Blitar - Desa Bakung, Kecamatan Bakung, Kabupaten Blitar, memiliki potensi pertanian besar sebagai penopang utama perekonomian masyarakat. Sekitar 90% penduduknya berprofesi sebagai petani, dengan sistem budidaya yang memanfaatkan lahan persawahan maupun lahan kering (tegalan).

Beragam komoditas telah dibudidayakan seperti padi, jagung, tebu, kelapa, cabai, pisang, ketela, dan bawang merah. Beberapa petani juga mulai mengembangkan komoditas hortikultura seperti semangka dan melon meski masih dalam skala terbatas. Selain komoditas semusim, sektor perkebunan khususnya kelapa yang ditanam secara masif menjadi andalan desa. Potensi ini semakin lengkap dengan melimpahnya limbah kotoran ternak yang berpeluang besar diolah menjadi pupuk organik lokal.

Namun di balik kekayaan alamnya, masyarakat masih menghadapi tantangan struktural. Petani umumnya masih menjual hasil panen utama seperti jagung dan kelapa dalam bentuk bahan mentah tanpa pengolahan lebih lanjut, sehingga nilai ekonomi yang diperoleh terlebih dengan keterbatasan luas lahan garapan menjadi kurang maksimal.

Merespons kondisi tersebut, mahasiswa KKN-PPM Universitas Gadjah Mada (UGM) Unit Seraya Blitar menjalankan sejumlah program pemberdayaan yang berfokus pada penguatan sektor pertanian berkelanjutan, mencakup pemanfaatan limbah organik, pengolahan hasil pertanian unggulan, dan pengembangan inovasi sederhana yang dapat diterapkan secara mandiri.

Untuk mengatasi melimpahnya limbah peternakan, tim KKN diampu oleh Desinta melaksanakan pelatihan pembuatan pupuk bokashi bagi kelompok tani. Peserta memperoleh edukasi mengenai manfaat pupuk organik, teknik fermentasi, hingga praktik langsung pembuatan bokashi menggunakan kotoran ternak, sekam padi, dedak, dan larutan aktivator. Pupuk ini diharapkan menjadi alternatif yang mudah diproduksi petani untuk menyuburkan tanah sekaligus menekan biaya produksi akibat ketergantungan pada pupuk kimia.

Desinta juga memperkenalkan Komposter Ember Tumpuk kepada Kelompok Tani Flamboyan sebagai teknologi sederhana pengelolaan limbah organik rumah tangga. Sistem ember bertingkat ini memungkinkan proses pengomposan berlangsung praktis, menghasilkan kompos padat maupun pupuk organik cair, sekaligus mendukung penerapan pertanian ramah lingkungan.

Pada komoditas kelapa Tenaya Alicia Dianda menginisiasi edukasi pengolahan kelapa menjadi Virgin Coconut Oil (VCO), yang dilaksanakan bersamaan dengan pemeriksaan kesehatan di Balai Desa Bakung. Tim KKN memperkenalkan proses pembuatan VCO beserta manfaatnya sebagai produk kesehatan bernilai jual tinggi, agar masyarakat tidak lagi hanya menjual kelapa mentah secara murah.

Pada komoditas jagung, Hosiana Kirey Radyu menginisiasi edukasi pengolahan jagung menjadi susu jagung di SMK Negeri 1 Bakung, menanamkan wawasan kewirausahaan kepada siswa agar jagung dapat diolah menjadi produk turunan bernilai ekonomis lebih tinggi.

Foto bersama
Foto bersama — dok. Tim KKN-PPM UGM

Rangkaian program ini mendapat sambutan positif terlihat dari keterlibatan aktif peserta dalam diskusi dan praktik. Mbah Toijan, Ketua Kelompok Tani setempat, menyampaikan apresiasinya atas kesediaan mahasiswa terjun langsung memberikan contoh terkait pembuatan pupuk mandiri dan pemanfaatan komoditas desa.

Harapannya Desa Bakung  terus mengembangkan sektor pertaniannya secara berkelanjutan demi memperkuat kesejahteraan masyarakat di masa mendatang.