Ponorogo – Mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui program SIGAP (Sinergi Pengendalian Fusarium dan Penguatan Budidaya Hortikultura) di Desa Pudak Kulon, Kecamatan Pudak, Kabupaten Ponorogo.

Kegiatan yang dilaksanakan pada Selasa (4/8/2026) di Balai Desa Pudak Kulon tersebut diikuti 29 petani cabai. Program ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam mengenali penyakit layu Fusarium sekaligus mengenalkan alternatif pengendalian berbasis hayati yang lebih ramah lingkungan.

Penyakit layu Fusarium menjadi salah satu kendala dalam budidaya tanaman hortikultura, khususnya cabai, karena dapat memengaruhi pertumbuhan dan produktivitas tanaman. Karena itu, petani diberikan pemahaman mengenai penyebab penyakit, gejala serangan, faktor yang memengaruhi perkembangan penyakit, serta strategi pengendalian yang dapat diterapkan.

Rangkaian kegiatan diawali dengan penyampaian materi dan diskusi mengenai penyakit layu Fusarium serta sejumlah penyakit penting lainnya yang umum menyerang tanaman hortikultura di daerah dataran tinggi. Diskusi berlangsung interaktif dengan petani turut menyampaikan berbagai permasalahan yang mereka temui di lahan budidaya.

Selain penyampaian materi, petani mengikuti workshop dan praktik pembuatan agen pengendali ramah lingkungan. Salah satunya berupa pembuatan Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) dengan memanfaatkan bahan yang relatif mudah diperoleh, seperti air cucian beras, air kelapa, gula merah, terasi, kapur sirih, air mineral, dan akar bambu muda.

Petani juga diperkenalkan dengan pemanfaatan Trichoderma sebagai salah satu agen pengendali hayati. Dalam praktiknya, jagung pecahan digunakan sebagai media perbanyakan Trichoderma. Peserta mendapatkan penjelasan mulai dari persiapan media hingga proses inokulasi agar agen hayati dapat dimanfaatkan dengan tepat.

Sebagai tindak lanjut, mahasiswa turut mendistribusikan PGPR dan agen hayati Trichoderma kepada petani peserta. Distribusi tersebut disertai penjelasan mengenai manfaat, dosis, dan cara aplikasi. Selain itu, Bacillus thuringiensis diperkenalkan sebagai salah satu agen hayati yang dapat dimanfaatkan dalam pengendalian organisme pengganggu tanaman.

Kegiatan yang berlangsung selama 180 menit tersebut mendapat partisipasi aktif dari para petani. Melalui materi, diskusi, dan praktik langsung, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai penyakit layu Fusarium, tetapi juga pengalaman dalam menerapkan alternatif pengendalian hayati dalam budidaya hortikultura.

Melalui program SIGAP, petani cabai di Desa Pudak Kulon diharapkan semakin memahami pentingnya pengelolaan penyakit tanaman secara tepat serta dapat mulai menerapkan alternatif pengendalian berbasis hayati. Pemanfaatan PGPR dan Trichoderma diharapkan menjadi bagian dari upaya penguatan budidaya hortikultura yang lebih berkelanjutan.

Ke depan, penerapan teknologi pengendalian hayati perlu didukung melalui pendampingan dan pemantauan di lapangan. Dengan demikian, pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama kegiatan dapat terus diterapkan secara berkelanjutan pada lahan budidaya petani.