Di tengah persaingan dunia kerja yang semakin ketat, muncul fenomena baru yang menarik perhatian publik, yaitu kebiasaan sebagian Generasi Z membawa orang tua saat menjalani wawancara kerja. Fenomena yang dikenal dengan istilah career co-piloting ini menunjukkan bahwa keterlibatan keluarga dalam perjalanan karier anak tidak lagi berhenti pada tahap pendidikan, tetapi juga berlanjut hingga proses pencarian pekerjaan. Tren tersebut memunculkan berbagai tanggapan, mulai dari apresiasi terhadap kuatnya dukungan keluarga hingga kekhawatiran mengenai tingkat kemandirian generasi muda dalam menghadapi dunia profesional.
Berdasarkan survei yang dilakukan oleh platform penyedia layanan karier Zety terhadap 1.001 responden berusia 18–27 tahun, sebanyak 15 persen peserta mengaku pernah membawa orang tua saat wawancara kerja tatap muka, sedangkan 5 persen lainnya melibatkan orang tua dalam wawancara secara daring. Survei yang dipublikasikan pada tahun 2026 itu juga menemukan bahwa 44 persen responden menerima bantuan orang tua dalam menyusun CV dan surat lamaran kerja, sementara sebagian lainnya mendapatkan pendampingan ketika menghubungi perekrut hingga melakukan negosiasi gaji.
Dalam laporannya, Zety menyebutkan bahwa tingginya tekanan dan ketidakpastian di dunia kerja menjadi salah satu alasan utama di balik fenomena tersebut. “Temuan ini menunjukkan bahwa tingginya tekanan dan ketidakpastian di dunia kerja mendorong Gen Z untuk membangun sistem dukungan baru bersama keluarga,” tulis Zety. Bagi banyak anak muda, kehadiran orang tua dianggap mampu memberikan rasa aman, meningkatkan kepercayaan diri, sekaligus membantu mereka menghadapi proses seleksi yang sering kali menegangkan.
Fenomena ini pertama kali menjadi sorotan di Amerika Serikat, tetapi pembahasannya meluas hingga ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Budaya kekeluargaan yang kuat di masyarakat Indonesia membuat sebagian orang menilai keterlibatan orang tua sebagai bentuk kepedulian dan dukungan moral yang positif. Namun, tidak sedikit pula yang berpendapat bahwa proses memasuki dunia kerja seharusnya menjadi langkah awal bagi generasi muda untuk menunjukkan kemandirian dan tanggung jawab pribadi.
Neuropsikolog Dr. Sanam Hafeez menilai bahwa keterlibatan orang tua yang terlalu besar dapat memberikan kesan kurang baik di mata perusahaan. Menurutnya, kehadiran orang tua dalam wawancara kerja berpotensi menimbulkan keraguan mengenai kemampuan calon karyawan dalam mengambil keputusan dan menyelesaikan masalah secara mandiri. Ia menegaskan bahwa dukungan keluarga tetap penting, tetapi harus diberikan dalam batas yang wajar agar anak dapat berkembang menjadi individu yang siap menghadapi tantangan profesional.
Di sisi lain, para pengamat generasi melihat fenomena ini sebagai cerminan perubahan pola hubungan antara orang tua dan anak pada era modern. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang cenderung didorong untuk mandiri sejak dini, banyak keluarga masa kini menerapkan pola pengasuhan yang lebih kolaboratif dan terbuka. Orang tua tidak hanya berperan sebagai pengasuh, tetapi juga sebagai mentor, pendamping, dan tempat berdiskusi dalam menentukan masa depan karier anak.
Fenomena career co-piloting pada akhirnya menunjukkan bahwa dunia kerja modern tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuan individu, tetapi juga oleh dinamika keluarga dan perubahan sosial yang terjadi di masyarakat. Dukungan orang tua dapat menjadi kekuatan bagi Generasi Z dalam menghadapi tantangan karier, namun keseimbangan antara bantuan keluarga dan kemandirian pribadi tetap menjadi kunci utama untuk membangun profesionalisme di masa depan.







