Balongbesuk – Sampah tidak selalu harus berakhir di tempat pembuangan. Jika dikelola dengan tepat, barang yang dianggap tidak terpakai dapat diubah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Pesan tersebut dikenalkan kepada siswa SD Balongbesuk melalui kegiatan Seminar Eco-Creation, sebuah program pengabdian kepada masyarakat di bidang pendidikan yang memadukan edukasi lingkungan dengan kegiatan praktik kreatif.
Kegiatan yang dilaksanakan pada 30 Juli 2026 di area musala SD Balongbesuk tersebut diikuti sekitar 50 siswa kelas 4 dan 5. Program ini dirancang sebagai respons terhadap kebutuhan siswa dalam memahami jenis sampah, melakukan pemilahan, serta mengetahui cara sederhana untuk memanfaatkan dan mengolah sampah.
Berdasarkan hasil observasi dan koordinasi dengan pihak sekolah, siswa SD Balongbesuk telah memiliki pemahaman mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Namun, pemahaman mengenai pengelolaan sampah masih perlu diperkuat, terutama dalam membedakan sampah organik dan anorganik, melakukan pemilahan dengan benar, serta memanfaatkan sampah agar memiliki nilai guna. Pengetahuan dan keterampilan siswa dalam mengolah sampah organik menjadi kompos juga masih terbatas.
Kondisi tersebut menjadi dasar pelaksanaan Seminar Eco-Creation yang dikemas secara edukatif, interaktif, dan menyenangkan. Materi disampaikan menggunakan bahasa sederhana, gambar, serta contoh sampah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa. Dengan pendekatan tersebut, siswa tidak hanya menerima penjelasan secara teori, tetapi juga diajak terlibat langsung dalam berbagai aktivitas.
Belajar Memilah Sampah secara Langsung
Salah satu kegiatan utama dalam Seminar Eco-Creation adalah pengenalan jenis-jenis sampah dan praktik pemilahan sampah organik serta anorganik. Melalui presentasi interaktif dan tanya jawab, siswa diajak mengenali berbagai jenis sampah yang sering mereka temui di lingkungan sekolah maupun rumah.
Setelah mendapatkan penjelasan, siswa mempraktikkan secara langsung cara memilah sampah berdasarkan jenisnya. Metode praktik dipilih agar siswa tidak hanya memahami pengertian sampah organik dan anorganik, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan tersebut membuat siswa lebih aktif selama kegiatan berlangsung.
Tutup Botol Disulap Menjadi Gantungan Kunci
Tidak berhenti pada kegiatan memilah sampah, Seminar Eco-Creation juga mengajak siswa melihat sampah dari sudut pandang yang berbeda. Tutup botol bekas yang selama ini dianggap sebagai sampah diperkenalkan sebagai bahan yang masih dapat dimanfaatkan.
Dalam kegiatan tersebut, siswa diajak membuat gantungan kunci dari tutup botol bekas. Kegiatan kreatif ini menjadi media pembelajaran bahwa sampah anorganik tertentu masih dapat diolah menjadi barang yang memiliki nilai guna. Selain memberikan pengalaman baru, kegiatan tersebut juga melatih kreativitas siswa sekaligus memperkenalkan konsep sederhana mengenai pemanfaatan kembali barang bekas.
Bagi siswa sekolah dasar, pengalaman mengubah benda bekas menjadi produk sederhana dapat menjadi pembelajaran yang lebih mudah diingat. Mereka tidak hanya mengetahui bahwa tutup botol merupakan sampah, tetapi juga melihat secara langsung bahwa benda tersebut masih dapat dimanfaatkan.
Mengenal Kompos dari Sampah Organik
Selain pemanfaatan sampah anorganik, siswa juga dikenalkan dengan pengolahan sampah organik menjadi kompos melalui kolaborasi dengan bidang pertanian. Siswa mendapatkan penjelasan dan mengikuti praktik sederhana mengenai cara mengolah sampah organik agar tidak langsung dibuang.
Praktik tersebut memberikan pengalaman langsung mengenai salah satu bentuk pemanfaatan sampah yang dapat memberikan manfaat bagi lingkungan. Dengan demikian, siswa memperoleh dua pengalaman sekaligus. Sampah anorganik dapat dimanfaatkan menjadi produk kreatif, sedangkan sampah organik dapat diolah menjadi kompos.







