JAKARTA – Tiga mahasiswa, Satriyo Imam Arifin Wahono, M. Zulfan Ilhami, dan Muhammad Raihan Ghani, berhasil menorehkan prestasi di tingkat internasional setelah meraih Runner Up pada Maju Green Start-Up Program yang diselenggarakan oleh SK Innovation E&S South Korea. Prestasi tersebut diraih melalui inovasi Aigra, sebuah sistem otomasi budidaya jamur yang dikembangkan untuk membantu petani meningkatkan produktivitas sekaligus mewujudkan budidaya yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Kompetisi yang berlangsung selama periode November 2025 hingga Mei 2026 ini mempertemukan peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari akademisi, pelaku industri, hingga inovator dari berbagai perguruan tinggi. Aigra berhasil meraih posisi Runner Up berkat solusi teknologi yang menggabungkan aspek inovasi, keberlanjutan, dan dampak sosial bagi masyarakat.

Perjalanan Aigra berawal dari keinginan tim untuk menghadirkan solusi yang tidak hanya berhenti pada konsep, tetapi mampu memberikan manfaat nyata bagi petani jamur. Sistem yang dikembangkan dirancang untuk mengotomatisasi pengendalian suhu dan kelembapan ruang budidaya sehingga proses produksi dapat berjalan lebih terukur, efisien, dan konsisten.

Menurut tim Aigra, berbagai persoalan yang dihadapi petani jamur, seperti perubahan suhu, kelembapan yang tidak stabil, keterbatasan tenaga kerja, hingga risiko gagal panen, menjadi alasan utama lahirnya inovasi tersebut. Melalui sistem otomasi yang mudah digunakan, mereka berharap petani dapat mengurangi risiko kerugian sekaligus meningkatkan kualitas hasil panen dan pendapatan.

Dalam proses pengembangan, tim tidak hanya berfokus pada teknologi, tetapi juga melakukan observasi langsung ke lokasi budidaya jamur. Berbagai validasi lapangan dilakukan untuk memastikan bahwa solusi yang dibangun benar-benar sesuai dengan kebutuhan petani.

"Kami tidak ingin membangun produk hanya berdasarkan asumsi. Kami ingin memahami secara langsung persoalan yang dihadapi petani dan memastikan bahwa solusi yang kami tawarkan memiliki nilai praktis, lingkungan, ekonomi, dan sosial," ungkap tim Aigra.

Selama mengikuti kompetisi, tantangan terbesar yang dihadapi adalah proses implementasi di luar kota, mulai dari observasi lapangan, pengujian sistem, hingga memperoleh umpan balik dari petani. Selain itu, persiapan presentasi juga menjadi proses yang tidak mudah karena tim harus menyusun data, model bisnis, analisis dampak lingkungan, dampak sosial, hingga strategi penyampaian di hadapan dewan juri.

Persaingan dalam kompetisi ini juga berlangsung ketat. Para peserta berasal dari berbagai institusi ternama, termasuk dosen, lulusan magister, dan inovator dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Meski demikian, tim Aigra berhasil membuktikan bahwa mahasiswa mampu bersaing di tingkat internasional melalui inovasi yang memberikan solusi terhadap permasalahan nyata di masyarakat.

Bagi tim Aigra, penghargaan tersebut bukan sekadar pencapaian akademik, melainkan bukti bahwa inovasi berbasis teknologi dapat memberikan manfaat bagi sektor pertanian apabila dikembangkan dengan pendekatan yang berorientasi pada kebutuhan pengguna.

Ke depan, mereka berharap Aigra terus berkembang sebagai green start-up yang mampu memperkuat ekosistem budidaya jamur, meningkatkan efisiensi produksi, mengurangi pemborosan sumber daya, serta membuka akses teknologi yang lebih luas bagi para petani.

Melalui pengalaman ini, tim juga ingin menginspirasi generasi muda agar tidak ragu untuk berinovasi. Menurut mereka, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh pengalaman, tetapi juga oleh keberanian untuk mencoba, kemauan belajar, keterbukaan terhadap masukan, serta kepedulian terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat.

"Jangan takut merasa kecil ketika berada di lingkungan yang besar. Selama kita mau berusaha, mempersiapkan diri dengan serius, terbuka terhadap masukan, serta memiliki kepedulian terhadap masyarakat, akan selalu ada kesempatan untuk memberikan dampak yang lebih besar," tutup tim Aigra.