Sumberjo - Jum’at, 31 Juli 2026, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UPN “Veteran” Jawa Timur bekerja sama dengan Muhammad Shobari Kharim, atau biasa dipanggil Mas Karim, yang merupakan pemilik dari Sumber Wandhe Group sekaligus pegiat kopi yang mengembangkan Sumber Wandhe Coffee Lab dan Sumber Wandhe Coffee Estate. Selain menjalankan usaha di bidang kopi, beliau juga membuka kelas kopi sebagai wadah pembelajaran dan berbagi pengetahuan mengenai pengolahan serta peningkatan kualitas kopi. Dalam bidang profesional, beliau telah memperoleh sertifikasi dari Coffee Quality Institute (CQI) serta Specialty Coffee Association (SCA) melalui program Coffee Value Assessment (CVA). Pengalaman, kompetensi, dan kegiatan edukasi tersebut menjadi salah satu pencapaian beliau dalam mendukung peningkatan mutu kopi serta pengembangan pengetahuan masyarakat mengenai dunia kopi.yang membahas tuntas proses pascapanen kopi mulai dari sortasi ceri, pengolahan, cupping, hingga standar specialty coffe.

Kelompok KKN 39 UPNVJT menggelar program kerja kedua berupa pelatihan pengelolaan kualitas kopi bagi warga Desa Sumberjo berkolaborasi dengan Mas Karim sebagai pemateri. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari program sebelumnya yang sasarannya para pelaku UMKM kopi setempat, mengingat kopi di Desa Sumberjo memiliki potensi komoditas yang cukup besar dari banyaknya hasil panen yang menjadikannya salah satu ciri khas Desa Sumberjo.

Acara dibuka secara resmi oleh MC, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Koordinator Desa, Bramana Ogya Shankara. Dalam sambutannya, Bramana menyampaikan bahwa kopi telah lama menjadi bagian dari kehidupan warga Sumberjo. Sambutan berikutnya disampaikan oleh perwakilan BPD, Pak Hariawan, selaku pendamping KKN di desa tersebut. Dalam sambutannya, Pak Hariawan menyampaikan apresiasi atas kehadiran para peserta dan berharap ilmu yang diberikan dalam pelatihan ini dapat benar-benar diterapkan, khususnya terkait cara mengolah kopi yang baik dan benar. Ia juga berharap program-program selanjutnya dapat berjalan lebih sukses. Sebelum masuk ke sesi inti, panitia lebih dulu melaksanakan pre-test kepada peserta untuk mengukur pemahaman awal mereka mengenai pengelolaan kopi.

Materi inti pelatihan disampaikan oleh Mas Karim, yang menjelaskan  untuk mencapai standar specialty coffe ada empat syarat yang harus dipenuhi: sortasi ceri yang tepat, pengolahan kopi yang benar, proses cupping, hingga akhirnya memenuhi kriteria specialty coffe itu sendiri. Jelasnya, proses tersebut diawali dengan memilih ceri yang benar-benar matang dan memisahkannya dari ceri yang belum matang, sebelum dicuci bersih dan dibilas sebanyak dua hingga tiga kali.

Tahap berikutnya adalah fermentasi, di mana bakteri asam laktat yang secara alami terdapat pada ceri kopi berperan mengurai kandungan buah sekaligus membentuk karakter rasa dan aroma yang lebih baik. Mas karim memaparkan bahwa hasil fermentasi dipengaruhi oleh sejumlah faktor, yakni suhu, kelembapan, sirkulas udara, kualitas bahan baku, durasi, serta metode pengolahan yang digunakan. Proses fermentasi idealnya berlangsung sekitar 5 hari, meski di Sumberjo rata-rata membutuhkan waktu 11-15 hari, bahkan bisa mencapai 30 hari apabila menggunakan solar dryer.

Mas Karim juga membagikan tips penjemuran yang baik agar kopi tidak berjamur, yakni dengan tidak langsung menutup kopi pada hari pertama penjemuran, melainkan membiarkannya terjemur secara bertahap hingga sekitar empat hari. Setelah kering dan diselep, Mas karim mengingatkan bahwa hasilnya belum tentu semuanya berkualitas baik, sehingga biji kopi tetap perlu dipilah kembali antara yang bagus dan rusak sebelum masuk tahap roasting.

Pada tahap roasting, Mas Karim menjelaskan tiga tingkatan yang umum dikenal yaiu light, medium, dan dark, serta ciri khas suara kopi yang menyerupai bunyi popcorn saat mencapai titik matang tertentu. Ia juga menjelaskan Tingkat keekringan kopi yang ideal dapat dilihat dari cara biji terbelah saat digigit: jika terbelah menjadi dua berarti baik, namun ika terbelah menjadi empat artinya proses gagal.

Mas Karim juga membedakan dua metode fermentasi yang biasa digunakan, yaitu fermentasi kering, di mana kopi dicuci lalu ditiriskan sebelum dimasukkan ke dalam tong dan ditutup, serta fermentasi basah, di mana kopi dimasukkan ke dalam otng lalu diberi air sebelum ditutup. Ketika kopi benar-benar kering, aktivitas jamur maupun enzim di dalamnya akan berhenti dengan sendrinya.

Terkait kematangan buah, Mas Karim menjelaskan bhawa petani dapat mengenalinya lewat siklus kembang pohon kopi: jika kembang pertama muncul tepat saat musim kemarau, buah sisa langsung matang dengan baik, namun jika kembang pertama justru disusul hujan, maka proses pematangannya tidak bisa berlangsung optimal.   

Sebagai penutup, Mas Karim juga menyampaikan seputar potensi kopi di Sumberjo, termasuk klaim bahwa kopi Excelsa dari desa ini merupakan salah satu yang terbaik dan terbanyak di Kawasan Wonosalam pada tahun 2026. Ia turut mengingatkan pentingnya menjaga batang utama pohon kopi agar tidak tertutup daun supaya mendapat sinar matahari langsung, serta membagikan standar minimal nilai cupping kopi yang layak disebut berkualitas, yaitu di angka 80.

Pelatihan dari Mas Karim ini diharapkan dapat membekali para pelaku UMKM kopi di Desa Sumberjo dengan pengetahuan teknis yang lebih mendalam, sehingga mampu meningkatkan kualitas produk sekaligus daya saing kopi lokal di pasar yang lebih luas.