Runtut.com

Mahasiswa KKN FSTeM Universitas Brawijaya 2026 Kenalkan BARAKU, Inovasi Pengolahan Limbah Kotoran Sapi Menjadi Biobriket Ramah Lingkungan

Mahasiswa KKN FSTeM Universitas Brawijaya memperkenalkan BARAKU, inovasi pengolahan limbah kotoran sapi menjadi biobriket ramah lingkungan di Desa Gading Kembar

3 menit baca
142
Mahasiswa KKN FSTeM Universitas Brawijaya 2026 Kenalkan BARAKU, Inovasi Pengolahan Limbah Kotoran Sapi Menjadi Biobriket Ramah Lingkungan
Foto bersama — Dok. Pribadi

Malang — Bagi warga Dusun Dempok, Desa Gading Kembar, beternak sapi telah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari. Di balik tingginya aktivitas peternakan tersebut, terdapat limbah kotoran sapi yang terus dihasilkan dan belum seluruhnya dimanfaatkan secara optimal. Padahal, limbah tersebut masih memiliki potensi untuk diolah menjadi produk yang bermanfaat bagi lingkungan maupun masyarakat.

Potensi inilah yang mendorong mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Fakultas Sains, Teknologi, dan Matematika (FSTeM) Universitas Brawijaya menghadirkan BARAKU (Briket Arang Kotoran Sapi). Melalui program ini, limbah kotoran sapi diperkenalkan sebagai bahan baku biobriket, yaitu bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan sekaligus memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.

Sebagai langkah awal, mahasiswa memperkenalkan BARAKU kepada para peternak Dusun Dempok melalui sosialisasi yang diselenggarakan pada Sabtu (4/7/2026). Sosialisasi tidak hanya bertujuan mengenalkan proses pembuatan biobriket, tetapi juga membangun pemahaman bahwa limbah peternakan dapat menjadi sumber daya yang memiliki nilai guna apabila dikelola dengan tepat.

Sekretaris Desa Gading Kembar, Imam Sofi'i, mengapresiasi inisiatif mahasiswa yang mengangkat isu pengelolaan limbah peternakan sebagai salah satu fokus pengabdian kepada masyarakat. Menurutnya, pendekatan tersebut relevan dengan kondisi Dusun Dempok yang mayoritas warganya berprofesi sebagai peternak.

"Kami mengucapkan terima kasih kepada mahasiswa KKN Universitas Brawijaya yang telah melaksanakan sosialisasi ini. Semoga ilmu yang diberikan dapat menjadi bekal bagi para peternak dalam memanfaatkan limbah kotoran sapi menjadi sesuatu yang lebih bernilai. Harapan kami, semangat 'Limbah Jadi Berkah' tidak hanya menjadi slogan, tetapi juga dapat diwujudkan melalui pemanfaatan limbah yang memberikan manfaat bagi lingkungan maupun perekonomian masyarakat," ujar Imam Sofi'i.

Koordinator Desa KKN Universitas Brawijaya, Mirza Musthafa, menjelaskan bahwa BARAKU lahir dari keinginan untuk menghadirkan solusi yang dapat diterapkan secara sederhana oleh masyarakat. Menurutnya, limbah kotoran sapi tidak seharusnya hanya dipandang sebagai sisa hasil peternakan, tetapi juga sebagai sumber daya yang dapat diolah menjadi produk bernilai guna.

Pemaparan dan praktek
Pemaparan dan praktek — Dok. Pribadi

Pemahaman peserta kemudian diperkuat melalui pemaparan materi oleh Na’ilah Izzah Fithriyani mengenai potensi pemanfaatan limbah kotoran sapi menjadi biobriket. Mahasiswa menjelaskan bahwa pengolahan limbah tersebut merupakan salah satu bentuk penerapan prinsip Reduce, Reuse, Recycle (3R) sekaligus membuka peluang pengembangan produk energi alternatif berbasis potensi lokal.

Melalui sosialisasi tersebut, peternak dikenalkan pada potensi limbah kotoran sapi yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Mahasiswa menunjukkan bahwa limbah tersebut dapat diolah menjadi biobriket sebagai bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan sekaligus memiliki nilai ekonomi. Selain dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga, biobriket juga berpeluang dipasarkan kepada pelaku UMKM kuliner, peternak, dan kelompok tani. Berdasarkan perhitungan yang dipaparkan, biaya produksi biobriket diperkirakan berkisar Rp4.000–Rp6.000 per kilogram, dengan kisaran harga jual Rp8.000–Rp10.000 per kilogram sehingga berpotensi memberikan nilai tambah bagi masyarakat apabila dikembangkan secara berkelanjutan. 

