Runtut.com

Dari Sampah Jadi Karya: Seminar Eco-Creation Ajak Siswa SD Balongbesuk Peduli Lingkungan

Seminar Eco-Creation di SD Balongbesuk mengajak siswa mengenal pemilahan sampah, membuat kerajinan dari tutup botol, dan mengolah sampah organik menjadi kompos.

4 menit baca
20
Dari Sampah Jadi Karya: Seminar Eco-Creation Ajak Siswa SD Balongbesuk Peduli Lingkungan
Dokumentasi bersama — Dokumentasi KKN 05 Balongbesuk

Balongbesuk – Sampah tidak selalu harus berakhir di tempat pembuangan. Jika dikelola dengan tepat, barang yang dianggap tidak terpakai dapat diubah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Pesan tersebut dikenalkan kepada siswa SD Balongbesuk melalui kegiatan Seminar Eco-Creation, sebuah program pengabdian kepada masyarakat di bidang pendidikan yang memadukan edukasi lingkungan dengan kegiatan praktik kreatif.

Kegiatan yang dilaksanakan pada 30 Juli 2026 di area musala SD Balongbesuk tersebut diikuti sekitar 50 siswa kelas 4 dan 5. Program ini dirancang sebagai respons terhadap kebutuhan siswa dalam memahami jenis sampah, melakukan pemilahan, serta mengetahui cara sederhana untuk memanfaatkan dan mengolah sampah.

Berdasarkan hasil observasi dan koordinasi dengan pihak sekolah, siswa SD Balongbesuk telah memiliki pemahaman mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Namun, pemahaman mengenai pengelolaan sampah masih perlu diperkuat, terutama dalam membedakan sampah organik dan anorganik, melakukan pemilahan dengan benar, serta memanfaatkan sampah agar memiliki nilai guna. Pengetahuan dan keterampilan siswa dalam mengolah sampah organik menjadi kompos juga masih terbatas.

Kondisi tersebut menjadi dasar pelaksanaan Seminar Eco-Creation yang dikemas secara edukatif, interaktif, dan menyenangkan. Materi disampaikan menggunakan bahasa sederhana, gambar, serta contoh sampah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa. Dengan pendekatan tersebut, siswa tidak hanya menerima penjelasan secara teori, tetapi juga diajak terlibat langsung dalam berbagai aktivitas.

Belajar Memilah Sampah secara Langsung

Salah satu kegiatan utama dalam Seminar Eco-Creation adalah pengenalan jenis-jenis sampah dan praktik pemilahan sampah organik serta anorganik. Melalui presentasi interaktif dan tanya jawab, siswa diajak mengenali berbagai jenis sampah yang sering mereka temui di lingkungan sekolah maupun rumah.

Setelah mendapatkan penjelasan, siswa mempraktikkan secara langsung cara memilah sampah berdasarkan jenisnya. Metode praktik dipilih agar siswa tidak hanya memahami pengertian sampah organik dan anorganik, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan tersebut membuat siswa lebih aktif selama kegiatan berlangsung.

Tutup Botol Disulap Menjadi Gantungan Kunci

Tidak berhenti pada kegiatan memilah sampah, Seminar Eco-Creation juga mengajak siswa melihat sampah dari sudut pandang yang berbeda. Tutup botol bekas yang selama ini dianggap sebagai sampah diperkenalkan sebagai bahan yang masih dapat dimanfaatkan.

Dalam kegiatan tersebut, siswa diajak membuat gantungan kunci dari tutup botol bekas. Kegiatan kreatif ini menjadi media pembelajaran bahwa sampah anorganik tertentu masih dapat diolah menjadi barang yang memiliki nilai guna. Selain memberikan pengalaman baru, kegiatan tersebut juga melatih kreativitas siswa sekaligus memperkenalkan konsep sederhana mengenai pemanfaatan kembali barang bekas.

