MIJEN, SEMARANG – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Universitas Diponegoro kelompok 2 IDBU 52 Mijen mengadakan edukasi lingkungan mengenai fermentasi eco enzyme bagi warga RT 07 RW 07, Kelurahan Mijen, Kota Semarang, pada Minggu, 2 Agustus 2026. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Kampung Iklim (ProKlim) yang dijalankan tim selama masa pengabdian, dengan sasaran utama ibu rumah tangga di wilayah tersebut.
Melalui leaflet berjudul “Eco Enzyme: Fermentasi Cerdas dari Rumah”, mahasiswa memperkenalkan eco enzyme sebagai cairan hasil fermentasi limbah dapur organik, seperti sisa sayuran dan kulit buah, yang dicampur dengan gula merah atau molase dan air. Materi disusun agar mudah dipahami dan dapat langsung dipraktikkan warga di rumah.
Dalam leaflet dijelaskan sejumlah alasan metode tersebut dapat diterapkan oleh ibu rumah tangga. Bahan bakunya berasal dari sisa dapur sehingga relatif mudah diperoleh, proses pembuatannya sederhana, hasilnya dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga, serta dapat membantu mengurangi sampah organik yang dibuang setiap hari.
Komposisi bahan yang digunakan mengikuti rasio 1:3:10, yaitu satu bagian gula merah atau molase, tiga bagian sisa buah dan sayuran, serta 10 bagian air. Volume bahan yang dimasukkan ke dalam wadah juga disarankan sekitar 60 persen dari kapasitas wadah.
Tahapan Pembuatan Eco Enzyme
Leaflet tersebut memuat tahapan pembuatan eco enzyme secara berurutan. Proses diawali dengan membersihkan wadah dari sisa sabun atau bahan kimia. Setelah itu, volume wadah diukur dan diisi air bersih maksimal 60 persen dari kapasitasnya.
Selanjutnya, gula dimasukkan sesuai takaran 10 persen dari berat air, kemudian diikuti potongan sisa buah dan sayuran sebanyak 30 persen dari berat air. Seluruh bahan kemudian diaduk hingga tercampur rata.
Wadah ditutup rapat hingga masa panen. Khusus penggunaan botol berkapasitas 1,5 liter, tutup botol disarankan dibuka setiap 10 hari sekali untuk mengeluarkan gas hasil fermentasi. Wadah juga perlu diberi label tanggal pembuatan dan perkiraan tanggal panen agar proses fermentasi dapat dipantau.
Proses fermentasi berlangsung selama kurang lebih tiga bulan. Hasil akhirnya berupa cairan berwarna cokelat dengan aroma asam segar khas fermentasi.

Leaflet juga mencantumkan sejumlah tips agar proses fermentasi berjalan dengan baik. Warga dianjurkan menggunakan wadah plastik tertutup, menyisakan ruang udara sekitar sepertiga bagian wadah, serta membuka tutup wadah secara berkala selama 10 hari pertama pada bulan pertama fermentasi.
Sebaliknya, warga diimbau menghindari penggunaan wadah berbahan kaca atau logam serta tidak memanen hasil fermentasi sebelum tiga bulan.
Beberapa pertanyaan yang kerap muncul mengenai proses fermentasi juga dijelaskan dalam leaflet. Bau asam pada cairan disebut sebagai kondisi yang normal apabila proses fermentasi berjalan baik. Kulit jeruk juga dapat digunakan sebagai bahan tambahan. Sementara itu, lapisan putih pada permukaan cairan umumnya merupakan ragi alami yang masih tergolong wajar. Sebaliknya, munculnya jamur berwarna hitam dapat menjadi tanda bahwa proses fermentasi mengalami kegagalan.
Manfaat untuk Kebutuhan Rumah Tangga
Eco enzyme yang telah jadi dapat dimanfaatkan sebagai pembersih serbaguna, seperti untuk mengepel lantai, mencuci piring, dan membersihkan kamar mandi. Cairan tersebut juga dapat digunakan sebagai pupuk cair alami untuk tanaman serta membantu mengusir hama.
Leaflet mencantumkan dosis penggunaan untuk sejumlah kebutuhan, yaitu satu bagian eco enzyme berbanding 10 bagian air untuk pel lantai, satu berbanding lima untuk pembersih kamar mandi, satu berbanding 65 untuk pupuk tanaman, serta satu berbanding 100 untuk pengusir hama.
Tidak hanya cairannya, ampas hasil fermentasi eco enzyme juga dapat dimanfaatkan. Ampas yang diblender hingga halus dapat digunakan untuk membersihkan saluran kloset. Sementara itu, ampas yang dikeringkan dapat dimanfaatkan sebagai pengharum mobil maupun pupuk tanaman organik, dengan catatan bukan untuk tanaman dalam pot.
Melalui program edukasi tersebut, mahasiswa KKN-T IDBU 52 Mijen berharap warga RT 07 RW 07 dapat mempraktikkan pembuatan eco enzyme secara mandiri di rumah. Selain berpotensi mengurangi pengeluaran untuk bahan pembersih dan pupuk, kebiasaan tersebut diharapkan dapat mengurangi volume sampah organik yang dibuang setiap hari serta membantu menjaga kebersihan lingkungan sekitar.
Program ini turut sejalan dengan upaya mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, serta SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim melalui pengelolaan sampah rumah tangga yang lebih ramah lingkungan.
Ditulis oleh Marisa Jala Kusumawati, mahasiswa Program Studi Oseanografi, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro.