Peserta tidak hanya memperoleh penjelasan secara teoritis. Mahasiswa juga memperagakan secara langsung proses pembuatan biobriket yang dipandu oleh Stephen Tangguh Laia dan Keyzia Fredella Ekatasya, mulai dari pencampuran bahan baku, pencetakan, pengeringan, hingga pirolisis, yaitu proses pembakaran dengan suplai oksigen yang sangat terbatas untuk menghasilkan arang. Demonstrasi kemudian dilanjutkan dengan uji pembakaran biobriket yang telah selesai diproduksi sehingga peserta dapat melihat secara langsung karakteristik pembakarannya sebagai bahan bakar alternatif.

Diskusi yang berlangsung setelah demonstrasi menunjukkan antusiasme peserta terhadap inovasi tersebut. Berbagai pertanyaan mengenai proses produksi, kualitas biobriket, hingga peluang pengembangannya sebagai usaha berbasis potensi lokal menjadi pembahasan dalam sesi tersebut.

BARAKU tidak dirancang berhenti pada tahap sosialisasi. Mahasiswa telah menyiapkan BARAKU Teaching Session pada 9–16 Juli 2026 dengan melibatkan salah satu peternak di Dusun Dempok agar mampu memproduksi biobriket secara mandiri, mulai dari pengolahan bahan baku hingga pengemasan produk. Setelah rangkaian pendampingan selesai, mahasiswa juga akan menyerahkan produk BARAKU beserta seperangkat peralatan produksi kepada mitra desa sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan program.

Melalui pendekatan tersebut, BARAKU tidak hanya menawarkan solusi terhadap pengelolaan limbah peternakan, tetapi juga mendorong tumbuhnya kesadaran bahwa sumber daya lokal dapat diolah menjadi energi alternatif yang bernilai guna. Program ini sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada aspek energi bersih (SDG 7), konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab (SDG 12), pertumbuhan ekonomi (SDG 8), serta kemitraan dalam pembangunan berkelanjutan (SDG 17).

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
Pembuatan Kurikulum dan Maintenance Ruang Belajar Oleh Kelompok 4 KKN STIT Hidayatunnajah Bekasi di TPQ Insan Mutiara
Ruang Kampus

Pembuatan Kurikulum dan Maintenance Ruang Belajar Oleh Kelompok 4 KKN STIT Hidayatunnajah Bekasi di TPQ Insan Mutiara

Mahasiswa KKN 4 STIT Hidayatunnajah Bekasi gelar pengabdian masyarakat di TPQ Insan Mutiara lewat penyusunan kurikulum dan perbaikan fasilitas belajar.

Ferdian Trikusuma· 1 hari lalu
KBGO Makin Marak Terjadi di Perguruan Tinggi, Pentingnya Pemahaman Gender di Kampus
Ruang Kampus

KBGO Makin Marak Terjadi di Perguruan Tinggi, Pentingnya Pemahaman Gender di Kampus

Kasus Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) mulai mencuat di beberapa Perguruan Tinggi. Hal ini menunjukkan urgensi pendidikan gender di lingkungan kampus.

Khalda Syifa Ramadhani· 4 hari lalu
Parkir Kampus Semrawut: Salah Mahasiswa atau Manajemen?
Ruang Kampus

Parkir Kampus Semrawut: Salah Mahasiswa atau Manajemen?

Puluhan sepeda motor memenuhi area parkir kampus Universitas Pamulang. Keterbatasan lahan membuat sebagian mahasiswa memarkir kendaraan di trotoar dan

Wardah Hafizhah· 6 hari lalu
HIMA PBIN Universitas Cipasung Resmi Dikukuhkan Warek III di Tengah Semangat Mahasiswa Baru
Ruang Kampus

HIMA PBIN Universitas Cipasung Resmi Dikukuhkan Warek III di Tengah Semangat Mahasiswa Baru

HIMA Pendidikan Bahasa Indonesia (PBIN) Universitas Cipasung resmi dikukuhkan oleh Warek III pada orientasi mahasiswa baru (Momaru), Rabu (23/9/2026).

Maya Sintasari· 1 minggu lalu
KKN-T Unesa Olah Minyak Jelantah Menjadi Lilin Aromaterapi Bernilai Ekonomi di Desa Patokpicis
Ruang Kampus

KKN-T Unesa Olah Minyak Jelantah Menjadi Lilin Aromaterapi Bernilai Ekonomi di Desa Patokpicis

Program pelatihan pembuatan lilin aromaterapi berbahan dasar minyak jelantah merupakan keterampilan mengolah limbah menjadi produk bernilai jual

Naura Nancy Adellia · 2 minggu lalu
Langkah Mantap Menuju PIMNAS: Tim PKM-PM SERASI Paparkan Hasil Intervensi di PKP2
Ruang Kampus

Langkah Mantap Menuju PIMNAS: Tim PKM-PM SERASI Paparkan Hasil Intervensi di PKP2

Mahasiswa PKM STIKes Widya Dharma Husada terapkan terapi Tree of Life bagi WBS PSBL Harapan Sentosa 2 guna pulihkan konsep diri dan interaksi sosial.

Ferdian Trikusuma· 2 minggu lalu