Bagi siswa sekolah dasar, pengalaman mengubah benda bekas menjadi produk sederhana dapat menjadi pembelajaran yang lebih mudah diingat. Mereka tidak hanya mengetahui bahwa tutup botol merupakan sampah, tetapi juga melihat secara langsung bahwa benda tersebut masih dapat dimanfaatkan.

Mengenal Kompos dari Sampah Organik

Selain pemanfaatan sampah anorganik, siswa juga dikenalkan dengan pengolahan sampah organik menjadi kompos melalui kolaborasi dengan bidang pertanian. Siswa mendapatkan penjelasan dan mengikuti praktik sederhana mengenai cara mengolah sampah organik agar tidak langsung dibuang.

Praktik tersebut memberikan pengalaman langsung mengenai salah satu bentuk pemanfaatan sampah yang dapat memberikan manfaat bagi lingkungan. Dengan demikian, siswa memperoleh dua pengalaman sekaligus. Sampah anorganik dapat dimanfaatkan menjadi produk kreatif, sedangkan sampah organik dapat diolah menjadi kompos.

Kedua kegiatan tersebut memperkuat pesan utama Seminar Eco-Creation bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai dari hal-hal sederhana di lingkungan sekitar.

Siswa Antusias Mengikuti Kegiatan

Evaluasi kegiatan dilakukan melalui pengamatan terhadap keterlibatan dan pemahaman siswa selama penyampaian materi, sesi tanya jawab, serta kegiatan praktik. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa siswa mengikuti kegiatan dengan antusias dan mampu memahami materi mengenai jenis serta pemilahan sampah.

Siswa juga mampu membedakan sampah organik dan anorganik serta mempraktikkan pemilahannya dengan pendampingan mahasiswa. Mereka turut mengikuti praktik pembuatan gantungan kunci dari tutup botol bekas dan pengolahan sampah organik menjadi kompos.

Dalam pelaksanaannya, terdapat perbedaan tingkat pemahaman dan keterampilan antarsiswa. Untuk mengatasinya, mahasiswa memberikan contoh konkret dan pendampingan secara langsung. Metode tanya jawab dan praktik juga digunakan untuk menjaga keaktifan siswa selama kegiatan.

Membangun Kebiasaan Peduli Lingkungan

Seminar Eco-Creation tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan produk dari bahan bekas. Lebih jauh, kegiatan ini diharapkan dapat membangun kebiasaan positif siswa dalam mengelola sampah.

Program tersebut menargetkan siswa agar mampu mengenali sampah organik dan anorganik, melakukan pemilahan dengan tepat, memanfaatkan sampah anorganik menjadi barang yang memiliki nilai guna, serta memahami cara sederhana mengolah sampah organik menjadi kompos.

Dampak kegiatan juga terlihat dari aspek sosial. Siswa memperoleh pengetahuan dan pengalaman baru mengenai pemilahan serta pengolahan sampah. Kegiatan yang dilakukan secara interaktif mendorong siswa untuk berpartisipasi dan bekerja sama sekaligus menumbuhkan kesadaran untuk menjaga kebersihan lingkungan.

Dari sisi ekonomi, kegiatan ini memang belum sampai pada tahap pemasaran atau menghasilkan pendapatan. Namun, siswa telah mendapatkan pengenalan awal bahwa barang yang dianggap sebagai limbah dapat memiliki nilai guna apabila dimanfaatkan secara kreatif.

Harapan Berlanjut di Lingkungan Sekolah

Agar manfaat kegiatan tidak berhenti setelah seminar selesai, pihak sekolah diharapkan terus membimbing siswa untuk menerapkan kebiasaan memilah dan mengelola sampah. Guru dapat mengintegrasikan kebiasaan memilah sampah dalam aktivitas sehari-hari di sekolah.

