Sragen – Potensi peternakan bebek di Desa Kliwonan, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen, menjadi salah satu fokus pengembangan dalam pelaksanaan KKN Tim II Universitas Diponegoro Tahun 2026. Melalui Program Multidisiplin 1 bertema “Penguatan Rantai Nilai (Value Chain) Usaha Peternakan Bebek BUMDes Desa Kliwonan melalui Optimalisasi Produksi, Hilirisasi Produk, dan Penguatan Tata Kelola Pemasaran”, mahasiswa dari berbagai bidang keilmuan berkolaborasi untuk mengembangkan potensi usaha peternakan bebek BUMDes.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah mendorong pemanfaatan telur bebek menjadi produk telur asin. Pengembangan produk tersebut diharapkan menjadi salah satu bentuk hilirisasi hasil peternakan sehingga telur bebek tidak hanya dipasarkan sebagai produk mentah, tetapi juga memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk olahan dengan nilai tambah.
Dalam program ini, Tyas Vania Dianursafa, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, berperan melalui program “Edukasi dan Pendampingan Persiapan Dokumen Pendaftaran Merek Produk Telur Asin BUMDes”. Kegiatan tersebut berfokus pada pengenalan pentingnya merek sekaligus membantu pengelola BUMDes memahami dokumen dan tahapan yang perlu dipersiapkan sebelum melakukan pendaftaran merek.
Pendampingan dilakukan dengan memberikan booklet yang berisi dokumen dan persyaratan pendaftaran merek kepada pengelola BUMDes. Selain itu, pengelola juga mendapatkan penjelasan mengenai tahapan dan alur pendaftaran merek melalui laman resmi Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI), sehingga proses tersebut dapat menjadi gambaran apabila nantinya dilakukan secara mandiri.
Program ini menjadi bagian dari upaya mempersiapkan aspek hukum sejak awal dalam pengembangan produk. Bagi produk yang akan dikembangkan dan dipasarkan, merek dapat menjadi identitas yang membedakannya dengan produk lain. Karena itu, pemahaman mengenai persyaratan dan proses pendaftaran merek penting dimiliki pengelola usaha sebelum produk dikembangkan lebih lanjut.
Meskipun demikian, proses pengembangan produk telur asin di Desa Kliwonan masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah belum adanya masyarakat yang berminat menjadi mitra UMKM telur asin sehingga pengembangan produk dan merek belum dapat berjalan secara optimal. Selain itu, pengelola BUMDes mengharapkan proses pendaftaran dapat dilakukan dalam waktu relatif cepat, sementara masih terdapat sejumlah tahapan dan persyaratan yang perlu dipersiapkan terlebih dahulu.
Oleh karena itu, hasil program ini tidak diarahkan pada pendaftaran merek secara langsung, melainkan pada persiapan dan peningkatan pemahaman pengelola BUMDes. Dengan adanya booklet dan panduan yang telah diberikan, pengelola BUMDes dapat melanjutkan proses pendaftaran secara mandiri ketika produk, merek, dan kebutuhan administrasinya telah siap.
Kegiatan tersebut juga menunjukkan peran mahasiswa hukum dalam mendukung pengembangan usaha masyarakat. Aspek hukum tidak hanya diperlukan ketika suatu usaha telah berjalan, tetapi dapat dipersiapkan sejak tahap awal agar pengembangan produk memiliki dasar dan arah yang lebih jelas.
Dari sisi pembangunan berkelanjutan, kegiatan ini turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Pendampingan persiapan merek menjadi bagian dari upaya mendukung pengembangan usaha lokal, hilirisasi produk peternakan, serta peningkatan nilai ekonomi dari potensi yang dimiliki masyarakat Desa Kliwonan.
Melalui kolaborasi mahasiswa KKN dari berbagai bidang, pengembangan usaha peternakan bebek BUMDes tidak hanya diarahkan pada peningkatan produksi, tetapi juga mencakup pengolahan produk dan penguatan tata kelola usaha. Ke depan, keberadaan mitra UMKM serta kesiapan produk menjadi bagian penting agar rencana pengembangan telur asin dan proses pendaftaran mereknya dapat dilanjutkan secara bertahap.







