Pekalongan, 9 Agustus 2026 — Bekerja di sawah bukan berarti bebas dari risiko. Di balik aktivitas bertani yang menjadi bagian dari keseharian masyarakat Desa Pantirejo, terdapat berbagai potensi bahaya yang dapat mengancam keselamatan dan kesehatan petani. Kondisi lahan, penggunaan peralatan pertanian, hingga paparan pestisida dapat menimbulkan risiko apabila tidak disertai penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) serta penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) yang sesuai.
Melihat kondisi tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro melaksanakan Sosialisasi K3 dan Penggunaan APD bagi Petani Desa Pantirejo pada Minggu, 9 Agustus 2026. Kegiatan berlangsung pukul 19.30–21.00 WIB di rumah Kepala Pertanian Desa Pantirejo, Bapak Carian, Kecamatan Kesesi, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Sekitar 20 petani mengikuti kegiatan tersebut.
Sosialisasi ini dilatarbelakangi oleh kondisi yang ditemukan mahasiswa KKN selama mengamati aktivitas pertanian di Desa Pantirejo. Penggunaan APD secara lengkap masih belum menjadi kebiasaan bagi sebagian petani. Salah satu perlengkapan yang sering diabaikan adalah masker, terutama ketika petani melakukan penyemprotan pestisida.
Bagi sebagian petani, penggunaan APD masih dianggap merepotkan karena dinilai kurang praktis saat bekerja. Padahal, risiko dalam aktivitas pertanian tidak hanya berasal dari bahan kimia, tetapi juga dapat berupa cedera fisik. Salah satu risiko yang menjadi perhatian adalah kemungkinan kaki terkena pecahan keong ketika petani bekerja tanpa menggunakan sepatu boots.
Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa KKN memberikan edukasi mengenai pentingnya penerapan K3 dalam aktivitas pertanian sehari-hari. Sosialisasi disampaikan oleh Gading Dandi Sugianto yang sekaligus memberikan sambutan dan memandu rangkaian kegiatan. Dokumentasi kegiatan turut dibantu oleh mahasiswa KKN, Muhammad Rasif Taqi.
Materi yang diberikan tidak hanya membahas penggunaan APD, tetapi juga mengajak para petani mengenali berbagai risiko yang dapat muncul ketika bekerja tanpa perlindungan yang memadai. Peserta diperkenalkan dengan sejumlah jenis APD, seperti masker, sepatu boots, kacamata pelindung, sarung tangan, serta pakaian pertanian yang dapat disesuaikan dengan jenis pekerjaan dan risiko yang dihadapi.
Salah satu materi yang mendapat perhatian adalah mengenai paparan pestisida. Petani diberikan pemahaman mengenai pentingnya mengurangi risiko paparan bahan kimia saat melakukan aktivitas penyemprotan. Penggunaan APD kemudian diperkenalkan bukan sekadar sebagai perlengkapan tambahan, tetapi sebagai salah satu upaya untuk melindungi keselamatan dan kesehatan selama bekerja.
Agar informasi dapat dipelajari kembali setelah kegiatan berakhir, mahasiswa KKN menggunakan buku saku sebagai media edukasi. Buku tersebut dapat dibawa pulang oleh peserta dan digunakan sebagai pengingat mengenai penerapan K3 serta penggunaan APD dalam aktivitas pertanian. Selain itu, mahasiswa juga membagikan masker dan sarung tangan kepada setiap peserta untuk digunakan saat bekerja.
Antusiasme terlihat dari sekitar 20 petani yang mengikuti kegiatan hingga selesai. Meskipun tidak terdapat sesi tanya jawab secara aktif, kegiatan tetap memberikan tambahan pemahaman kepada peserta mengenai risiko keselamatan dan kesehatan dalam pekerjaan pertanian. Salah satu hal yang menjadi perhatian peserta adalah informasi mengenai risiko paparan pestisida dalam jangka panjang yang sebelumnya belum banyak diketahui.
Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan keselamatan petani dapat dimulai melalui langkah sederhana, salah satunya dengan meningkatkan pemahaman mengenai risiko pekerjaan dan penggunaan APD sesuai kebutuhan. Meskipun sosialisasi dilaksanakan dalam satu kali pertemuan tanpa program lanjutan khusus, bertambahnya perhatian peserta terhadap pentingnya penggunaan APD menjadi salah satu hasil yang diharapkan dari kegiatan tersebut.
Sebagai pemateri, Gading Dandi Sugianto berharap pengetahuan yang diberikan dapat diterapkan oleh para petani dalam aktivitas sehari-hari. Dengan mengenali risiko pekerjaan dan menggunakan APD secara tepat, potensi kecelakaan kerja maupun dampak kesehatan akibat paparan bahan berbahaya diharapkan dapat diminimalkan.
Bagi mahasiswa KKN Undip, sosialisasi ini menjadi salah satu bentuk kontribusi dalam mendukung keselamatan masyarakat Desa Pantirejo, khususnya para petani. Meskipun berlangsung dalam satu pertemuan, kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam membangun kebiasaan kerja yang lebih aman. Keselamatan di sawah pada akhirnya bukan hanya tentang menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga memastikan petani dapat kembali ke rumah dalam kondisi sehat dan selamat.







