bisa dipengaruhi pelemahan rupiah.

Kedua, lewat biaya produksi. Jika bahan baku, mesin, pupuk, atau energi naik karena kurs, biaya produksi dapat meningkat. Kenaikan itu akhirnya bisa masuk ke harga jual barang.

Ketiga, lewat inflasi. Jika banyak komponen barang dan jasa terdorong naik, rumah tangga desa tetap bisa merasakan dampaknya meski tidak pernah menyentuh dolar.

Ekonom Universitas Airlangga, Gigih Prihantono, menyebut warga desa memang tidak bertransaksi menggunakan dolar, tetapi barang impor seperti pakaian, elektronik, dan kendaraan tetap masuk ke desa. Menurutnya, harga rupiah dari barang-barang tersebut tetap penting dan dapat membebani masyarakat.

Karena itu, pernyataan “desa tidak pakai dolar” perlu dibaca hati-hati. Secara harfiah, benar. Tetapi secara ekonomi, tidak cukup.

Pelemahan rupiah juga terjadi di tengah kondisi pekerjaan dan upah yang masih menjadi tantangan. BPS mencatat TPT Februari 2026 turun menjadi 4,68 persen, tetapi masih ada 7,24 juta penganggur. Rata-rata upah buruh tercatat Rp3,29 juta. Dengan daya beli yang terbatas, kenaikan harga akibat kurs dapat lebih terasa bagi masyarakat bawah.

Dalam konteks sosial budaya, polemik ini menunjukkan jarak antara bahasa elite dan pengalaman rakyat. Elite bicara kurs, fundamental, investor, dan stabilitas. Rakyat merasakannya sebagai harga beras, minyak, pupuk, bensin, biaya sekolah, dan obat.

Karena itu, pemerintah perlu menjelaskan ekonomi dengan bahasa yang dekat, tetapi tetap akurat. Menenangkan rakyat boleh, tetapi tidak dengan membuat masalah terlihat lebih kecil dari kenyataannya.

Warga desa mungkin tidak pakai dolar. Tetapi mereka hidup dalam ekonomi yang tetap dipengaruhi dolar.