Semarang — Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Iptek Desa Binaan Universitas Diponegoro (IDBU) 70 melaksanakan program “Penguatan Daya Saing Pengrajin Tali Lashing melalui Inovasi Produk Berkelanjutan dan Transformasi Digital Berbasis Website” di Kelurahan Jangli dan Kelurahan Tandang, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang. Kegiatan yang dilaksanakan pada Sabtu (11/7) di Kelurahan Jangli dan Minggu (12/7) di Kelurahan Tandang ini bertujuan meningkatkan kapasitas pengrajin melalui diversifikasi produk berbahan tali lashing sekaligus memperkenalkan website sebagai media promosi dan pemasaran digital.
Program tersebut dilaksanakan di bawah bimbingan Annisa Qurrota A’yun, S.E., M.M., Kholidin, S.Kom., M.Kom., dan Herry Laksito, S.E., Ak., M.Adv.Acc. dengan mengusung tema “Pemberdayaan UMKM Ekonomi Kreatif Berkelanjutan Berbasis Daur Ulang Limbah Tali Plastik Industri”. Kegiatan melibatkan mahasiswa KKN Tematik IDBU 70 bersama ibu-ibu PKK, pengrajin, serta masyarakat di kedua kelurahan. Program ini juga mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, SDG 9 tentang industri, inovasi, dan infrastruktur, SDG 11 tentang kota dan permukiman berkelanjutan, serta SDG 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.
Berdasarkan hasil observasi dan arahan Lurah Jangli, RW 4 Kelurahan Jangli dipilih sebagai salah satu wilayah prioritas karena memiliki sentra pengrajin anyaman tali plastik atau tali lashing yang telah berkembang secara turun-temurun. Para pengrajin seperti Pak Ponidi dan Pak Kamto diketahui mampu menghasilkan sekitar tujuh hingga sepuluh tas per hari. Pak Ponidi juga berperan sebagai distributor dengan jangkauan pemasaran hingga Tegal, Pekalongan, dan Batang.
Bahan baku kerajinan diperoleh dari pemulung maupun limbah industri, terutama Polytron, dengan harga sekitar Rp5.000 hingga Rp12.000 per kilogram tergantung warna. Selama ini, produk sebagian besar dipasarkan secara langsung kepada konsumen luar kota maupun melalui pasar tradisional dengan harga sekitar Rp9.000 hingga Rp15.000 per tas. Namun, para pengrajin menghadapi sejumlah tantangan, seperti harga jual yang relatif stagnan, perubahan harga bahan baku, keterbatasan variasi produk, permintaan yang bersifat musiman, pemasaran digital yang belum optimal, serta minimnya regenerasi pengrajin.
Kondisi serupa ditemukan di RW 10 Kelurahan Tandang. Para pengrajin di wilayah tersebut juga mampu menghasilkan sekitar tujuh hingga sepuluh tas per hari dengan memanfaatkan limbah plastik dari industri maupun pengepul. Namun, produk yang dihasilkan masih didominasi tas dengan variasi terbatas dan pemasaran masih dilakukan secara konvensional. Kondisi tersebut menjadi salah satu hambatan dalam meningkatkan nilai tambah produk dan memperluas jangkauan pasar.
Melihat potensi dan permasalahan tersebut, Tim KKN Tematik IDBU 70 memperkenalkan lima inovasi produk berbahan tali lashing, yaitu kotak tisu, alas serbaguna atau taplak meja, pot gantung, storage box, dan tudung saji. Diversifikasi tersebut diharapkan dapat memberikan alternatif produk selain tas sehingga pengrajin memiliki lebih banyak pilihan dalam menyesuaikan produk dengan kebutuhan konsumen dan perkembangan pasar.
Selain inovasi produk, mahasiswa juga memperkenalkan website sebagai media promosi dan pemasaran digital. Pemanfaatan website diharapkan dapat membantu pengrajin menampilkan produk secara lebih luas serta membuka peluang pemasaran di luar wilayah yang selama ini menjadi jangkauan utama mereka.