Kegiatan kreatif dengan memanfaatkan barang bekas juga dapat dikembangkan menjadi aktivitas edukatif yang berkelanjutan. Sementara itu, pengolahan sampah organik menjadi kompos dapat diterapkan secara bertahap dengan memanfaatkan sampah organik yang tersedia di lingkungan sekolah.

Seminar Eco-Creation pada akhirnya tidak sekadar mengajarkan siswa tentang sampah. Kegiatan ini mengajak mereka melihat bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari tindakan sederhana: mengenali, memilah, memanfaatkan, dan mengolah. Dari tutup botol dapat lahir gantungan kunci, dari sampah organik dapat dihasilkan kompos, dan dari edukasi sederhana diharapkan tumbuh kebiasaan baru untuk menjaga lingkungan sejak usia sekolah.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
Pembuatan Kurikulum dan Maintenance Ruang Belajar Oleh Kelompok 4 KKN STIT Hidayatunnajah Bekasi di TPQ Insan Mutiara
Ruang Kampus

Pembuatan Kurikulum dan Maintenance Ruang Belajar Oleh Kelompok 4 KKN STIT Hidayatunnajah Bekasi di TPQ Insan Mutiara

Mahasiswa KKN 4 STIT Hidayatunnajah Bekasi gelar pengabdian masyarakat di TPQ Insan Mutiara lewat penyusunan kurikulum dan perbaikan fasilitas belajar.

Ferdian Trikusuma· 1 minggu lalu
KBGO Makin Marak Terjadi di Perguruan Tinggi, Pentingnya Pemahaman Gender di Kampus
Ruang Kampus

KBGO Makin Marak Terjadi di Perguruan Tinggi, Pentingnya Pemahaman Gender di Kampus

Kasus Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) mulai mencuat di beberapa Perguruan Tinggi. Hal ini menunjukkan urgensi pendidikan gender di lingkungan kampus.

Khalda Syifa Ramadhani· 2 minggu lalu
Parkir Kampus Semrawut: Salah Mahasiswa atau Manajemen?
Ruang Kampus

Parkir Kampus Semrawut: Salah Mahasiswa atau Manajemen?

Puluhan sepeda motor memenuhi area parkir kampus Universitas Pamulang. Keterbatasan lahan membuat sebagian mahasiswa memarkir kendaraan di trotoar dan

Wardah Hafizhah· 2 minggu lalu
HIMA PBIN Universitas Cipasung Resmi Dikukuhkan Warek III di Tengah Semangat Mahasiswa Baru
Ruang Kampus

HIMA PBIN Universitas Cipasung Resmi Dikukuhkan Warek III di Tengah Semangat Mahasiswa Baru

HIMA Pendidikan Bahasa Indonesia (PBIN) Universitas Cipasung resmi dikukuhkan oleh Warek III pada orientasi mahasiswa baru (Momaru), Rabu (23/9/2026).

Maya Sintasari· 3 minggu lalu
KKN-T Unesa Olah Minyak Jelantah Menjadi Lilin Aromaterapi Bernilai Ekonomi di Desa Patokpicis
Ruang Kampus

KKN-T Unesa Olah Minyak Jelantah Menjadi Lilin Aromaterapi Bernilai Ekonomi di Desa Patokpicis

Program pelatihan pembuatan lilin aromaterapi berbahan dasar minyak jelantah merupakan keterampilan mengolah limbah menjadi produk bernilai jual

Naura Nancy Adellia · 3 minggu lalu
Langkah Mantap Menuju PIMNAS: Tim PKM-PM SERASI Paparkan Hasil Intervensi di PKP2
Ruang Kampus

Langkah Mantap Menuju PIMNAS: Tim PKM-PM SERASI Paparkan Hasil Intervensi di PKP2

Mahasiswa PKM STIKes Widya Dharma Husada terapkan terapi Tree of Life bagi WBS PSBL Harapan Sentosa 2 guna pulihkan konsep diri dan interaksi sosial.

Ferdian Trikusuma· 3 minggu lalu