Kelompok KKNT Inovasi IPB University Rona Pulosari Lakukan Pemberdayaan Mayarakat Desa melalui Pelatihan Pascapanen Kopi di Desa Pulosari, Pangalengan
Mahasiswa KKNT IPB latih petani dan TKM Barista Desa Pulosari, Pangalengan olah pascapanen kopi lewat metode roasting gerabah dan aneka teknik penyeduhan.
PANGALENGAN – Kelompok KKN Tematik Inovasi IPB University BANDUNGKAB14, Rona Pulosari, menggelar pelatihan pascapanen kopi di Kampung Cibuluh, Desa Pulosari, Kecamatan Pangalengan. Kegiatan tersebut melibatkan sejumlah petani kopi Desa Pulosari, karang taruna, serta pengurus TKM Barista Desa Pulosari.
Pelatihan pascapanen kopi terdiri atas beberapa rangkaian kegiatan dengan fokus utama pada proses roasting menggunakan alat gerabah, grinding biji kopi, dan teknik penyeduhan bubuk kopi.
Koordinator Kelompok Rona Pulosari, Ristya Anisa Fitri, menyampaikan bahwa pelatihan pascapanen kopi merupakan rangkaian lanjutan dalam program pemberdayaan petani kopi dan masyarakat Desa Pulosari. Program tersebut diawali dengan sosialisasi pengolahan pascapanen kopi dengan menghadirkan narasumber dari IPB University dan Patani Coffee pada Sabtu (25/7/2026).
Pelatihan ini juga menjadi salah satu ruang pembekalan bagi TKM Barista Desa Pulosari yang nantinya akan memproduksi bubuk kopi khas Pangalengan dengan brand Cileunca Sunset Coffee (CSC).
“Kemarin kita semua sudah bertemu di sosialisasi pengolahan kopi. Ini menjadi salah satu rangkaian lanjutan guna meningkatkan pemahaman dan kemampuan agar kita semua sama-sama belajar mengenai proses pengolahan kopi, khususnya dengan alat roasting gerabah yang ingin kami kenalkan kepada Bapak Ibu,” ucap Ristya.
Pangalengan, khususnya Desa Pulosari, memiliki potensi besar untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas komoditas kopi arabika yang dihasilkan. Kopi arabika dengan ciri khas aroma dan rasa yang cenderung lebih fruity menjadi salah satu peluang bagi petani kopi untuk mengembangkan dan memanfaatkannya lebih lanjut pada tahapan pascapanen.
Proses penyeduhan kopi — Tim KKN Rona Pulosari
Melalui pelatihan tersebut, masyarakat diperkenalkan dengan alat roasting atau sangrai berbahan gerabah serta beberapa proses pengolahan lanjutan biji kopi. Pengenalan ini dilakukan agar masyarakat dapat mengetahui alternatif alat dan proses pengolahan kopi serta terdorong untuk memanfaatkannya lebih lanjut.
Kegiatan pelatihan dibagi ke dalam tiga pos utama. Pengenalan dan praktik proses roasting menggunakan alat gerabah dilakukan di pos pertama. Pada pelaksanaannya, masyarakat diberikan penjelasan mengenai proses roasting dan fungsinya terhadap biji kopi sebelum diolah menjadi bubuk kopi yang kini mudah ditemukan di masyarakat.
Pos pertama juga menunjukkan berbagai tingkat hasil roasting biji kopi, mulai dari light, medium, hingga dark roasted. Kelompok Rona Pulosari memberikan kesempatan kepada peserta untuk berlatih menggunakan alat roasting gerabah secara langsung. Alat tersebut dikenalkan dengan kelebihan transfer panas yang lebih merata dibandingkan dengan alat yang lebih modern, sehingga proses roasting diharapkan dapat berjalan lebih maksimal.
Setelah mengenal dan memahami proses roasting yang tepat untuk biji kopi, pos kedua menambah pengetahuan peserta mengenai proses grinding biji kopi yang telah di-roasting. Pos ini juga mengenalkan alat grinding dan cara penggunaannya, termasuk berbagai tingkat kehalusan bubuk kopi yang dapat dihasilkan menggunakan alat tersebut.
Hasil proses grinding selanjutnya digunakan sebagai bubuk kopi yang akan diseduh dengan berbagai teknik penyeduhan pada pos ketiga. Terdapat tiga teknik penyeduhan kopi yang dikenalkan oleh Kelompok Rona Pulosari.
V60 menjadi teknik pertama yang dilakukan sekaligus menjadi sarana untuk mengenalkan V60 dripper yang terbuat dari bambu. Penyeduhan kemudian dilanjutkan dengan pengenalan dan praktik kopi tubruk. Peserta juga diajak mencoba melukis pada foam yang terbentuk dari proses penyeduhan kopi.
Terakhir, dengan memanfaatkan hasil seduhan kopi menggunakan teknik V60, kopi diolah menjadi kopi tarik. Pembuatan kopi tarik dilakukan dengan mencampurkan kopi dengan susu kental manis dan gula aren menggunakan metode seperti pembuatan teh tarik.
Pada setiap proses pembuatan kopi dengan ketiga teknik tersebut, peserta diberikan kesempatan untuk mencoba melakukan teknik penyeduhan secara langsung setelah mendapatkan penjelasan melalui demonstrasi. Selain mencoba teknik penyeduhan, peserta juga diberikan kesempatan untuk merasakan dan membedakan cita rasa kopi yang dihasilkan dari berbagai teknik penyeduhan.
— Tim KKN Rona Pulosari
Melalui interaksi di ketiga pos tersebut, peserta diharapkan dapat mencoba secara langsung menggunakan alat, melakukan teknik penyeduhan, serta mengenal cita rasa kopi khas Pangalengan.
Melihat antusiasme masyarakat Desa Pulosari dalam belajar bersama Kelompok Rona Pulosari mengenai pengolahan pascapanen kopi, pelatihan tersebut diharapkan tidak hanya dilakukan sekali, tetapi dapat terus berlanjut. Hal ini sejalan dengan salah satu tujuan kegiatan, yaitu mewadahi proses belajar TKM Barista untuk mengolah biji kopi khas Pangalengan menjadi produk bubuk kopi dan mengembangkan sebuah kafe bernama Cileunca Sunset Coffee di sekitar kawasan wisata Situ Cileunca.