Boyolali, 10 Agustus 2026 – Permasalahan pengelolaan sampah masih menjadi salah satu tantangan yang dihadapi masyarakat Desa Pelemrejo, Kecamatan Andong, Kabupaten Boyolali. Belum tersedianya tempat pembuangan sampah (TPS) menyebabkan sebagian sampah rumah tangga masih dibakar atau dibuang tanpa melalui proses pemilahan dan pengolahan. Kondisi tersebut mendorong mahasiswa KKN-R Tim II Universitas Diponegoro (Undip) 2026 menyusun program Kajian Finansial Hijau Berbasis Prototipe Komposter Mandiri sebagai salah satu alternatif pengelolaan sampah organik yang sesuai dengan karakteristik masyarakat desa.

Kajian ini berangkat dari kondisi Desa Pelemrejo yang mayoritas masyarakatnya bekerja sebagai petani. Berdasarkan observasi dan diskusi dengan perangkat desa, pengelolaan sampah melalui kerajinan maupun bank sampah belum berjalan optimal. Oleh karena itu, mahasiswa KKN menawarkan pendekatan sederhana dengan mengolah sampah organik rumah tangga menjadi kompos yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian.

Sebagai dasar kajian, salah satu anggota tim mahasiswa membuat prototipe komposter dari galon bekas berkapasitas 15 liter dengan menggunakan EM4 dan molase. Proses pengomposan berlangsung selama 14 hari. Prototipe tersebut membutuhkan biaya investasi Rp100.000 dan biaya operasional Rp6.000 per siklus. Dalam simulasi, satu siklus menghasilkan 4 kilogram kompos dengan nilai Rp16.000 sehingga diperoleh keuntungan bersih sekitar Rp10.000 per siklus.

Berdasarkan simulasi tersebut, ROI diperkirakan sebesar 10 persen per siklus dengan payback period selama lima bulan. Perhitungan tersebut merupakan proyeksi potensi finansial dan bukan hasil penjualan aktual di Desa Pelemrejo.

Selain aspek finansial, kajian juga menyoroti manfaat lingkungan dan pertanian dari penggunaan komposter. Pengolahan sampah organik menjadi kompos diharapkan dapat mengurangi kebiasaan membakar sampah serta menghasilkan bahan yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian dan berpotensi menekan penggunaan pupuk kimia.

Saat hasil kajian dipaparkan kepada perangkat Desa Pelemrejo pada 10 Agustus 2026, diketahui bahwa program serupa pernah dilakukan sebelumnya, tetapi tidak berlanjut karena masyarakat cenderung memilih cara yang lebih praktis. Evaluasi tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan penerapan komposter perlu disesuaikan dengan kebiasaan dan kondisi masyarakat. Oleh karena itu, mahasiswa menyarankan penerapan secara bertahap, baik melalui rumah tangga maupun kelompok tani yang memiliki minat.

Melalui program ini, mahasiswa KKN tidak hanya menghasilkan prototipe komposter, tetapi juga menyusun kajian yang memadukan aspek ekonomi dan lingkungan sebagai bahan pertimbangan bagi pemerintah desa. Hasil kajian dan prototipe tersebut diharapkan dapat menjadi acuan awal dalam pengembangan alternatif pengelolaan sampah organik yang sederhana, sesuai dengan karakteristik masyarakat Desa Pelemrejo, serta berpotensi memberikan manfaat bagi sektor pertanian.

Pemaparan kajian
Pemaparan kajian — KKN-R Tim II UNDIP 2026

Program Kajian Finansial Hijau Berbasis Prototipe Komposter Mandiri diharapkan menjadi salah satu kontribusi mahasiswa KKN Undip dalam mendorong pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Meskipun penerapan secara luas masih memerlukan proses adaptasi dan pendampingan, kajian ini memberikan gambaran bahwa sampah organik rumah tangga tidak hanya dapat dipandang sebagai limbah, tetapi juga sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung kegiatan pertanian dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan lingkungan.

Penulis: Mutiara Sani Saragih
Kontak Media/Humas Kelompok: [email protected]