Blitar – Mahasiswa Membangun Desa (MMD) Universitas Brawijaya (UB) Kelompok 67 Tahun 2026 di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Dr. Arif Yustian Maulana Noor, S.TP., M.Agr., menghadirkan Program Kerja Pelita Literasi sebagai upaya meningkatkan minat baca anak-anak di Kelurahan Srengat, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar.

Program yang rutin dilaksanakan setiap sore di Lapangan Sidowayah tersebut merupakan hasil kolaborasi MMD UB Kelompok 67 dengan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI), Relawan Literasi Masyarakat (RELIMA) Kabupaten Blitar, Taman Baca Masyarakat (TBM) Tashwirul Afkar, Pemerintah Kelurahan Srengat, serta masyarakat setempat. Pelita Literasi menjadi salah satu langkah untuk mengoptimalkan bantuan sebanyak 1.000 buku dari Perpusnas RI agar tidak hanya menjadi koleksi di rak perpustakaan, tetapi dapat dimanfaatkan masyarakat, khususnya anak-anak.

Ide program ini muncul setelah mahasiswa menemukan dua kondisi yang cukup bertolak belakang selama pelaksanaan MMD. TBM Tashwirul Afkar telah memiliki koleksi bacaan yang cukup lengkap berkat bantuan Perpusnas RI, tetapi belum banyak dikenal dan dimanfaatkan masyarakat. Di sisi lain, Lapangan Sidowayah selalu ramai oleh anak-anak yang bermain layang-layang, sepak bola, hingga jogging pada sore hari.

Melihat kondisi tersebut, mahasiswa memilih untuk membawa buku langsung ke tempat anak-anak beraktivitas daripada menunggu mereka datang ke taman baca.

“Kami melihat setiap sore lapangan selalu ramai dikunjungi anak-anak untuk bermain layang-layang, sedangkan taman baca sangat jarang dikunjungi. Persoalannya bukan anak-anak tidak suka buku, tetapi buku belum hadir di ruang keseharian mereka,” ujar Ketua Pelita Literasi, Lidya Noer Azizah.

Melalui pendekatan community reach approach, mahasiswa menyesuaikan jadwal kegiatan dengan aktivitas anak-anak, membangun kepercayaan orang tua yang sebelumnya belum mengenal program, serta menyesuaikan kategori buku dengan usia peserta agar tetap relevan meskipun kegiatan berlangsung di tengah keramaian lapangan.

Setiap pertemuan Pelita Literasi diawali dengan kegiatan Read Aloud atau membaca nyaring. Mahasiswa berperan sebagai fasilitator yang mendampingi anak-anak sesuai dengan jenjang kelas masing-masing. Setelah membaca, anak-anak diajak berdiskusi mengenai tokoh, sifat, alur cerita, hingga pesan moral dari buku yang dibaca.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi mengulas buku, story retelling, dan bookish play. Rangkaian kegiatan ditutup dengan pemberian mini apresiasi kepada seluruh peserta sebagai bentuk penghargaan atas partisipasi dan semangat mereka.

Melalui kegiatan tersebut, anak-anak tidak hanya diajak memahami isi cerita, tetapi juga dilatih untuk percaya diri dalam menyampaikan pendapat, menceritakan kembali isi cerita, serta bekerja sama melalui bookish play dalam bentuk permainan edukatif berbasis cerita. Seluruh kegiatan dikemas dengan pendekatan belajar sambil bermain agar suasana tetap menyenangkan dan anak-anak dapat menikmati proses belajar tanpa merasa sedang mengikuti pembelajaran formal.

Program Pelita Literasi melalui pendekatan community reach approach mendapat sambutan positif dari anak-anak dan orang tua. Jumlah peserta juga menunjukkan peningkatan seiring berjalannya kegiatan. Antusiasme anak-anak dalam mengikuti setiap pertemuan menjadi salah satu indikasi bahwa program tersebut dapat diterima dengan baik oleh masyarakat.

“Aku senang banget dengan adanya Pelita Literasi ini karena aku jadi suka baca buku, dengar banyak cerita, belajar sambil bermain, dan bertemu dengan teman-teman baru,” ujar Azfar, salah satu peserta Pelita Literasi.

Melalui Pelita Literasi, MMD UB Kelompok 67 berharap budaya membaca dapat tumbuh sejak usia dini dengan menghadirkan buku di tengah keseharian anak-anak. Sinergi antara Universitas Brawijaya, Perpusnas RI, RELIMA Kabupaten Blitar, TBM Tashwirul Afkar, Pemerintah Kelurahan Srengat, dan masyarakat diharapkan dapat menciptakan ekosistem literasi yang aktif serta mendorong semangat dan minat baca anak-anak.