Di Kelurahan Jangli, kegiatan diawali dengan sosialisasi dari Komunitas Indonesia Sehat dan dilanjutkan dengan pemaparan program multidisiplin oleh mahasiswa KKN. Peserta diperkenalkan dengan potensi pengembangan tali lashing, lima alternatif produk baru, serta pemanfaatan website sebagai sarana promosi. Kegiatan juga dilengkapi dengan peragaan kerangka produk agar peserta dapat melihat secara langsung kemungkinan pengembangan kerajinan dari tali lashing.
Sementara itu, kegiatan di Kelurahan Tandang dilaksanakan bersama ibu-ibu PKK dan pengrajin di RT 03 dan RT 04 RW 10. Mahasiswa memperkenalkan lima produk inovasi sekaligus memberikan pemahaman mengenai pemanfaatan website untuk mendukung promosi dan pemasaran hasil kerajinan.
Sekretaris Lurah Jangli, Bu Mitha, mengapresiasi inovasi yang diperkenalkan mahasiswa. Menurutnya, para pengrajin selama ini lebih banyak memproduksi tas sehingga kehadiran contoh produk baru dapat membuka wawasan mengenai kemungkinan pengembangan kerajinan yang lebih beragam.
Apresiasi juga disampaikan Bu Dariah selaku peserta kegiatan sekaligus Ketua RW 2 Kelurahan Jangli. Ia menilai kegiatan tersebut memberikan wawasan baru mengenai berbagai produk yang dapat dikembangkan dari tali lashing. Di Kelurahan Tandang, Pak Arifin selaku Ketua RT 03 RW 10 dan Pak Yanto selaku Ketua RT 04 RW 10 turut menyampaikan bahwa variasi produk serta pengenalan website memberikan pengetahuan tambahan bagi masyarakat dalam mengembangkan dan memasarkan hasil kerajinan.
Antusiasme juga terlihat dari para pengrajin. Bu Utami selaku perwakilan pengrajin RT 03 RW 10 menyampaikan bahwa kegiatan tersebut memberikan ide baru untuk mengembangkan tali lashing menjadi produk selain tas. Sementara itu, Pak Wagiman dan Bu Parjiem selaku perwakilan pengrajin RT 04 RW 10 menilai pengenalan variasi produk dan pemasaran melalui website memberikan tambahan pengetahuan yang dapat dikembangkan untuk mendukung usaha mereka.
Sri Rejekiningsih selaku peserta kegiatan di Kelurahan Tandang juga mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurutnya, penjelasan yang mudah dipahami dan contoh produk yang ditampilkan membantu masyarakat melihat lebih banyak kemungkinan dalam mengembangkan kerajinan tali lashing.
Koordinator Kelurahan Jangli KKN Tematik IDBU 70, Aryo Pragiwaksono, menjelaskan bahwa program tersebut disusun berdasarkan hasil observasi dan analisis kebutuhan masyarakat. Diversifikasi produk dan pemanfaatan website sebagai media pemasaran digital diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah hasil olahan limbah tali plastik sekaligus memperluas jangkauan pasar.
Hal senada disampaikan Koordinator Kelurahan Tandang KKN Tematik IDBU 70, Ilham Ardhiansyah. Menurutnya, program disusun berdasarkan observasi dan diskusi bersama masyarakat agar inovasi yang diberikan dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengrajin.
Melalui program di Kelurahan Jangli dan Kelurahan Tandang, Tim KKN Tematik IDBU 70 Universitas Diponegoro berupaya mendorong pengrajin untuk tidak hanya bergantung pada satu jenis produk, tetapi mampu mengembangkan berbagai bentuk kerajinan dari limbah tali plastik. Perpaduan inovasi produk dan pemasaran digital diharapkan dapat meningkatkan daya saing UMKM, memperluas peluang pasar, meningkatkan nilai tambah produk, serta mendukung perkembangan ekonomi kreatif berbasis pemanfaatan limbah plastik yang berkelanjutan di Kota Semarang.







