Kediri – Kelompok 74 Mahasiswa Membangun Desa (MMD) Universitas Brawijaya (UB) menyelenggarakan program sosial berbasis edukasi bertajuk “Ruang Setara: Edukasi Inklusivitas dan Pengenalan Bahasa Isyarat” bagi siswa sekolah dasar di Desa Bringin, Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri. Kegiatan ini diinisiasi untuk membangun sikap empati, menekan potensi diskriminasi, serta mengenalkan akses komunikasi inklusif kepada generasi muda sejak dini.

Program ini selaras dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Desa, khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan SDG 10 tentang Berkurangnya Kesenjangan, melalui upaya menciptakan lingkungan sekolah dan masyarakat yang ramah serta menghargai kesetaraan hak bagi penyandang disabilitas.

Rangkaian kegiatan diawali dengan sosialisasi interaktif menggunakan media pembelajaran visual seperti poster, infografis, serta presentasi materi mengenai konsep inklusivitas dan pemahaman tentang disabilitas. Dengan memanfaatkan pendekatan Desain Komunikasi Visual (DKV), materi disampaikan secara komunikatif agar lebih mudah dipahami oleh para siswa.

Sesi kemudian dilanjutkan dengan peragaan dan praktik langsung gerakan dasar bahasa isyarat yang dipandu oleh mahasiswa MMD UB. Para peserta tampak antusias mengikuti setiap instruksi, mulai dari gerakan huruf alfabet hingga kata sapaan dasar. Sebagai bentuk implementasi materi, para siswa juga diajak membuat rekaman video singkat mengenai praktik bahasa isyarat secara bersama-sama.

Melalui penyelenggaraan program “Ruang Setara”, Kelompok 74 MMD UB berharap kesadaran sosial dan nilai-nilai toleransi dapat terus tertanam pada diri siswa. Pengenalan inklusivitas sejak usia dini diharapkan dapat mendorong terbentuknya lingkungan sekolah dan masyarakat yang lebih ramah, empatik, serta menghargai keberagaman di Desa Bringin.