Pekalongan – Pembelajaran konsep dasar literasi dan numerasi pada anak usia dini kerap menghadapi tantangan apabila disampaikan secara teoritis dan monoton di dalam kelas. Menjawab tantangan tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro (Undip) menginisiasi program edukatif bertajuk Storyfolding (Dongeng dan Origami Geometri) bagi siswa kelas 1 dan 2 SDN 02 Pantirejo, Desa Pantirejo.

Program lintas disiplin ilmu ini digagas oleh Isti Umamah, mahasiswa Program Studi Matematika, Fakultas Sains dan Matematika, bersama Sinta Taliya dari Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya. Melalui pendekatan belajar sambil bermain (fun learning), kegiatan tersebut mengintegrasikan stimulasi minat baca dan pemahaman konsep matematika abstrak ke dalam bentuk visual yang lebih konkret melalui seni melipat kertas.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pelaksanaan pre-test visual singkat untuk mengetahui pemahaman awal siswa mengenai bentuk dasar dan logika bidang datar. Setelah itu, suasana kelas dibangun melalui dongeng fabel interaktif berjudul “Kiki Si Kucing Cerdik dan Pohon Persahabatan” yang dibawakan oleh Sinta. Cerita tersebut digunakan untuk melatih daya imajinasi siswa sekaligus menyampaikan nilai moral mengenai persahabatan dan gotong royong.

Karakter utama dalam cerita kemudian diwujudkan melalui kegiatan origami yang dipandu oleh Isti. Para siswa diajak membuat kreasi wajah kucing menggunakan kertas lipat berwarna secara bertahap. Setiap tahapan melipat kertas menjadi kesempatan untuk mengenalkan konsep geometri dasar dengan cara yang sederhana dan dekat dengan kehidupan anak.

Dalam proses tersebut, siswa dikenalkan dengan berbagai konsep, seperti bentuk persegi, titik sudut, garis simetri, sudut lancip, serta bidang segitiga dan segi empat. Dengan melihat perubahan bentuk kertas secara langsung, siswa dapat menghubungkan konsep geometri dengan objek yang mereka buat sendiri.

Sebagai penutup, siswa diberikan kesempatan untuk mengustomisasi wajah kucing hasil karya masing-masing sesuai dengan kreativitas mereka. Setelah kegiatan berkarya selesai, siswa mengerjakan lembar post-test visual untuk melihat kembali pemahaman terhadap materi yang telah disampaikan selama kegiatan.

“Matematika sering kali dianggap sulit jika hanya diperkenalkan lewat angka dan rumus. Melalui metode storyfolding ini, kami ingin menunjukkan bahwa geometri murni bisa dipelajari dengan sangat menyenangkan, konkret, dan dekat dengan dunia anak-anak lewat bantuan cerita dan seni melipat kertas,” ujar Isti.

Melalui kolaborasi antara literasi, matematika, cerita, dan seni, program Storyfolding diharapkan dapat menciptakan pengalaman belajar yang lebih menarik bagi siswa SDN 02 Pantirejo. Kegiatan tersebut sekaligus diharapkan dapat menumbuhkan ketertarikan siswa terhadap budaya membaca serta membangun fondasi pemahaman spasial dan geometri sejak awal jenjang sekolah dasar.