Boyolali, 28 Juli 2026 — Membiasakan anak berkomunikasi dengan sopan dapat dimulai dari hal-hal sederhana, salah satunya melalui penggunaan kata “permisi”, “tolong”, “maaf”, dan “terima kasih”. Empat ungkapan tersebut dikenalkan oleh Nuraini Maulidya, mahasiswa KKN-R Tim II Universitas Diponegoro (Undip), kepada siswa SDN Gejugan, Desa Pelemrejo, Kecamatan Andong, Kabupaten Boyolali, pada Selasa (28/7/2026).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program kerja multidisiplin “Membangun Budaya Komunikasi Positif melalui Pembiasaan Empat Ungkapan Sopan pada Anak Sekolah Dasar”. Edukasi disampaikan secara interaktif dengan mengajak siswa membahas penggunaan empat ungkapan tersebut dalam berbagai situasi yang sering mereka temui sehari-hari.

Siswa diajak mengenal “4 kata ajaib”, yaitu permisi, tolong, maaf, dan terima kasih. Mereka diberikan contoh mengenai penggunaan kata-kata tersebut, seperti mengucapkan “tolong” saat meminta bantuan, “maaf” ketika melakukan kesalahan, “terima kasih” setelah menerima bantuan, serta “permisi” ketika hendak melewati atau menyela seseorang.

Agar materi lebih mudah diingat, kegiatan juga dilengkapi dengan poster edukasi yang berisi empat ungkapan tersebut. Poster kemudian ditempatkan di lingkungan sekolah sehingga siswa dapat melihat dan mengingat kembali kata-kata yang telah dipelajari.

Dokumentasi bersama
Dokumentasi bersama — KKN-R Tim II Undip

Selama kegiatan berlangsung, siswa terlihat antusias mengikuti materi dan turut memberikan contoh penggunaan kata-kata tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan yang dekat dengan aktivitas mereka membuat siswa lebih mudah menghubungkan materi dengan kebiasaan yang dilakukan di sekolah maupun di rumah.

Penggunaan empat ungkapan tersebut diharapkan dapat menjadi kebiasaan sederhana dalam interaksi siswa. Tidak hanya ketika berbicara dengan guru, tetapi juga saat berkomunikasi dengan teman dan orang-orang di lingkungan sekitar.

Bagi Nuraini Maulidya, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk mengenalkan cara berkomunikasi yang sederhana, tetapi dekat dengan keseharian siswa. Melalui pembiasaan empat ungkapan sopan, pesan yang disampaikan diharapkan tidak berhenti setelah kegiatan selesai, tetapi terus diterapkan siswa dalam interaksi sehari-hari.