Bandung — Persoalan sampah menjadi salah satu permasalahan yang ditemukan Tim KKN-T IPB selama melakukan observasi di Desa Bojong, Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung. Tim KKN-T menemukan adanya penumpukan sampah di beberapa titik yang mendorong mahasiswa mencari alternatif pengelolaan sampah yang dapat diterapkan di lingkungan masyarakat.
Berdasarkan hasil observasi, Desa Bojong telah memiliki TPS 3R (Tempat Pengolahan Reduce, Reuse, Recycle) yang berada di Dusun 2 serta dua unit insinerator. Namun, pemanfaatan fasilitas tersebut belum berjalan secara optimal. Salah satu insinerator diketahui mengalami kerusakan sehingga penggunaannya menjadi terbatas.
Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan Tim KKN-T IPB dalam merancang program kerja pengelolaan sampah di Desa Bojong. Pada awalnya, Tim KKN-T IPB mengusulkan optimalisasi fasilitas yang telah tersedia. Namun, setelah melakukan beberapa diskusi bersama perangkat desa, Kepala Desa Bojong memberikan arahan untuk membangun satu unit insinerator baru agar pengelolaan sampah dapat menjangkau wilayah masyarakat.
Rencana pengelolaan sampah kemudian dibahas lebih lanjut bersama Kepala Dusun 3 dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan serta kebutuhan masyarakat. Berdasarkan pembahasan tersebut, pembangunan diarahkan ke RT 01/RW 07 sebagai wilayah percontohan pengelolaan sampah secara mandiri. Selain membangun satu unit insinerator, Tim KKN-T IPB juga membuat tiga lubang biopori di lokasi yang sama.
Tim KKN-T IPB tidak hanya berfokus pada penggunaan insinerator, tetapi juga menekankan pentingnya pemilahan sampah sejak dari rumah. Pembangunan insinerator dan biopori di wilayah percontohan tersebut diharapkan dapat menjadi contoh bahwa pengelolaan sampah dapat dilakukan secara mandiri oleh masyarakat sekitar.
Program tersebut juga diharapkan dapat mendorong warga untuk tidak hanya membuang sampah pada tempatnya, tetapi mulai memahami proses pemilahan dan pengelolaannya.








