Kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) Fakultas Sains Teknologi dan Matematika (FSTeM) Universitas Brawijaya (UB) di Desa Pucangsongo, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, sukses menghadirkan inovasi teknologi tepat guna di sektor pertanian. Mereka memperkenalkan SERATIK (Serai Wangi Anti Tikus), sebuah repelan nabati ramah lingkungan yang diformulasikan khusus untuk mengganggu indra penciuman tikus agar enggan mendekati lahan budidaya. Meskipun uji coba lapangan difokuskan pada tanaman padi, inovasi ini juga efektif untuk melindungi berbagai jenis tanaman lainnya dari gangguan hama serupa.
Inovasi ini lahir dari keprihatinan mendalam para mahasiswa atas keresahan petani setempat yang kerap merugi akibat serangan hama tikus penurun produktivitas. Memanfaatkan potensi bahan alami yang melimpah di sekitar desa seperti kombinasi serai wangi, bawang putih, daun sirsak, dan lada hitam, tim KKN berupaya mengganggu indra penciuman hewan perusak tersebut secara alami.
Nur Muhammad Iqbal Abdullah selaku ketua tim pelaksana menyampaikan bahwa SERATIK hadir sebagai solusi alternatif yang aman dan ekonomis bagi masyarakat.
"Produk ini berbentuk cair dengan warna cokelat kehijauan dan aroma tajam khas serai wangi serta bawang putih. Keunggulannya, repelan ini sangat mudah diaplikasikan menggunakan alat semprot (sprayer) dan terbukti tidak menyebabkan fitotoksisitas atau keracunan pada tanaman padi," ujar Iqbal.
Dari segi manfaat, SERATIK tidak hanya efektif menekan serangan hama secara ramah lingkungan, tetapi juga mampu mengurangi ketergantungan petani terhadap rodentisida kimia yang berbahaya bagi tanah. Seluruh bahan bakunya dapat diracik secara mandiri oleh petani menggunakan peralatan rumah tangga yang praktis, seperti blender, pisau, ember, gelas takar, saringan kain, corong, hingga botol kemasan.
Proses pembuatannya tergolong sederhana: sebanyak 67 batang serai wangi, 167 siung bawang putih, 167 lembar daun sirsak, dan 13 sachet lada hitam dicuci bersih, diblender bersama air secukupnya, dicampur dalam wadah tertutup, lalu ditambah air hingga volume mencapai 10 liter. Setelah melalui proses fermentasi selama 24 jam dan disaring, cairan siap dikemas atau diaplikasikan.
Berdasarkan uji coba lapangan, penggunaan SERATIK terbukti signifikan menurunkan tingkat kerusakan tanaman hingga 8,3% dengan tingkat efektivitas terhadap hama mencapai 60,5% pada perlakuan optimal (P4). Dari aspek ekonomi, inovasi ini memberikan efisiensi yang sangat tinggi. Untuk kapasitas produksi 10 liter, total biaya yang dikeluarkan hanya berkisar Rp135.000 (sekitar Rp13.500 per liter). Angka ini jauh lebih hemat dibandingkan produk komersial di pasaran yang mencapai Rp300.000 hingga Rp450.000, sehingga petani dapat menikmati penghematan hingga Rp315.000 per 10 liternya.
Melalui pendekatan ini, SERATIK tidak hanya menawarkan solusi penanggulangan hama yang mendukung prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT), tetapi juga mendorong kemandirian petani dalam mengelola kesehatan lahan. Program tersebut sekaligus menjadi wujud nyata kontribusi kampus dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada aspek Tanpa Kelaparan (SDG 2), Pertumbuhan Ekonomi (SDG 8), Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab (SDG 12), Ekosistem Daratan (SDG 15), serta Kemitraan dalam Pembangunan Berkelanjutan (SDG 17).








